Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61%, Ekonom: Perlu Dibedah Kualitasnya

Ekonomi Indonesia dilaporkan tumbuh 5,61% di kuartal I 2026, ekonom UGM melihat ada ketimpangan antara data di atas kertas dengan realitas di lapangan.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 05 Mei 2026, 14:45 WIB
Untuk data yang dikumpulkan addalah karakteristik usaha, permodalan/investasi, kendala usaha, kinerja/daya saing, serta adopsi ekonomi digital. Tampak dalam foto, orang-orang berbelanja sepatu dan sandal di sebuah kios pakaian di salah satu ruas jalan, Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu 19 April 2026. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,61% secara tahunan atau year on year (YoY) pada kuartal I 2026. Meskipun secara tahunan tumbuh positif, BPS melaporkan bahwa ekonomi Indonesia secara triwulanan (qtq) tercatat kontraksi 0,77 persen.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartal I 2026 memberikan sinyal positif, meski belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal I 5,61% itu di atas kertas bagus sekali. Paling tidak itu bisa jadi sentimen positif di tengah kondisi tegang sekarang ini,” ujar Eddy kepada Liputan6.com, Selasa (5/5/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angka pertumbuhan tersebut perlu dibedah lebih rinci untuk memahami kualitasnya. Hal ini mencakup sumber pertumbuhan, distribusi antar sektor, hingga pemerataan antar wilayah.

“Hanya saja, ada berbagai ukuran riil lain yang perlu ditelaah, misalnya pertumbuhan ekonomi dikontribusi oleh komponen yang mana, pertumbuhan ekonomi per sektor bagaimana, pertumbuhan ekonomi per daerah bagaimana, koefisien gini (ketimpangan ekonomi) bagaimana, dan seterusnya,” jelasnya.

Eddy menuturkan sisi komponen pembentuknya, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi 54,26% dan dinilai cukup solid. Sementara itu, investasi yang berkontribusi 28,29% dinilai masih perlu ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Belanja pemerintah juga tercatat menyumbang 6,72% dan mengalami lonjakan dalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, kinerja perdagangan luar negeri menunjukkan ketimpangan, di mana pertumbuhan ekspor hanya 0,9% sementara impor justru melonjak hingga 10,05%.

Kondisi ini menunjukkan meski secara headline pertumbuhan ekonomi terlihat kuat, struktur pertumbuhannya masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu dicermati lebih lanjut.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya