Fans Liverpool Menang, FSG Mundur dari Rencana Kenaikan Harga Tiket Anfield

Pemilik Liverpool, Fenway Sports Group (FSG) resmi membatalkan rencana kenaikan tiket yang sebelumnya menuai kritik tajam dari pendukung The Reds.

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 08 Mei 2026, 17:03 WIB
Para suporter Liverpool merayakan kemenangan atas Manchester United pada laga Premier League di Stadion Anfield, Liverpool, Minggu (16/12). Liverpool menang 3-1 atas MU. (AFP/Paul Ellis)

Liputan6.com, Jakarta - Gelombang protes suporter akhirnya memaksa Liverpool mengubah keputusan soal harga tiket stadion. Fenway Sports Group (FSG) resmi membatalkan rencana kenaikan tiket yang sebelumnya menuai kritik tajam dari pendukung The Reds dalam beberapa pekan terakhir.

Keputusan tersebut diumumkan pada Kamis waktu setempat dan langsung disambut positif oleh para fans. Sebelumnya, manajemen Liverpool berencana menaikkan harga tiket secara bertahap mengikuti inflasi selama tiga musim mendatang.

Namun, tekanan besar dari suporter membuat kebijakan itu tidak jadi diterapkan sepenuhnya. Fans menilai rencana tersebut bertentangan dengan nilai tradisional klub yang selama ini dikenal dekat dengan pendukungnya.

Aksi penolakan terjadi dalam berbagai bentuk di Anfield. Saat Liverpool menjamu Crystal Palace, ribuan suporter mengangkat kartu kuning bertuliskan “Caution: Anfield’s Soul at Risk” sebagai simbol peringatan kepada manajemen.

Tak berhenti di situ, sebagian pendukung juga melakukan boikot pembelian makanan dan minuman di area stadion. Mereka menganggap kebijakan kenaikan harga tiket hanya akan semakin memberatkan fans setia yang rutin hadir mendukung tim.


Tekanan Besar untuk FSG

Suporter Liverpool memberikan dukungan saat melawan Wolverhampton pada laga Liga Inggris di Stadion Anfield, Liverpool, Minggu (12/5). Liverpool menang 2-0 atas Wolves. (AFP/Paul Ellis)

Situasi yang dihadapi FSG ternyata tidak hanya datang dari Merseyside. Di Amerika Serikat, suporter Boston Red Sox yang juga berada di bawah kepemilikan John Henry turut melancarkan protes terhadap cara pengelolaan klub.

Bahkan, sebuah pesawat sempat melintas di atas Fenway Park sambil membawa spanduk yang meminta pemilik menjual tim. Tekanan di dua cabang olahraga berbeda itu membuat sorotan terhadap FSG semakin besar.

Hubungan antara fans Liverpool dan manajemen pun sempat memanas karena suporter merasa suara mereka mulai diabaikan. Akan tetapi, keputusan terbaru klub dianggap menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan tersebut.

“Kami berterima kasih kepada pihak Liverpool yang mau mendengarkan dan berdialog dengan kami,” ujar perwakilan kelompok suporter Spirit of Shankly.

Sebagai bentuk kompromi, Liverpool memastikan harga tiket musim depan hanya akan mengalami penyesuaian kecil mengikuti inflasi sebelum dibekukan pada musim berikutnya. Kebijakan itu dinilai lebih realistis dan mampu meredakan ketegangan yang sempat meningkat.


Rekor Pendapatan Jadi Sorotan

Penyerang Liverpool, Mohamed Salah, memberikan tepuk tangan kepada para suporter saat meninggalkan lapangan dalam kondisi cedera pada pertandingan Premier League Inggris antara Liverpool melawan Crystal Palace di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris barat laut, pada 25 April 2026. (Paul ELLIS / AFP)

Penolakan fans sebelumnya semakin kuat setelah laporan keuangan Liverpool menunjukkan pendapatan klub mencapai lebih dari 952 juta dolar AS hingga Mei 2025. Berdasarkan data Deloitte, angka tersebut menjadikan Liverpool sebagai klub dengan pendapatan tertinggi di Premier League.

Lanjut Baca:

Kondisi finansial yang sangat kuat itu membuat suporter mempertanyakan alasan di balik rencana kenaikan harga tiket. Spirit of Shankly menilai keputusan tersebut lebih didorong kepentingan bisnis dibanding kebutuhan mendesak klub. “Kita tidak boleh menganggap normal kenaikan harga setiap musim. Ini adalah pilihan yang lahir dari keserakahan,” tegas Spirit of Shankly ketika isu kenaikan tiket pertama kali mencuat. Liverpool kini berjanji akan mencari sumber pemasukan lain bersama Dewan Suporter agar kenaikan harga tiket bisa diminimalkan pada masa depan. Klub juga membuka peluang pengembangan sektor komersial sebagai solusi jangka panjang. Meski demikian, manajemen tetap memberi sinyal bahwa penyesuaian harga akibat inflasi masih mungkin terjadi di tahun-tahun berikutnya. Untuk saat ini, para pendukung Liverpool bisa bernapas lega karena suara mereka terbukti mampu memengaruhi kebijakan besar di Anfield.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya