Browser Bersih Belum Tentu Aman, Pemenang Swift Student Challenge Ungkap Alasannya

Pemenang Apple Swift Student Challenge 2026 asal Indonesia, mengungkap kenapa menghapus cookies dan riwayat browser belum cukup untuk melindungi privasi digital

oleh YusliansonDiterbitkan 16 Mei 2026, 15:02 WIB
Pemenang Apple Swift Student Challenge Ungkap Kenapa Browser Bersih Belum Tentu Aman. (Doc: Apple)

Liputan6.com, Jakarta - Pemenang Swift Student Challenge 2026 asal Indonsia ini mengungkap, kenapa menghapus cookies dan riwayat browser belum tentu cukup untuk melindungi privasi digital pengguna internet.

Jutaan orang di dunia termasuk pengguna internet di Indonesia setiap harinya sering mengklik “Accept All” ketika banner cookies di situs muncul tanpa berpikir panjang.

Mereka pun sering kali beranggapan merasa lebih aman di internet setelah menghapus cookies dan riwayat browser. Namun, tanpa disadari hal tersebut menjadi salah satu miskonsepsi berbahaya dalam isu privasi digital.

Hal ini diungkap oleh Ghazali Ahlam Jazali, salah satu Distinguished Winner dari Indonesia dalam Swift Student Challenge 2026. Ia percaya, pemahaman tersebut justru menjadi celah paling berbahaya dalam keamanan digital seseorang.

“Dalam pandangan saya, miskonsepsi paling berbahaya adalah anggapan yang mempertahankan privasi pengguna selalu berada di posisi menang,” ujar Ghazali kepada tim Liputan6.com dalam briefing online Swift Student Challenge 2026, Jumat (16/5/2026).

Ia menambahkan, “mereka yang melek IT sekalipun banyak mengira, menciptakan metode pelacakan baru itu jauh lebih sulit daripada bertahan dari metode tersebut.”

Kenyataannya tidak sesederhana itu. Ghazali menjelaskan, ada ketimpangan insentif mendasar. Di satu sisi, ada pasar besar untuk data pribadi yang mendorong pemanen data terus berinovasi dengan motivasi finansial kuat.

Di sisi lain, upaya mempertahankan privasi pengguna sebagian besar berjalan atas dasar goodwill, bukan uang. “Akibatnya, mekanisme pertahanan berkembang jauh lebih lambat,” katanya.

“Ambil contoh canva fingerprinting. Ini bukan metode atau teknik baru. Tapi, sebagian besar browser masih belum memiliki pertahanan memadai terhadapnya. Dan teknik disebut favicon-based supercookies, alat pertahanan yang kita miliki saat ini masih sangat terbatas,” jelasnya.

Favicon-based supercookies adalah metode pelacakan yang menyembunyikan identifikasi unik di dalam ikon kecil yang muncul di tab browser.

“Contohnya, logo situs web selama ini tidak pernah dicurigai siapapun. Berbeda dari cookies biasa, supercookies ini tidak ikut terhapus ketika pengguna membersihkan data browser mereka,” paparnya.

Ancaman siber semacam ini yang mendorong pria asal Makassar tersebut membuat aplikasi edukasi berjudul They Have Your Fingerprint, dan memasukkan karyanya sebagai entri Swift Student Challenge 2026.

 

They Have Your Fingerprint

They Have Your Fingerprint!, aplikasi buatan pemenang Apple Swift Student Challenge 2026 terkait privasi di internet. (Doc: Apple)

Menariknya, alih-alih menjelaskan ancaman siber dari sudut pandang korban, ia membalik posisi pengguna menjadi pelacak (tracker) itu sendiri.

Menurutnya, orang cenderung lebih mudah mengabaikan langkah pencegahan jika tidak memahami secara detail ancaman yang sedang dihadapi. Karena itu, ia memilih pendekatan “know your enemy” agar pengguna lebih memahami cara kerja pelacakan digital.

Selain konsep, Ghazali juga memperhatikan bentuk penyampaian aplikasi. Ia memakai gaya dokumen yang familiar bagi pengguna. Misalnya, saat menjelaskan spesifikasi perangkat keras, ia menampilkan informasi seperti lembar spesifikasi yang biasa ditemukan di kotak produk elektronik.

Semua elemen dokumen dalam aplikasi itu dibangun menggunakan SwiftUI. Ghazali menyebut hampir semua teks dan gambar disusun secara manual lewat kode.

Perjalanan Ghazali di Apple Developer Academy juga memengaruhi cara ia membangun aplikasi ini. Ia juga mengaitkan pembuatan aplikasi ini dengan pengalaman mengikuti kursus keamanan siber di University of Pennsylvania.

Kala itu, sebagian besar tugas justru mengharuskan mahasiswa menyerang sistem dikontrol.

"Ketika kita hanya diajarkan teknik bertahan, kita kehilangan banyak nuansa dari cara berpikir penyerang," jelasnya. "Saya menemukan bahwa orang lebih mudah mengabaikan langkah-langkah perlindungan jika mereka tidak benar-benar memahami apa yang sedang mereka hadapi."

Aplikasi ini kini sedang dipoles untuk dirilis di App Store dalam waktu dekat.

Apple Undang Dua Mahasiswa Indonesia ke WWDC 2026

Dua Mahasiswa Indonesia Masuk 50 Distinguished Winner Apple Swift Student Challenge 2026. (Liputan6.com/ Yuslianson)

Apple resmi mengumumkan para pemenang Swift Student Challenge 2026. Dari 350 pemenang dari 37 negara dan wilayah di dunia, hanya 50 peserta terpilih sebagai Distinguished Winner.

Menariknya, dua di antara para Distinguished Winner datang dari Indonesia. Mereka adalah Ghazali Ahlam Jazali dan Francesco Emmanuel Setiawan. Mahasiswa muda yang keduanya merupakan lulusan Apple Developer Academy.

Sebagai Distinguished Winner, keduanya berkesempatan untuk mengikuti pengelaman khusus selama tiga hari di Apple Park saat pekan Worldwide Developers Conference atau WWDC 2026 digelar.

Dalam sesi bersama media secara online, Enwei Xie, Senior Director, Worldwide Developer Relations Apple, menjelaskan filosofi di balik program tahunan perusahaan berbasis di Cupertino tersebut.

“Swift Student Challenge benar-benar dirancang untuk mendukung dan mengangkat generasi berikutnya dari desainer, developer, dan entrepreneur,” kata Enwei Xie.

Menurutnya, para pemenang setiap tahun datang dengan sesuatu yang lebih dari sekadar kecakapan teknis. Mereka juga membawa empati, dan menggunakannya untuk menjawab persoalan nyata di sekitar mereka.

“Coding adalah bahasa universal, dengan potensi luar biasa untuk memberdayakan orang dan membantu mereka membangun dunia yang lebih baik,” ujar Enwei.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya