Liputan6.com, Sleman: Presiden Megawati Sukarnoputri menyampaikan belasungkawa kepada para keluarga korban tabrakan bus AO Transport dan truk trailer di daerah Banyu Glugur, Situbondo, Jawa Timur. Presiden meminta keluarga tabah dan mengikhlaskan kepergian korban, yang semuanya adalah siswa dan guru Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Pembina Generasi Muda (Yapemda) I Sleman, Yogyakarta. Ungkapan belasungkawa Presiden dibacakan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, saat menyambut kedatangan 54 jenazah korban di SMK I Yapemda, Sleman, Sabtu (11/10) pagi.
Rombongan mobil ambulans yang mengangkut 54 jenazah korban dari Situbondo itu tiba di SMK I Yapemda sekitar pukul 05.10 WIB [baca: Rombongan Jenazah Sampai Sleman Besok Pagi]. Saat itu juga, pengelola Yapemda menggelar salat mayat yang diikuti Sri Sultan HB X, para keluarga korban, dan ratusan warga yang hadir. Setelah itu, pengelola SMK I Yapemda menyerahkan jenazah korban kepada keluarga. Rencananya, para keluarga akan memakamkan jenazah korban pagi ini juga.
Sejauh ini, sebanyak 40 dari 54 jenazah korban tabrakan telah berhasil diidentifikasi. Sedangkan 14 korban lainnya akan diidentifikasi berdasarkan struktur gen atau deoxyribonucleic acid (DNA) di Rumah Sakit Umum dokter Soetomo, Surabaya, Jatim [baca: Sebanyak 14 Jenazah Belum Diidentifikasi].
Kekhawatiran tampak di raut wajah keluarga korban yang identitasnya belum diketahui. Namun mereka menolak penguburan massal. Keluarga sepakat untuk menguburkan korban di tempat masing-masing dengan memakai nomor urut pemeriksaan DNA. Nantinya nomor urut bisa diganti setelah mendapat kepastian DNA. Menurut Ketua Yapemda Suarno, setelah hasil DNA diperoleh, pihak keluarga masing-masing sepakat akan menukar papan makam atau memindahkan lokasi kuburan.
Pada kesempatan ini, pengelola Yapemda menyerahkan santunan untuk para keluarga korban. Bantuan ini terus mengalir hingga tadi malam. Di antaranya datang dari Presiden Megawati yang memberi santunan sebesar Rp 5 juta untuk setiap keluarga korban. Ketua MPR Amien Rais memberi Rp 3 juta dan Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar Rp 2,5 juta kepada setiap keluarga korban. Hingga semalam, total bantuan yang telah terkumpul sebesar Rp 18,5 juta untuk setiap keluarga korban.
Suasana tampak tegang ketika para keluarga korban menanti kedatangan para jenazah di lingkungan SMK I Yapemda sejak kemarin sore. Menjelang kedatangan jenazah, pengelola Yapemda kembali menggelar tahlil. Selain para siswa dan keluarga korban, tahlil tadi malam juga diikuti Sri Sultan HB X dan Malik Fadjar serta ratusan warga yang turut berbelasungkawa [baca: Doa Bersama Digelar di SMK Yapemda Sleman].
Suasana duka masih menyelimuti keluarga Tulus Ikhlas, salah satu guru pendamping rombongan studi tur yang termasuk dalam daftar korban. Pihak keluarga telah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir Tulus di Tempat Pemakaman Umum Kaliojir, Berbah, sekitar 200 meter dari rumah duka. Lokasi ini dipilih karena selain keluarga, warga di sekitar tempat tinggal almarhum juga menghendaki jenazah pendiri Yapemda itu dimakamkan di lokasi tersebut. Sejak era `70-an, Tulus telah mengajar dan bertugas di beberapa tempat. Kendati telah memasuki pensiun pada 1992, Tulus masih aktif mengajar di SMK I Yapemda.
Dari lokasi kecelakaan, badan bus AO Transport yang hangus menjadi tontonan masyarakat yang melintas di Jalan Raya Banyu Glugur. Mereka mengaku ingin mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi di dalam bus tersebut. Akibatnya tak jarang terjadi antrean panjang kendaraan, karena para pengemudi menjalankannya pelan-pelan. Badan bus dan truk kontainer telah digeser ke pinggir jalan supaya tak memacetkan arus lalu lintas.
Di dalam bus yang sudah menjadi kerangka besi tersebut, ternyata masih terdapat sisa-sisa barang yang diduga milik korban. Di antaranya kain khas Bali, buah tangan korban yang tak sampai. Bahkan beberapa warga melihat masih ada beberapa anggota tubuh manusia yang belum sempat dibersihkan.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Rombongan mobil ambulans yang mengangkut 54 jenazah korban dari Situbondo itu tiba di SMK I Yapemda sekitar pukul 05.10 WIB [baca: Rombongan Jenazah Sampai Sleman Besok Pagi]. Saat itu juga, pengelola Yapemda menggelar salat mayat yang diikuti Sri Sultan HB X, para keluarga korban, dan ratusan warga yang hadir. Setelah itu, pengelola SMK I Yapemda menyerahkan jenazah korban kepada keluarga. Rencananya, para keluarga akan memakamkan jenazah korban pagi ini juga.
Sejauh ini, sebanyak 40 dari 54 jenazah korban tabrakan telah berhasil diidentifikasi. Sedangkan 14 korban lainnya akan diidentifikasi berdasarkan struktur gen atau deoxyribonucleic acid (DNA) di Rumah Sakit Umum dokter Soetomo, Surabaya, Jatim [baca: Sebanyak 14 Jenazah Belum Diidentifikasi].
Kekhawatiran tampak di raut wajah keluarga korban yang identitasnya belum diketahui. Namun mereka menolak penguburan massal. Keluarga sepakat untuk menguburkan korban di tempat masing-masing dengan memakai nomor urut pemeriksaan DNA. Nantinya nomor urut bisa diganti setelah mendapat kepastian DNA. Menurut Ketua Yapemda Suarno, setelah hasil DNA diperoleh, pihak keluarga masing-masing sepakat akan menukar papan makam atau memindahkan lokasi kuburan.
Pada kesempatan ini, pengelola Yapemda menyerahkan santunan untuk para keluarga korban. Bantuan ini terus mengalir hingga tadi malam. Di antaranya datang dari Presiden Megawati yang memberi santunan sebesar Rp 5 juta untuk setiap keluarga korban. Ketua MPR Amien Rais memberi Rp 3 juta dan Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar Rp 2,5 juta kepada setiap keluarga korban. Hingga semalam, total bantuan yang telah terkumpul sebesar Rp 18,5 juta untuk setiap keluarga korban.
Suasana tampak tegang ketika para keluarga korban menanti kedatangan para jenazah di lingkungan SMK I Yapemda sejak kemarin sore. Menjelang kedatangan jenazah, pengelola Yapemda kembali menggelar tahlil. Selain para siswa dan keluarga korban, tahlil tadi malam juga diikuti Sri Sultan HB X dan Malik Fadjar serta ratusan warga yang turut berbelasungkawa [baca: Doa Bersama Digelar di SMK Yapemda Sleman].
Suasana duka masih menyelimuti keluarga Tulus Ikhlas, salah satu guru pendamping rombongan studi tur yang termasuk dalam daftar korban. Pihak keluarga telah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir Tulus di Tempat Pemakaman Umum Kaliojir, Berbah, sekitar 200 meter dari rumah duka. Lokasi ini dipilih karena selain keluarga, warga di sekitar tempat tinggal almarhum juga menghendaki jenazah pendiri Yapemda itu dimakamkan di lokasi tersebut. Sejak era `70-an, Tulus telah mengajar dan bertugas di beberapa tempat. Kendati telah memasuki pensiun pada 1992, Tulus masih aktif mengajar di SMK I Yapemda.
Dari lokasi kecelakaan, badan bus AO Transport yang hangus menjadi tontonan masyarakat yang melintas di Jalan Raya Banyu Glugur. Mereka mengaku ingin mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi di dalam bus tersebut. Akibatnya tak jarang terjadi antrean panjang kendaraan, karena para pengemudi menjalankannya pelan-pelan. Badan bus dan truk kontainer telah digeser ke pinggir jalan supaya tak memacetkan arus lalu lintas.
Di dalam bus yang sudah menjadi kerangka besi tersebut, ternyata masih terdapat sisa-sisa barang yang diduga milik korban. Di antaranya kain khas Bali, buah tangan korban yang tak sampai. Bahkan beberapa warga melihat masih ada beberapa anggota tubuh manusia yang belum sempat dibersihkan.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)