Esports World Cup 2026 Disebut Pindah dari Riyadh ke Paris Gara-Gara Masalah Ini

Esports World Cup (EWC) 2026, dilaporkan batal digelar di Riyadh, Arab Saudi, karena isu keamanan ini.

oleh IskandarDiterbitkan 18 Mei 2026, 12:00 WIB
Esports World Cup (Dok. esportsworldcup.com)

Liputan6.com, Jakarta - Gelaran turnamen esports akbar, Esports World Cup (EWC) 2026, dilaporkan batal digelar di Riyadh, Arab Saudi. Berdasarkan laporan GamesBeat, pihak penyelenggara memutuskan untuk memindahkan lokasi turnamen ke Paris, Prancis, akibat situasi perang yang kembali memanas di Timur Tengah.

Meski rumor pemindahan lokasi ini telah berembus kencang selama beberapa hari terakhir, pihak EWC dilaporkan baru menyampaikannya secara tertutup kepada para pemangku kepentingan. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi yang dirilis ke publik.

Mengutip Engadget, Senin (18/5/2026), EWC 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung dari Juli hingga Agustus 2026 dengan total hadiah fantastis mencapai lebih dari USD 75 juta (sekitar Rp 1,3 triliun).

Turnamen ini akan mempertandingkan sejumlah game populer dunia, termasuk Valorant, League of Legends, Dota 2, Street Fighter 6, Overwatch, Rocket League, Trackmania, Counter-Strike 2, Call of Duty, dan Fortnite.

Keputusan pemindahan ini dinilai kontras dengan kesuksesan EWC 2025 di Riyadh yang berhasil menyedot perhatian lebih dari 3 juta penggemar serta dihadiri 2.500 pemain dan staf pendukung.

Namun, eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran keamanan yang serius. Kampanye pengeboman yang aktif dan ancaman serangan susulan membuat banyak maskapai penerbangan membatalkan rute ke wilayah tersebut.

 

Isu Sportswashing yang Terus Membayangi

Di luar faktor keamanan, penyelenggaraan EWC di Arab Saudi sebenarnya terus menuai kontroversi sejak edisi pertamanya pada 2024. Turnamen ini diorganisasi oleh lembaga nirlaba di bawah Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi--dana kekayaan kedaulatan yang gencar berinvestasi di sektor olahraga, game, dan hiburan global.

Sejumlah badan internasional dan pengawas hak asasi manusia (HAM) berulang kali menuduh Arab Saudi melakukan praktik sportswashing.Sportswashing sendiri adalah praktik penggunaan olahraga oleh negara, perusahaan, atau individu untuk memperbaiki reputasi atau mengalihkan perhatian publik dari skandal, kasus hak asasi manusia yang buruk, maupun kerusakan lingkungan.

Pemerintah Saudi dinilai memanfaatkan gelaran olahraga dan esports internasional untuk memperbaiki citra negara di mata dunia, di tengah sorotan tajam atas dugaan pelanggaran HAM berat yang terus berlanjut.

Gelombang penolakan dari komunitas game pun semakin menguat pada edisi 2025. Pengembang game GeoGuessr memilih mundur setelah para kreator peta menarik karya mereka sebagai bentuk protes terhadap sportswashing.

Selain itu, atlet Street Fighter 6 ternama, Christopher "ChrisCCH" Hancock, juga menolak bertanding meski telah lolos kualifikasi. 

Tekanan Terhadap Riot Games

Tekanan serupa dialami oleh Riot Games, pengembang League of Legends dan Valorant, serta kreator konten populer Marc "Caedrel" Lamont.

Keduanya harus memberikan klarifikasi dan pembenaran kepada basis penggemar yang kecewa atas partisipasi mereka dalam turnamen tersebut. Di sisi lain, besarnya nominal hadiah membuat banyak tim dan pemain merasa tidak memiliki pilihan selain tetap ikut berkompetisi.

Rencana awal EWC memang memproyeksikan turnamen ini untuk digelar di berbagai kota di luar Riyadh dengan skema biaya tuan rumah (hosting fees) yang tinggi.

Kendati demikian, detail kesepakatan dan kepastian mengenai perpindahan mendadak ke Paris untuk tahun ini masih belum jelas. Pihak EWC sejauh ini belum memberikan keterangan resmi saat dihubungi untuk klarifikasi lebih lanjut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya