Liputan6.com, Bangka: Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Salah satu daerah yang memiliki kultur yang unik adalah Pulau Bangka, Provinsi Bangka-Belitung. Di sana, budayanya masih lekat dengan budaya negeri Cina. Jadi tak heran jika, di sana sejumlah bangunan tua serta tempat wisata khas Cina bertebaran. Salah satu bangunan tua peninggalan budaya Cina di Bangka yang menarik perhatian adalah Kelenteng Fuk Tet Che.
Tempat sembahyang masyarakat Tionghoa--mayoritas penduduk yang mendiami Pulau Bangka--ini adalah kelenteng tertua dan terbesar yang terdapat di Kecamatan Belinyu, sekitar 30 kilometer dari Kota Pangkalpinang, ibu kota Pulau Bangka. Di dalam kelenteng ini terdapat ornamen-ornamen Cina sebagai dekorasi ruangan, seperti relief dan lukisan asli dari cat air yang menggambarkan negeri Tiongkok. Setiap relief dan lukisan-lukisan ini mengandung makna atau cerita tentang kehidupan manusia. Di kelenteng yang berusia lebih dari 200 tahun inilah, biasanya masyarakat keturunan Cina di Bangka meminta kemakmuran, peruntungan, dan perlindungan kepada dewa-dewa mereka.
Soal tempat tamasya, Bangka mempunyai kawasan wisata bernama Pakak Tiang. Di sana berdiri bangunan khas Cina yang dibangun di atas lahan bekas pertambangan timah. Di sekitar bangunan tersebut terdapat kolam ikan yang berisi berbagai macam ikan hias, seperti ikan mas, mujair, dan ikan nila. Para pengunjung diperbolehkan untuk memberi makan ikan-ikan air tawar tersebut.
Pulau Bangka juga punya pantai yang sangat indah, yakni Pantai Parai Tenggiri. Pantai yang dapat dijangkau dengan perjalanan selama 30 menit dari Pangkalpinang ini dulunya bernama Pantai Ha Kok. Namun kemudian nama ini diubah oleh Presiden Soekarno yang kala itu diasingkan di Bangka oleh Belanda. Di pantai berpasir putih itu para wisatawan dapat melakukan berbagai macam olah raga air. Bagi yang gemar menyelam, pantai tersebut juga menyediakan taman laut yang kedalamannya hanya sekitar 1,5 meter.
Selain terkenal dengan peninggalan sejarah dan tempat-tempat wisata, Pulau Bangka juga kondang dengan berbagai macam hidangannya yang serba ikan. Yang paling terkenal di sana adalah kerupuk kemplang, otak-otak, dan empek-empek. Nah, penganan inilah yang biasanya tak lupa dibawa pulang para wisatawan sebagai oleh-oleh.(LIA/Esther Mulyanie dan Binsar Rahardian Sukasno)
Tempat sembahyang masyarakat Tionghoa--mayoritas penduduk yang mendiami Pulau Bangka--ini adalah kelenteng tertua dan terbesar yang terdapat di Kecamatan Belinyu, sekitar 30 kilometer dari Kota Pangkalpinang, ibu kota Pulau Bangka. Di dalam kelenteng ini terdapat ornamen-ornamen Cina sebagai dekorasi ruangan, seperti relief dan lukisan asli dari cat air yang menggambarkan negeri Tiongkok. Setiap relief dan lukisan-lukisan ini mengandung makna atau cerita tentang kehidupan manusia. Di kelenteng yang berusia lebih dari 200 tahun inilah, biasanya masyarakat keturunan Cina di Bangka meminta kemakmuran, peruntungan, dan perlindungan kepada dewa-dewa mereka.
Soal tempat tamasya, Bangka mempunyai kawasan wisata bernama Pakak Tiang. Di sana berdiri bangunan khas Cina yang dibangun di atas lahan bekas pertambangan timah. Di sekitar bangunan tersebut terdapat kolam ikan yang berisi berbagai macam ikan hias, seperti ikan mas, mujair, dan ikan nila. Para pengunjung diperbolehkan untuk memberi makan ikan-ikan air tawar tersebut.
Pulau Bangka juga punya pantai yang sangat indah, yakni Pantai Parai Tenggiri. Pantai yang dapat dijangkau dengan perjalanan selama 30 menit dari Pangkalpinang ini dulunya bernama Pantai Ha Kok. Namun kemudian nama ini diubah oleh Presiden Soekarno yang kala itu diasingkan di Bangka oleh Belanda. Di pantai berpasir putih itu para wisatawan dapat melakukan berbagai macam olah raga air. Bagi yang gemar menyelam, pantai tersebut juga menyediakan taman laut yang kedalamannya hanya sekitar 1,5 meter.
Selain terkenal dengan peninggalan sejarah dan tempat-tempat wisata, Pulau Bangka juga kondang dengan berbagai macam hidangannya yang serba ikan. Yang paling terkenal di sana adalah kerupuk kemplang, otak-otak, dan empek-empek. Nah, penganan inilah yang biasanya tak lupa dibawa pulang para wisatawan sebagai oleh-oleh.(LIA/Esther Mulyanie dan Binsar Rahardian Sukasno)