Gegara Nama Trump, Proyek Gedung Tertinggi Australia Rp19,2 Triliun Gagal Dibangun

Pengembang dan Trump Organization saling menuduh terkait alasan pembatalan pembangunan gedung tertinggi di Australia tersebut.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 13 Mei 2026, 21:03 WIB
Rencana pembangunan Trump Tower senilai USD 1,1 miliar (Rp 19,2 triliun) di Queensland, Australia kini tinggal kenangan. @erictrump?X

Liputan6.com, Jakarta - Rencana pembangunan Trump Tower senilai USD 1,1 miliar (Rp 19,2 triliun) di Queensland, Australia kini tinggal kenangan. Bangunan yang seharusnya menjadi gedung tertinggi di negara tersebut telah dibatalkan.

Pengembang Australia menyalahkan nama Trump yang penuh kontroversi dan perang Iran sebagai penyebab kegagalan proyek tersebut.

Ironisnya, melansir BBC, Selasa (13/5/2026), pembatalan ini terjadi hanya tiga bulan setelah kesepakatan pembangunan diumumkan. Seharusnya pembangunan hotel mewah 91 lantai di Gold Coast ini akan menjadi gedung tertinggi di Australia, dengan ketinggian 335 meter (1.100 kaki), lebih tinggi dari Shard di London.

Kini, detail tentang proyek tersebut telah dihapus dari situs web Trump Organization. Juru bicara mengatakan pembatalan pembangunan karena pengembang tidak memenuhi kewajibannya.

Namun klaim ini dibantah pengembang Altus Property Group. Perusahaan menyatakan bahwa proyek akan dilanjutkan dengan nama mewah lainnya sebagai pilihan.

"Mari kita katakan saja bahwa dengan perang Iran dan semua hal lainnya, merek Trump semakin "toxic" di Australia," kata David Young, Kepala Eksekutif Altus Property Group.

"Beberapa waktu lalu kami tahu pada akhirnya akan selesai (kesepakatan). Ini bukan tentang tidak memenuhi kewajiban. Ada pilihan merek mewah lain untuk kami. Proyek ini sedang berjalan," tegas dia.

Juru Bicara Trump Organization mengatakan, mereka "sangat antusias" dengan proyek tersebut, tetapi bergantung pada "mitra lisensi mereka untuk memenuhi kewajiban tertentu".

"Setelah berbulan-bulan negosiasi dan janji kosong, pada proyek yang seharusnya bernilai USD 1,5 miliar, Altus Property Group tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan paling mendasar yang jatuh tempo pada saat penandatanganan perjanjian," kata Kimberly Benza, Direktur Operasi Eksekutif Trump Organization.

Trump: Gencatan Senjata dengan Iran dalam Kondisi Kritis

Warga AS yang marah atas pernyataan Donald Trump yang rasis, mengancam pindah ke Australia jika dia tetap dicalonkan jadi presiden

Terkait perang Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (11/5/2026) mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi yang kritis. 

"Gencatan senjata saat ini berada pada titik terlemahnya, setelah saya membaca sampah itu," kata Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, seperti dikutip dari laporan Anadolu, merujuk pada respons Iran atas proposal AS untuk mengakhiri perang yang dikirim melalui mediator Pakistan pada Minggu (10/5).

"Gencatan senjata sekarang bergantung pada alat bantu hidup besar-besaran, seperti ketika seorang dokter masuk dan berkata, 'Tuan, orang yang Anda cintai hanya memiliki peluang hidup sekitar satu persen'," tambahnya. 

Trump mengkritik Iran karena membutuhkan waktu lama untuk mengirimkan respons yang menurutnya sebenarnya sangat sederhana.

"Mereka mengirimkan dokumen ini kepada kami setelah kami menunggu selama empat hari, padahal seharusnya itu bisa diselesaikan dalam 10 menit,” ujar Trump. "Mereka sempat menjamin tidak akan memiliki senjata nuklir dalam jangka waktu yang sangat lama serta beberapa hal kecil lainnya, tetapi pada akhirnya mereka tidak bisa menyepakatinya."

"Jadi mereka awalnya setuju dengan kami, lalu kemudian menarik kembali sikap itu."

Ketika ditanya apakah ia masih percaya solusi diplomatik dengan Iran dapat dicapai, Trump menjawab, "Saya pikir itu sangat mungkin."

Debu Nuklir

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara di Raymond F. Kravis Center for the Performing Arts di West Palm Beach, Florida, Jumat, 1 Mei 2026. (AP Photo/Matt Rourke)

Trump mengklaim bahwa pejabat Iran telah menyampaikan pesan mengenai apa yang ia sebut sebagai "debu nuklir" setelah serangan AS.

"Iran mengatakan kepada saya dengan sangat jelas … mereka berniat menyerahkan kepada kami apa yang saya sebut sebagai debu nuklir," katanya, merujuk pada material nuklir yang rusak akibat serangan AS tahun lalu.

Ia menegaskan pula bahwa lokasi-lokasi yang diserang dalam perang AS-Israel melawan Iran pada Juni 2025 telah hancur total, sehingga hampir mustahil dilakukan proses pengambilan material dari lokasi tersebut.

"Hanya ada satu atau dua negara di dunia yang bisa mengambilnya (material nuklir Iran)… Lokasinya sangat dalam dan dihantam begitu keras sehingga tidak mungkin ada peralatan yang bisa memindahkannya," ungkap Trump.

Menurutnya, Iran mengatakan bahwa hanya Iran dan China yang bisa mengeluarkannya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya