Liputan6.com, Jakarta - Metaplanet, perusahaan publik pemegang Bitcoin terbesar di Jepang, melaporkan kerugian besar pada kuartal I 2026. Penurunan harga Bitcoin menjadi faktor utama yang menekan kinerja perusahaan.
Dikutip dari cryptopotato, Kamis (14/5/2026), Metaplanet mencatat rugi bersih sebesar 114,5 miliar yen atau sekitar USD 725,6 juta. Jika dirupiahkan maka kerugiannya mencapai Rp 12,64 triliun (estimasi kurs Rp 110 per yen). Kerugian tersebut sebagian besar berasal dari rugi valuasi Bitcoin.
Advertisement
Meski mencatat rugi besar, Metaplanet sebenarnya masih membukukan pertumbuhan bisnis operasional yang cukup kuat.
Penjualan bersih perusahaan naik 251,1 persen secara tahunan menjadi 3,08 miliar yen atau sekitar USD 19 juta. Laba operasional juga melonjak 282,5 persen menjadi 2,27 miliar yen atau sekitar USD 14,3 juta.
Pendapatan dari bisnis Bitcoin Income Generation, yang mencakup strategi premi opsi berbasis derivatif Bitcoin, juga meningkat tajam menjadi 2,54 miliar yen.
Metaplanet diketahui terus agresif menambah kepemilikan Bitcoin dalam beberapa bulan terakhir meskipun pasar kripto masih bergerak fluktuatif.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Kepemilikan Bitcoin Terbesar di Luar Amerika
Hingga akhir Maret 2026, total kepemilikan Bitcoin Metaplanet mencapai 40.177 BTC. Jumlah itu meningkat dibanding posisi akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar 35.102 BTC.
Melalui capaian tersebut, Metaplanet mempertahankan posisinya sebagai perusahaan tercatat dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di luar Amerika Serikat.
Untuk mendukung pembelian Bitcoin tambahan, perusahaan terus menghimpun modal melalui penerbitan saham biasa, saham preferen, hak akuisisi saham, hingga fasilitas pinjaman berbasis jaminan Bitcoin.
Metaplanet juga mengungkapkan telah memperoleh fasilitas kredit senilai USD 500 juta dengan jaminan Bitcoin. Hingga 13 Mei 2026, perusahaan telah menarik dana sebesar USD 302 juta dari fasilitas tersebut.
Namun, total aset perusahaan turun menjadi 466,7 miliar yen pada akhir Maret 2026, dibandingkan 505,3 miliar yen pada akhir 2025. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya valuasi Bitcoin.
Hadapi Kritik
Metaplanet menyebut strategi tersebut merupakan bagian dari perubahan besar dalam sistem keuangan dan pasar modal digital di Jepang.
Di tengah laporan keuangan tersebut, Metaplanet juga menghadapi kritik dari komunitas online terkait strategi akumulasi Bitcoin dan praktik keterbukaan informasi perusahaan.
Sebelumnya, CEO Metaplanet, Simon Gerovich, sempat membela strategi perusahaan dalam membeli Bitcoin.
Menurut dia, seluruh pembelian Bitcoin, alamat dompet digital, hingga pengaturan pinjaman perusahaan telah diungkap secara real time kepada publik.
Gerovich juga menjelaskan strategi opsi yang dijalankan perusahaan bertujuan memperoleh Bitcoin di bawah harga pasar melalui pendapatan premi, bukan untuk berspekulasi terhadap pergerakan harga jangka pendek.