Kampung Kamal, Ketertinggalan di Balik Bandara

Kelurahan Kamal, Jakarta Barat, adalah wujud kemiskinan di Ibu Kota. Berlokasi di dekat Bandara Soekarno-Hatta, banyak anak-anak melepaskan mimpi untuk sekolah tinggi-tinggi.

oleh Liputan6Diterbitkan 15 Januari 2001, 07:25 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Sebuah keironisan tercipta di sekitar satu kilometer dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Kelurahan Kamal, Jakarta Barat. Kawasan di dekat salah satu titik modernisasi, kelurahan itu nyaris tak tersentuh. Para warga di sana, sampai saat ini, hanya tinggal di rumah berdinding bambu, dengan anak-anak yang cuma mengenyam tingkat pendidikan dasar.

Para bocah ini terlahir dari orang tua yang berpenghasilan di bawah upah minimum regional. Bahkan, tak jarang diantara mereka, lahir dan dibesarkan dengan penghasilan orang tua yang tak menentu. Di rumah yang sumpek, di Kelurahan Tegal Alur, Kawasan Kamal, Jakbar, mereka telah terbiasa melihat orang tuanya menganggur di rumah atau melihat kakak-kakak mereka yang telah remaja, putus sekolah, tanpa ada kegiatan lain.

Kondisi ini seolah sudah menjadi hal biasa. Sulit bagi para orang tua, yang kebanyakan hanya tamatan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, untuk mencari penghasilan layak, sehingga bisa menyekolahkan anak-anaknya sesuai tuntutan zaman. Adakalanya, mereka baru bisa menyekolahkan sang anak tercinta setelah menjadi buruh pabrik konveksi yang banyak bertebaran. Tak jarang, banyak anak usia sepuluh tahun yang baru bisa masuk SD.

Di sana, selain penduduk asli bersuku Betawi, 30 persen penduduknya adalah pendatang berbagai daerah yang ingin mengadu nasib ke Jakarta. Terpesona gemebyar Jakarta, mereka rela menetap di rumah-rumah kontrakan berlantai tanah, berdinding bambu. Meski demikian, sebagian di antara pendatang merasa bisa hidup lebih baik ketimbang hidup di kampung. Soalnya, di Jakarta mereka bisa menjadi buruh pabrik.

Keseharian yang serba kekurangan, tak ada yang bisa mencegah mereka untuk tak mempunyai anak. Bayi-bayi yang di sana, lahir tanpa jaminan bahwa orang tua mereka mampu menyediakan landasan masa depan yang cerah. Dengan bekal pendidikan yang minim, pasrah menerima takdir hidup, di kawasan ini potret kemiskinan terus berlangsung dari generasi ke generasi.(RSB/Mira Permatasari dan Dwi Nindyas)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya