Daftar Nama 14 Korban Tewas Kecelakaan Bus dan Truk Tangki di Muratara Sumsel

Sebanyak 14 dari 17 korban tewas kecelakaan bus ALS dan truk tangki di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) berhasil teridentifikasi.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 15 Mei 2026, 20:52 WIB
Kecelakaan Maut Bus ALS dan Truk Tangki di Jalan Lintas Sumatera. (Dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri berhasil mengidentifikasi 14 dari 17 korban tewas kecelakaan bus ALS dan truk tangki yang terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.

“Dari 17 jenazah korban kecelakaan bus ALS, sebanyak 14 jenazah telah berhasil teridentifikasi,” kata Wakapolda Sumatera Selatan Brigjen Pol Rony Samtana, dikutip dari Antara, Jumat (15/5/2026).

Adapun korban yang telah teridentifikasi melalui hasil uji DNA di laboratorium forensik, sebagai berikut:

1. Aldy Sulistiawan (L)

2. Syamsiah Bachri (P)

3. Zulpan Efendi (L)

4. Agustina Maharani (P) istri Aldy Sulistiawan

5. Martoni (L)

6. Aryanto (L)

7. Klinton Wardana Marbun (L)

8. Bahrul Ulum (L)

9. Syafruddin Nasution (L)

10. Alif Supriyatin (L), dan

11. Budiyanto (L).

Berdasarkan data sekunder, tiga korban lainnya yang juga telah teridentifikasi adalah:

1. Abella Zea Septiana (anak dari Aldy Sulistiawan)

2. Zulkifli

3. Sukono.

“Sampai saat ini kami masih melakukan proses identifikasi terhadap tiga jenazah lainnya yang belum teridentifikasi,” kata Rony.

Seluruh jenazah yang telah teridentifikasi kemudian diserahkan kepada pihak keluarga di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang.

 

Identifikasi Korban Sempat Terkendala

Kecelakaan Maut Bus ALS vs Truk Tangki (Dok: Antara)

Tim Disaster Victim Identification Pusdokkes Polri mengandalkan pemeriksaan deoxyribonucleic acid atau DNA dari sampel tulang untuk mengidentifikasi 17 korban tewas dalam kecelakaan bus ALS dan truk tangki BBM di Kabupaten Musi Rawas Utara.

Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Kombes Wahyu Hidayati mengatakan, mayoritas sampel diambil dari bagian tulang yang masih berwarna kemerahan. Langkah itu dilakukan karena jaringan lunak korban sudah rusak akibat suhu panas tinggi saat bus terbakar.

“Dalam kondisi sekarang ini, kita mengambil tulang. Kita juga memilih tulang yang masih merah, yang kira-kira masih ada DNA-nya. Karena kalau tulangnya sudah jadi arang, tidak bisa,” katanya saat konferensi pers di Palembang, Sabtu (9/5/2026), seperti dilansir dari Antara.

Wahyu menjelaskan, proses identifikasi melalui ciri fisik maupun barang pribadi korban mengalami kendala. Sebab, sebagian besar properti milik korban terlepas dari tubuh saat kecelakaan yang berujung kebakaran tersebut terjadi.

Tak hanya itu, metode identifikasi melalui data gigi yang biasanya menjadi pembanding utama juga sulit dilakukan. Kondisi gigi para korban disebut telah rapuh bahkan hancur akibat besarnya panas api.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya