Jawaban Menohok Purbaya Soal Kritik Pengamat Terkait Pertumbuhan Ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya menanggapi berbagai kritik terkait kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 11 Mei 2026, 12:20 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat acara Semangat Awal Tahun 2026, di Menara Global, Jakarta, Rabu (14/1/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi berbagai kritik yang mempertanyakan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan.

Sejumlah kritik yang berkembang di ruang publik menilai capaian tersebut hanya dipengaruhi efek basis rendah atau low base effect, mengingat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2025 tercatat sebesar 4,87 persen.

Namun, Purbaya membantah anggapan tersebut dengan menegaskan bahwa tren penguatan ekonomi sebenarnya sudah terlihat sejak kuartal IV 2025 yang tumbuh 5,39 persen. Ia pun mempertanyakan alasan sebagian ekonom domestik masih meragukan capaian tersebut.

"Jadi kalau angka jelek ribut, angka tinggi ribut. Jadi teman-teman ekonom tuh maunya apa?" ucap Purbaya dalam media briefing, Senin (11/5/2026).

Purbaya menilai apresiasi terhadap kondisi ekonomi Indonesia justru datang dari lembaga internasional, sementara di dalam negeri masih muncul pandangan skeptis yang menurutnya menggunakan sudut pandang yang kurang tepat.

Terkait arah kebijakan ke depan, Purbaya mengatakan pemerintah baru akan mempertimbangkan penyesuaian kebijakan pajak lainnya apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mampu konsisten berada di level 6% dalam beberapa kuartal berturut-turut.

Menurut dia, fokus utama pemerintah saat ini adalah menciptakan level playing field atau keadilan bagi pelaku usaha konvensional agar mampu bersaing secara sehat dengan ekosistem digital.

Purbaya Buka Suara Soal Rasio Utang RI: Kita Masih Paling Jago di ASEAN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan jawaban menohok merespons anggapan pemerintah kerap tarik utang. Menurutnya, rasio utang RI masih lebih baik dibandingkan banyak negara lainnya.

Dia menanggapi adanya pandangan kalau negara kerap mengambil utang. Namun, kata dia, utang produktif dan terukur diperlukan untuk ekspansi, layaknya perusahaan.

"Jadi gini, orang bilang kok negara utang. Cuma kalau sama dengan perusahaan, kalau mau ekspansi, kalau dia punya prospek yang bagus, dia pasti utang. Yang penting adalah acuan-acuan yang menunjukkan bahwa utang itu berkesinambungan, masih kita turuti," tutur Purbaya seperti dikutip dari wawancara Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Minggu (10/5/2026).

Pada konteks fiskal, misalnya, paling ketatnya diatur defisit anggaran 3 persen dengan rasio utang 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). "Kita di bawah 3 persen defisitnya dan rasio utang ke PDB-nya masih sekitar 40 persen," tegasnya.

Jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara saja misalnya, Purbaya mengatakam kinerja RI masih lebih baik dari sisi rasio utang. Beberapa negara yang tumbuh cepat bahkan memiliki ruang defisit dan rasio utang lebih lebar.

"Di sini aja, di ASEAN saja kita masih paling jago, apalagi di dunia. Singapura saja rasio utang ke PDB-nya hampir 180 persen. Kita lebih jago dari mereka. India, pertumbuhannya lebih cepat dari kita, tapi rasio defisitnya ke PDB 4 persen lebih, tahun sebelumnya malah 8 persen," jelas dia.

 

Sumber Pendanaan Defisit APBN

Deretan gedung bertingkat terlihat dari jendela gedung pencakar langit di kawasan Jakarta, Kamis (26/12/2019). Pemerintah memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan di kisaran 5,2%, berada di bawah target APBN 2020 sebesar 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap sumber pendanaan defisit APBN 2026. Menurutnya, ruang untuk menutup defisit dari utang masih masuk akal.

Dia menjelaskan, ruang defisit APBN diperkirakan masih dalam batas yang ditentukan. Adapun, defisit APBN bakal ditekan hingga di bawah 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Ada, kalau defisit tambah kan, dari awal kan nambah sedikit tapi masih dalam limitnya. Ada penambahan utang tapi sebetulnya masih terkendali," kata Purbaya seperti dikutip dari wawancara Pemimpin Redaksi Emtek Media Retno Pinasti dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Minggu (10/5/2026).

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya