Rebalancing MSCI, Saatnya Kurangi Ketergantungan Asing

Rebalancing MSCI menjadi momentum bagi investor lokal untuk lebih dominan dalam mengontrol fluktuasi pasar di tengah ketidakpastian geopolitik global.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 13 Mei 2026, 19:10 WIB
Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan penyesuaian indeks global (rebalancing). Hal ini dinilai jadi momentum tepat perbaikan pasar modal Tanah Air.

Indonesia’s Head of Research DBS Group, William Simadiputra turut menanggapi pengumuman rebalancing indeks MSCI itu. Menurutnya, saat ini jadi momen perbaikan kredibilitas pasar modal.

"kalau kita lihat per hari ini memang ada beberapa saham yang di-delete dari MSCI Index, di mana ini partially merupakan salah satu journey dari Indonesia untuk mencapai level credibility untuk capital market yang lebih baik ke depannya," ujar William dalam Outlook Ekonomi Indonesia dan Prospek Sektor Unggulan DBS secara daring, Rabu (13/5/2026).

Menurut dia, pasar modal RI bisa berbenah untuk melakukan yang terbaik. Seiring dengan upaya perbaikan kedepan agar kembali masuk indeks MSCI.

"Ini juga menjadi salah satu waktunya kita untuk merefleksi apa yang bisa dilakukan terbaik dari sisi pasar modal, konstituen, performa perusahaan, di mana ini akan menjadi sesuatu yang eligible ke depannya kembali untuk MSCI," sebutnya.

William juga melihat, ada momentum untuk pasar modal Indonesia tak bergantung pada arus modal asing yang notabene dinamis. Beberapa indikator seperti kondisi ekonomi makro global, suku bunga acuan Amerika Serikat menjadi faktor pengaruh terhadap pasar lokal.

"Jadi, local participation harusnya naik dan kita menjadi memiliki suatu kemampuan untuk mengontrol situasi pasar modal dan fluktuasi market di mana di saat adanya geopolitical yang tidak setel seperti saat ini," beber dia.

 

19 Emiten Kena Rebalancing MSCI

Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan perdagangan sementara selama 30 menit atau trading halt karena penurunan lebih dari 8%. Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil penyesuaian indeks global atau index review periode Mei 2026. Dari hasil rebalancing tersebut, total terdapat 19 perubahan pada saham Indonesia yang terdampak penghapusan dari indeks MSCI, terdiri dari enam saham yang keluar dari MSCI Global Standard Indexes dan 13 saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes.

Melansir situs resmi MSCI, Rabu (13/5/2026), dari enam saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, satu emiten yakni AMRT atau PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk tidak sepenuhnya keluar dari indeks MSCI.

Emiten pengelola jaringan ritel Alfamart tersebut justru masuk ke MSCI Global Small Cap Indexes pada periode yang sama. Artinya, secara bersih jumlah saham Indonesia yang benar-benar keluar dari indeks MSCI dalam rebalancing kali ini menjadi 18 saham.

 

Daftar Emiten

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada prapembukaan perdagangan Rabu (14/10/2020), IHSG naik tipis 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), lima saham lain yang keluar dari MSCI Global Standard Indexes adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Sementara itu, sebanyak 13 saham Indonesia juga dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).

PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), serta PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

MSCI menyebut seluruh perubahan dalam hasil index review Mei 2026 ini akan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya