Tren Diet Ekstrem Berbahaya di Kalangan Remaja, Suntik Peptida demi Berat Badan Turun Instan

Tren diet ekstrem di kalangan remaja makin mengkhawatirkan. Peptida ilegal digunakan demi tubuh ideal instan meski berisiko bagi kesehatan.

oleh Dea SifaDiterbitkan 14 Mei 2026, 03:00 WIB
Penggunaan peptida ilegal untuk diet ekstrem makin marak di kalangan remaja demi hasil instan, dipicu tekanan standar kecantikan di media sosial. (dok. Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena diet ekstrem di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan, terutama dengan maraknya penggunaan obat penurun berat badan tanpa pengawasan medis. Salah satu contohnya terlihat dalam unggahan media sosial seorang remaja SMA yang memperlihatkan dirinya memegang jarum insulin di dalam mobil sambil menuliskan keterangan bernada bercanda dan seksual.

Melansir New York Post, Kamis, 7 Mei 2026), jarum tersebut bukan digunakan untuk kebutuhan medis biasa. Remaja berusia 17 tahun itu diketahui menggunakan senyawa peptida bernama retatrutide, obat penurun berat badan generasi baru dengan mekanisme tiga agonis yang tengah ramai dibicarakan di media sosial.

Ia mengaku mendapatkan obat tersebut dengan harga murah dan menggunakannya sebagai cara instan untuk menurunkan berat badan serta mendapatkan bentuk tubuh yang dianggap lebih ideal. Peptida yang digunakan remaja tersebut diklaim mampu menekan nafsu makan, membantu mengontrol kadar gula darah, hingga meningkatkan energi tubuh.

Ia mengaku telah menyuntikkan retatrutide dosis 0,5 mg setiap minggu selama satu bulan dan berhasil menurunkan berat badan sekitar 10 pon atau sekitar 4,5 kilogram. Tak hanya itu, siswi SMA tersebut juga menggunakan melanotan I, yakni peptida yang dikenal dapat menggelapkan warna kulit dengan meningkatkan produksi melanin meski hanya terpapar sedikit sinar matahari.

Produk-produk tersebut diperolehnya melalui koneksi milik sang pacar di aplikasi pesan terenkripsi Telegram. Meski awalnya merasa penggunaan peptida ilegal cukup berisiko, ia mengaku tetap melanjutkan pemakaian setelah mencari berbagai informasi terkait produk tersebut.

"Saat pertama kali menggunakannya, rasanya agak berisiko, tetapi saya memastikan untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin," ujar siswi SMA kepada NY Post. 

Tren Peptida Ilegal Merambah Kalangan Remaja

Penggunaan peptida ilegal makin populer di kalangan remaja lewat media sosial dan tren looksmaxxing demi tubuh ideal instan. (dok. tangkapan layar TikTok @averagemaneater/https://vm.tiktok.com/ZS9FhuhvaeUk2-Hrxvz//Dea Sifa)

Siswi SMA itu mengaku merasa lebih percaya diri setelah menggunakan peptida tersebut. Bahkan, dua temannya disebut ikut mencoba dan mengalami penurunan berat badan serupa.

Penggunaan peptida itu awalnya diterapkan di kalangan binaragawan dan biohacker untuk membantu menurunkan lemak serta meningkatkan pertumbuhan otot. Kini, sejumlah remaja diketahui mulai bereksperimen dengan peptida untuk mengatasi rasa tidak percaya diri terhadap bentuk tubuh mereka.

Beberapa jenis peptida yang populer digunakan di antaranya retatrutide, melanotan, dan GHK-cu. GHK-cu dikenal sebagai peptida yang diklaim mampu meningkatkan produksi kolagen, meski penggunaannya pada remaja dinilai bertentangan dengan kondisi alami tubuh yang sebenarnya masih memproduksi kolagen secara optimal.

Pencarian cepat dengan tagar #Peptide menghasilkan lebih dari 342 ribu video di TikTok. Banyak di antaranya berisi tutorial langkah demi langkah dari para pengguna, mulai dari cara menyusun peptida, menentukan dosis, hingga teknik menyuntikkan sendiri di rumah. Konten semacam ini kini muncul hampir sesering video gaya hidup seperti 'what I eat in a day'.

Dipengaruhi Tren Looksmaxxing

Peptida ilegal dijual murah secara online dan mudah diakses remaja meski minim pengawasan serta berisiko bagi kesehatan. (dok. tangkapan layar TikTok @averagemaneater/https://vm.tiktok.com/ZS9FhuxRLuCpq-sFWjX//Dea Sifa)

Fenomena tersebut turut dipengaruhi 'looksmaxxing”, yakni tren di kalangan anak muda untuk memaksimalkan penampilan fisik demi terlihat lebih menarik. Dalam tren ini, peptida kerap dipromosikan sebagai jalan pintas untuk mendapatkan tubuh ideal dalam waktu singkat. Media sosial pun dipenuhi unggahan remaja bertubuh langsing dan berkulit kecokelatan yang berpose sambil memegang jarum suntik.

Akses terhadap produk tersebut juga tergolong mudah. Banyak peptida dijual dengan label 'bukan untuk konsumsi manusia' sehingga tetap beredar di pasar dalam area abu-abu secara hukum maupun medis dengan pengawasan yang minim. Produk ini dapat ditemukan melalui media sosial, toko daring seperti Amazon, penjual di aplikasi pesan instan, hingga situs web yang menjual langsung kepada konsumen.

Peptida yang dipasarkan dengan label 'hanya untuk keperluan penelitian' umumnya dijual dengan harga lebih murah dibanding produk yang diperoleh melalui resep dokter atau apotek resmi. Harganya bisa berkisar dari puluhan hingga ratusan dolar, sementara peptida medis yang diresepkan secara resmi dapat mencapai ratusan hingga ribuan dolar tergantung jenisnya.

"Cukup lima menit mencari di internet, orang sudah bisa menemukan sumbernya, walaupun risikonya tetap besar untuk tertipu," kata remaja itu.

Tekanan Standar Kecantikan Dorong Remaja Gunakan Peptida

Tekanan tampil ideal di media sosial membuat banyak remaja tergoda memakai peptida demi hasil penurunan berat badan instan. (dok. jcomp/Freepik)

Meski berisiko, banyak remaja tetap tergoda untuk mencobanya demi mendapatkan hasil instan. Bagi pengguna seperti Sydney Haddon (18), potensi manfaat yang dijanjikan dianggap sebanding dengan risiko dari produk yang tidak diatur tersebut. 

Keputusan nekatnya diambil setelah mengaku tetap kesulitan menghilangkan lemak di area wajah dan perut meski sudah menjalani diet serta rutin berolahraga. "Saya mengenal banyak orang seusia saya, bahkan yang lebih muda, yang juga menggunakan peptida. Jumlahnya lebih banyak dari yang bisa saya hitung," ujar Sydney.

Ia juga mengaku merasa tertekan oleh tren looksmaxxing yang ramai di media sosial, yakni dorongan untuk terus memperbaiki penampilan fisik demi mencapai standar kecantikan tertentu. "Sulit menjadi remaja perempuan ketika solusi instan untuk rasa tidak percaya diri terus dipromosikan secara besar-besaran di media sosial," ujar Sydney.

Ia mengaku berhasil menurunkan berat badan sekitar 20 pon atau sekitar 9 kilogram dalam waktu dua bulan setelah menggunakan peptida tersebut. Produk yang digunakannya disebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari merek yang dipasarkan di Amerika Serikat hingga pemasok dari China yang direkomendasikan oleh teman-temannya.

Fenomena “Stacking” dan Bahaya Diet Ekstrem pada Remaja

Remaja mulai mengombinasikan berbagai peptida ilegal secara diam-diam, memicu kekhawatiran tenaga kesehatan dan psikolog. (dok. rawpixel.com/Freepik)

Para pengguna seperti Haddon kerap mengombinasikan beberapa jenis obat sekaligus dalam metode yang dikenal sebagai 'stacking' untuk memaksimalkan hasil penurunan berat badan maupun perubahan penampilan. Tidak sedikit remaja yang mencampur sendiri peptida menggunakan bubuk, cairan, dan dosis tertentu layaknya eksperimen laboratorium sederhana.

Meski banyak dari mereka masih tinggal bersama orangtua, penggunaan peptida ini dilakukan secara diam-diam. Sebagian remaja bahkan menyimpan produk tersebut di kulkas mini yang disembunyikan di kamar tidur. Ada pula yang menyamarkannya di dalam kaleng minuman agar tidak diketahui keluarga, mengingat peptida harus disimpan pada suhu tertentu agar tetap efektif.

Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan tenaga kesehatan. Psikolog klinis berlisensi di New York, Samantha Nish, mengatakan bahwa tekanan terhadap remaja untuk memperbaiki penampilan fisik kini semakin besar, terutama akibat pengaruh media sosial.

"Lingkungan media sosial terus memperkuat budaya perbandingan dan standar penampilan ideal, sehingga banyak remaja merasa harus mengubah diri mereka," ujar Samantha.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya