Sugito, 14 Tahun Sebagai Koki Kapal Perang

Sertu Angkatan Laut Sugito telah 14 tahun mengabdikan diri sebagai koki kapal perang. Kini, ia bertugas di KRI Ahmad Yani dalam operasi penumpasan GAM dan melayani kebutuhan logistik buat 208 prajurit.

oleh Liputan6Diterbitkan 05 Oktober 2003, 05:52 WIB
Liputan6.com, Belawan: Sersan Satu Angkatan Laut Sugito adalah salah satu juru masak di kapal perang. Bapak dua putra ini sudah mengabdikan dirinya sebagai koki bagi para prajurit TNI-AL selama 14 tahun. Jadi tak heran, jika profesinya itu menorehkan kesan dan kenangan tersendiri.

Saat ini, Sertu Sugito sedang bertugas di Kapal Perang KRI Ahmad Yani 351 di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. KRI Ahmad Yani adalah bagian dari operasi penumpasan Gerakan Aceh Merdeka yang telah disiagakan di Samudera Indonesia, sejak tiga bulan silam. Dan urusan logistik para prajurit yang berjumlah 208 menjadi tanggung jawab Sugito.

Sebelum memulai tugasnya sebagai juru masak, Sugito mengawali harinya dengan melaksanakan salat subuh di musala kapal yang berada di dek dua. Setelah itu, ia dan semua prajurit mengikuti apel pagi. Apel kali ini digelar di dermaga Pelabuhan Belawan, Sumatra Utara. Sebab, kapal sedang bersandar di pelabuhan itu.

Usai apel pagi, Sugito yang menjabat sebagai kepala koki bergegas menyiapkan sarapan untuk para prajurit. Lewat empat penyanting atau pembantu setiap angkatan, Sugito membagikan sarapan pagi. Tak ada perbedaan menu yang disiapkan untuk perwira ataupun tamtama.

Setelah sarapan pagi, Sugito bersiap untuk memasak makan siang. Kali ini menu yang disiapkan adalah sayur asem dan lele goreng. Menurut Sugito, jumlah lele tak boleh kurang. Sebab, setiap prajurit berhak memperoleh jatah yang sama dengan rekan lainnya. Kecilnya duit lauk pauk bagi prajurit, yakni sebesar Rp 16 ribu per kepala per hari, membuat Sugito kesulitan untuk menyajikan menu yang sedikit mewah.

Menjelang senja, Sugito dan rekan-rekannya bisa bersantai. Beberapa di antara mereka ada yang pergi pesiar mengitari Pelabuhan Belawan. Sebagian lagi lebih senang berdiam diri di kapal sambil bermain catur atau menonton televisi. Dan Sugito memilih bermain catur untuk menghapus rindunya kepada keluarga.

Saat matahari mulai terbenam, petugas jaga mulai siaga berpatroli. Petugas lain yang bertugas menurunkan bendera juga telah bersiap diri di geladak belakang kapal. Menjelang malam, sebagian prajurit bisa bersantai di geladak. Sedangkan, para perwira rapat untuk perencanaan operasi selanjutnya.

Sugito tak hanya pandai mengolah makanan dan memegang centong. Dia juga terlatih dan pandai memegang senjata. Jika komando tempur dikumandangkan, Sugito musti mengambil posisi siap tempur. Senjata jenis AR-5 dengan sigap ia kuasai. Dalam situasi seperti ini, tak ada perbedaan antara koki dan prajurit tempur.(LIA/Satya Pandia)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya