Liputan6.com, Jakarta: Keyakinan jemaat Pondok Nabi tentang hari kiamat yang jatuh pada 10 November 2003 terbukti salah. Tapi toh, para pengikutnya masih bersikukuh ramalan itu benar. Sebab, mereka mengklaim hal itu sebagai wahyu yang diturunkan langsung oleh Yesus Kristus, lewat berbagai mimpi dan penglihatan alam roh. "Ini cuma nubuatan yang tertunda," tegas Anton Katmaerubun, pengikut kelompok Pondok Nabi asal Sorong, Papua. Pernyataan itu disampaikan Anton, saat berdialog dengan Rosianna Silalahi di Studio SCTV Jakarta, Selasa (11/11) petang.
Anton mengaku menerima wahyu soal hari kiamat sejak beberapa tahun silam. Ketika itu, dia masih tinggal di Sorong dan belum bertemu dengan Mangapin Sibuea, pemimpin sekte Pondok Nabi yang kini ditahan di Rumah Tahanan Kebon Waru, Bandung, Jawa Barat. Awalnya, Anton mengaku hanya diberi "bisikan" bahwa hari kiamat terjadi pada 2003. "Waktu itu saya belum tahu tanggalnya," jelas Anton dengan nada yakin. Baru setelah bertemu Mangapin di Bandung, dia mendapat konfirmasi bahwa hari kiamat akan terjadi pada 10 November tepatnya pukul 15.00 WIB.
Bagaimana tidak yakin? Informasi yang diyakini Anton sebagai wahyu dari Tuhan itu datang berikut ayat-ayat Alkitab. Sebut saja antara lain I Tessalonika 5. Menurut tafsiran Anton dan sektenya, ayat-ayat dalam surat itu menerangkan bahwa saat ini ada dua kelompok orang Kristen. Yaitu Kristen siang dan Kristen malam. Nah, mereka yakin telah dipilih Tuhan sebagai golongan pertama. Buktinya, mereka-lah yang diberi pewahyuan soal waktu kiamat. Sedangkan yang lain tidak. "Golongan Kristen gelap itu yang lebih mementingkan hal-hal duniawi," tambah Anton.
Lebih rinci Anton menjelaskan, ayat-ayat lain yang menjadi penegasan atas nubuatan kiamat adalah Yesaya 24. Dalam surat itu dijelaskan tentang tanda-tanda datangnya Hari Tuhan yakni bumi yang tandus dan penduduknya yang semakin cemar. Di mana-mana manusia melanggar undang-undang, mengubah ketetapan, dan mengingkari janji. Rujukan lain yang dipakai kelompok Pondok Nabi yakni Yohanes Pasal 3. Dalam surat itu diuraikan bahwa Tuhan akan memakai orang-orang utusan-Nya untuk menyampaikan berita soal kedatangan hari kiamat. "Ayat-ayat itulah yang saya dapat. Dan pendeta Sibuea [Mangapin] juga dapat," beber Anton.
Demi mematuhi perintah yang diyakini dari Tuhan, Anton meninggalkan keluarganya di Sorong [baca: Kelompok Pondok Nabi Bertahan di Gereja Bethel]. Pegawai negeri ini pun lantas menjual semua harta bendanya untuk diserahkan pada Mangapin. Menurut Anton, semua pengikut sekte ini harus melakukan hal yang sama. "Uang itu untuk kepentingan semua jemaat Pondok Nabi. Jadi, kami anggap untuk Tuhan juga," kata Anton.
Dalam kesempatan ini, Anton juga menepis imbauan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja se-Indonesia Nathan Setiabudi, agar umat Kristen berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu di akhir zaman. Dia menegaskan, Mangapin yang diyakini sebagai Rasul Paulus II bukan nabi palsu. "Justru orang yang nggak mendengar suara Allah itulah yang nabi palsu," balas Anton.
Perkara salah-tidaknya "suara" yang didengar pemuka-pemuka sekte Pondok Nabi, Anton berkilah, itu hanya cobaan. "Kami tetap percaya bahwa Tuhan itu ada," jelas Anton.(MTA)
Anton mengaku menerima wahyu soal hari kiamat sejak beberapa tahun silam. Ketika itu, dia masih tinggal di Sorong dan belum bertemu dengan Mangapin Sibuea, pemimpin sekte Pondok Nabi yang kini ditahan di Rumah Tahanan Kebon Waru, Bandung, Jawa Barat. Awalnya, Anton mengaku hanya diberi "bisikan" bahwa hari kiamat terjadi pada 2003. "Waktu itu saya belum tahu tanggalnya," jelas Anton dengan nada yakin. Baru setelah bertemu Mangapin di Bandung, dia mendapat konfirmasi bahwa hari kiamat akan terjadi pada 10 November tepatnya pukul 15.00 WIB.
Bagaimana tidak yakin? Informasi yang diyakini Anton sebagai wahyu dari Tuhan itu datang berikut ayat-ayat Alkitab. Sebut saja antara lain I Tessalonika 5. Menurut tafsiran Anton dan sektenya, ayat-ayat dalam surat itu menerangkan bahwa saat ini ada dua kelompok orang Kristen. Yaitu Kristen siang dan Kristen malam. Nah, mereka yakin telah dipilih Tuhan sebagai golongan pertama. Buktinya, mereka-lah yang diberi pewahyuan soal waktu kiamat. Sedangkan yang lain tidak. "Golongan Kristen gelap itu yang lebih mementingkan hal-hal duniawi," tambah Anton.
Lebih rinci Anton menjelaskan, ayat-ayat lain yang menjadi penegasan atas nubuatan kiamat adalah Yesaya 24. Dalam surat itu dijelaskan tentang tanda-tanda datangnya Hari Tuhan yakni bumi yang tandus dan penduduknya yang semakin cemar. Di mana-mana manusia melanggar undang-undang, mengubah ketetapan, dan mengingkari janji. Rujukan lain yang dipakai kelompok Pondok Nabi yakni Yohanes Pasal 3. Dalam surat itu diuraikan bahwa Tuhan akan memakai orang-orang utusan-Nya untuk menyampaikan berita soal kedatangan hari kiamat. "Ayat-ayat itulah yang saya dapat. Dan pendeta Sibuea [Mangapin] juga dapat," beber Anton.
Demi mematuhi perintah yang diyakini dari Tuhan, Anton meninggalkan keluarganya di Sorong [baca: Kelompok Pondok Nabi Bertahan di Gereja Bethel]. Pegawai negeri ini pun lantas menjual semua harta bendanya untuk diserahkan pada Mangapin. Menurut Anton, semua pengikut sekte ini harus melakukan hal yang sama. "Uang itu untuk kepentingan semua jemaat Pondok Nabi. Jadi, kami anggap untuk Tuhan juga," kata Anton.
Dalam kesempatan ini, Anton juga menepis imbauan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja se-Indonesia Nathan Setiabudi, agar umat Kristen berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu di akhir zaman. Dia menegaskan, Mangapin yang diyakini sebagai Rasul Paulus II bukan nabi palsu. "Justru orang yang nggak mendengar suara Allah itulah yang nabi palsu," balas Anton.
Perkara salah-tidaknya "suara" yang didengar pemuka-pemuka sekte Pondok Nabi, Anton berkilah, itu hanya cobaan. "Kami tetap percaya bahwa Tuhan itu ada," jelas Anton.(MTA)