Modal Rp 300 Ribu, Rena Bangun Maminom Snack hingga Bisa Beli Rumah dan Tanah

Tangis Rena Regina (35) pecah setelah mengucapkan kalimat itu. Beberapa kali dia menghentikan ucapannya sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi.

oleh SupriatinDiterbitkan 17 Mei 2026, 08:57 WIB
Owner Maminom Snack, Rena Regina (35)

Liputan6.com, Jakarta -Dulu kami bukan siapa-siapa, sekarang sudah punya rumah, punya tanah, bisa sekolahin anak di pondok.”

Tangis Rena Regina (35) pecah setelah mengucapkan kalimat itu. Beberapa kali dia menghentikan ucapannya sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi.

Rena mengenang perjalanannya membangun Maminom Snack. Usaha camilan rumahan yang menjual berbagai makanan ringan seperti mie lidi hingga basreng (bakso goreng).

Sebelum memiliki usaha sendiri, Rena merupakan ibu rumah tangga yang kebingungan mencari pekerjaan tanpa harus meninggalkan anak-anaknya di rumah. Dia sempat bekerja freelance bersama temannya di jasa katering kawasan Jakarta setiap akhir pekan.

Namun pekerjaan itu tidak bertahan lama. Anak-anaknya yang masih kecil membuat Rena merasa tidak tega terlalu sering bekerja di luar rumah. Akhirnya dia memilih mencari pekerjaan yang lebih dekat dengan rumah.

Rena sempat menerima pekerjaan mencuci dan menyetrika pakaian milik tetangga selama sekitar enam hingga tujuh bulan.

“Tapi saya pikir capek juga,” cerita Rena saat berbincang dengan Liputan6.com di tempat usahanya kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/5/2026).

Dari situ, Rena mulai berpikir untuk mencoba usaha sendiri. Saat camilan mie lidi sedang ramai diminati pada 2018, Rena mencoba membeli bahan baku lima kilogram dari Shopee.

Modal awalnya hanya sekitar Rp 300 ribu. Dia menggoreng sendiri camilan itu di rumah, lalu mencoba memasarkannya ke Sukabumi melalui bantuan saudara.

Menurut Rena, kawasan Sukabumi cukup potensial karena banyak pabrik dan pekerja yang menjadi pasar camilan murah. Dari sana, pesanan mulai berdatangan. Awalnya hanya sekitar 20 boks, lalu meningkat menjadi 50, 100, hingga 200 sekali kirim ke kawasan Parungkuda, Sukabumi.

“Awalnya cuma mie lidi,” katanya.

Pasarnya kemudian meluas hingga Jakarta. Beberapa pelanggan di kawasan Sudirman mulai meminta variasi isi dalam satu kemasan. Tidak hanya mie lidi, tetapi juga makaroni dan basreng yang saat itu sedang populer.

Rena pun mulai mencoba membuat basreng sendiri. Namun percobaan awalnya beberapa kali gagal.

“Awalnya tebal dan keras,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dia terus mencoba berbagai cara sampai akhirnya menemukan metode yang lebih pas. Bahan basreng dibekukan terlebih dahulu di freezer, lalu dipotong tipis menggunakan cutter agar hasilnya lebih renyah.

Sejak itu, produk buatannya mulai berkembang. Dalam satu kemasan, Rena mencampur berbagai jenis camilan sesuai permintaan pelanggan. Perlahan reseller mulai bermunculan dari berbagai daerah seperti Karadenan hingga Tajurhalang.

“Sekali ambil bisa 100 sampai 200 boks,” katanya.

 

Jatuh Bangun Saat Pandemi Covid-19

Owner Maminom Snack, Rena Regina (35)

Pandemi Covid-19 sempat membuat usaha Rena jatuh cukup dalam. Penjualan yang biasanya ramai, mendadak sepi. Rena dan suaminya pun mulai memutar otak agar produk mereka tetap terjual.

Kemasan boks diganti menjadi standing pouch dengan ukuran lebih kecil. Harga jualnya pun ditekan hingga Rp 5 ribu per bungkus agar tetap bisa dibeli masyarakat. Usaha Rena perlahan bangkit.

Suatu hari, teman Rena yang memiliki jaringan waralaba toko minuman teh kekinian dengan konsep kemasan jumbo menawarkan bantuan. Temannya meminta Rena mencoba menitipkan produk basreng di tiga toko miliknya.

Awalnya Rena hanya mengisi sedikit produk di tiap toko. Namun dari mulut ke mulut, produk itu mulai dikenal pemilik toko lainnya yang berada dalam jaringan waralaba tersebut.

“Jadi nyebar sendiri,” ujarnya.

Perlahan produk basreng ukuran Rp 5 ribu buatannya mulai masuk ke sekitar 12 toko minuman teh kekinian. Rena menjual produk itu ke reseller sekitar Rp 4 ribu per bungkus, lalu dijual kembali Rp 5 ribu oleh toko.

Dari sana, usahanya mulai kembali bergerak setelah sempat terpukul pandemi. Tak lama kemudian, pemilik toko minuman teh kekinian itu kembali memberi masukan agar Rena membuat produk camilan lain dengan harga yang tetap ramah untuk anak sekolah. Rena pun mulai memproduksi berbagai snack campuran dengan harga serupa.

Menurutnya, strategi harga murah menjadi salah satu cara agar produknya bisa masuk ke lebih banyak toko dan diterima pasar.

“Yang penting terjangkau dulu,” katanya.

Di saat yang sama, Rena mulai memahami bahwa untuk masuk ke toko yang lebih besar, produknya harus memiliki legalitas yang lengkap. Dia kemudian mengikuti berbagai pelatihan usaha dan mulai mengurus sertifikasi halal hingga hak kekayaan intelektual (HAKI).

“Kalau nggak punya legalitas, toko juga takut masukin produk,” ujarnya.

Langkah itu membuka jalan baru. Salah satu toko besar pertama yang menerima produknya adalah Redbox Cimanggis. Di toko itu, penjualan produknya cukup tinggi hingga omzet mingguan mencapai sekitar Rp 2 juta.

Saat itu, semangat Rena kembali tumbuh. Dia mulai berpikir bagaimana caranya agar produknya bisa masuk ke lebih banyak toko modern dan pusat frozen food.

Berkat KUR BRI, Bisa Beli Rumah dan Tanah

Aktivitas Produksi di Usaha Maminom Snack

Saat usahanya mulai berkembang setelah pandemi, Rena berkenalan dengan layanan KUR (Kredit Usaha Rakyat) BRI. Pinjaman pertama yang dia dapatkan sebesar Rp 50 juta.

Dana tersebut tidak langsung dipakai untuk memperbesar produksi. Rena menggunakannya lebih dulu untuk memenuhi kebutuhan dasar produksi yang sebelumnya serba terbatas.

Saat itu Rena bahkan belum memiliki freezer tambahan, kompor memadai, maupun peralatan produksi lainnya. Di rumah, Rena hanya memiliki satu tabung gas untuk memasak seluruh pesanan camilan.

Dari dana KUR itu, Rena mulai membeli freezer, menambah kompor, hingga beberapa mesin pendukung produksi.

“Jadi buat alat-alat kebutuhan usaha dulu,” ujarnya.

Setelah usaha berkembang dengan bantuan KUR, Rena dan suaminya kembali mengajukan pinjaman lanjutan melalui program Kupra BRI. Saat itu mereka mendapatkan tambahan modal sekitar Rp 70 juta.

Beberapa waktu kemudian, pinjaman kembali ditambah melalui top up hingga mencapai sekitar Rp 90 juta.

Tambahan modal dari BRI memberi perubahan cukup besar. Sebelum mendapat tambahan modal, stok barang mereka masih sangat terbatas. Belanja bahan baku hanya satu hingga dua bal di pasar.

Setelah memiliki freezer dan modal tambahan, mereka mulai bisa membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar dan bekerja sama langsung dengan pabrik.

“Sekarang sudah bisa langsung dikirim dari pabrik,” ujarnya.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan produksi dua freezer miliknya, Rena mengaku bisa menerima kiriman hingga sekitar 30 bal bahan baku sekaligus.

Perubahan itu ikut memperluas pasar usahanya. Produk camilan mereka mulai masuk ke lebih banyak toko di Bogor, Bekasi, hingga Sukabumi. Rena bahkan mulai memiliki rencana memperluas pemasaran ke Tangerang.

Sebelum mendapat tambahan modal usaha, omzet harian Rena hanya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Artinya, dalam 30 hari hanya sekitar Rp 9 juta.

“Awal-awal paling segitu,” katanya.

Namun setelah usaha berkembang dan distribusi produk semakin luas, omzet meningkat. Kini, omzet bulanan bisa mencapai sekitar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per bulan.

Menurut Rena, salah satu produk yang cukup membantu peningkatan penjualan adalah basreng berbentuk koin yang mulai diproduksi setelah mendapat tambahan modal usaha.

Dari hasil usaha tersebut, Rena dan keluarganya kini bisa memiliki rumah, tanah di kampung halaman di Bogor, hingga menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren.

Asal Usul Nama Maminom Snack

Produk Basreng Maminom Snack

Nama brand Maminom Snack tak muncul begitu saja. Rena menceritakan, nama itu datang dari anak keduanya bernama Naura.

Saat sekolah di Bimba, Naura belum bisa mengucapkan namanya sendiri dengan jelas. Yang keluar justru “Nounou” dan “Nomnom”. Teman-teman di sekolah kemudian memanggilnya Nomnom.

Lama-lama panggilan itu melekat pada Naura. Dari situlah ide menjadikannya sebagai nama brand muncul.

“Yaudah, pakai Nomnom aja,” pikir Rena saat itu.

Seorang teman yang bisa desain kemudian membantu Rena membuat logo. Konsepnya dibuat bergaya kartun Jepang. Hasilnya cocok dan langsung dipakai Rena.

Nama Nomnom pun mulai dikenal banyak orang. Brand itu perlahan berkembang dan makin sering disebut pelanggan. Namun saat hendak didaftarkan ke HAKI, muncul kendala. Nama Nomnom ternyata sudah dipakai pihak lain sehingga tidak bisa didaftarkan.

Rena sempat bingung mencari jalan keluar. Di satu sisi, nama Nomnom sudah terlanjur melekat. Sampai akhirnya ada saran untuk menambahkan unsur lain agar tetap membawa identitas lama.

“Yaudah, pakai Maminom aja. Maksudnya makanan minuman. Kalau nanti suatu saat jual minuman juga masih nyambung,” kata Rena meniru saran yang diterima waktu itu.

Akhirnya dipilihlah nama Maminom. Kata “nom” tetap dipertahankan karena sudah akrab di telinga pelanggan. Meski begitu, ada cerita lucu yang sering terjadi setelah brand itu dikenal. Banyak reseller yang salah paham dan mengira “Maminom” adalah nama panggilan Rena. Dia jadi sering dipanggil “Mami”.

“Padahal mamin itu singkatan, bukan nama aku,” ujarnya sambil tertawa.

Kredit UMKM BRI Tembus Rp 1.211 Triliun

BRI membuka layanan Weekend Banking di 68 Kantor BRI sepanjang bulan September 2025.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI tetap tumbuh solid pada awal 2026. Hingga akhir Triwulan I 2026, total kredit dan pembiayaan BRI tercatat mencapai Rp 1.562 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026), Hery menegaskan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung utama pembiayaan perseroan.

“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery.

Menurut dia, BRI juga terus memperkuat perannya sebagai penyalur utama KUR di Indonesia sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.

Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian menjadi penerima pembiayaan terbesar dengan nilai mencapai Rp 19,86 triliun atau sekitar 42,16 persen dari total penyaluran.

Hery mengatakan penyaluran pembiayaan tersebut tidak hanya mencerminkan luasnya jangkauan layanan BRI, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan usaha produktif di berbagai daerah.

“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” katanya.

Selain pembiayaan, BRI juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan untuk pelaku UMKM. Program tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan kapasitas usaha masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai daerah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya