IHSG Bertahan di 7.000 Usai Rilis Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026

Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61% dinilai direspons positif oleh pelaku pasar sehingga berdampak terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 Mei 2026, 12:41 WIB
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah di awal sesi perdagangan dan ditutup menguat pada sesi pertama, Selasa, (5/5/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham sesi pertama, Selasa (5/5/2026). Kenaikan IHSG itu terjadi di tengah sentimen rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026.

Mengutip data RTI, IHSG ditutup naik 0,83% menjadi 7.029,85. Indeks saham LQ45 menguat 1,07% menjadi 681,75. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 7.065 dan level terendah 6.921,60. Sebanyak 346 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. 297 saham melemah dan 169 saham diam di tempat.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, kenaikan IHSG lebih didorong oleh respons positif awal terhadap rilis pertumbuhan ekonomi yang tumbuh 5,61%, di atas harapan analis sebesar 5,4%. Selain itu,aksi beli investor domestik juga dorong kenaikan IHSG.

“Investor domestik mulai melakukan hunting di saham-saham big caps karena diperkuat oleh adanya katalis korporasi seperti rencana buyback dan rotasi sektor, meskipun secara keseluruhan kenaikan ini masih bersifat terbatas karena dibayangi aksi jual asing dan ketidakpastian global yang belum mereda,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Pada sesi kedua, ia prediksi IHSG bergerak bergejolak dengan kecenderungan aksi ambil untung terutama karena level 7.000 menjadi level resistance psikologis cukup kuat. “Selama belum ada perubahan signifikan dari sisi foreign flow dan sentimen global, ruang penguatan cenderung terbatas dan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi,” tutur dia.

Total frekuensi perdagangan saham 1.472.673 kali dengan volume perdagangan saham 25,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 9,2 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.425.

Secara sektoral, mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham basic memimpin kenaikan sebesar 1,33%. Disusul sektor saham keuangan bertambah 1,32% dan sektor saham transportasi menanjak 1,14%. Selain itu, sektor saham energi mendaki 0,41%, sektor saham consumer nonsiklikal naik 0,18%, sektor saham properti menguat 0,34%, dan sektor saham infrastruktur menanjak 0,85%.

Sementara itu, sektor saham industri turun 0,62%, sektor saham consumer siklikal susut 0,26%, sektor saham kesehatan melemah 0,48%, dan sektor saham teknologi melemah 0,18%.

Gerak Saham

Sebanyak 672 saham turun, 30 naik, dan 95 lainnya tetap atau stagnan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Harga saham HERO turun 3,39% menjadi Rp 570 per saham. Harga saham HERO naik 110 poin menjadi Rp 700 per saham. Saham HERO berada di level tertinggi Rp 730 dan terendah Rp 515 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 6.401 kali dengan volume perdagangan saham 158.600 saham. Nilai transaksi harian Rp 10,2 miliar.

Harga saham YELO menguat 0,98% menjadi Rp 103 per saham. Saham YELO dibuka stagnan di posisi Rp 102 per saham. Saham YELO berada di level tertinggi Rp 103 dan terendah Rp 100 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.132 kali dengan volume perdagangan saham 136.106 saham. Nilai transaksi Rp 1,4 miliar.

Harga saham NAYZ terpangkas 2,82% menjadi Rp 69 per saham. Saham NAYZ dibuka stagnan di posisi Rp 71 per saham. Saham NAYZ berada di level tertinggi Rp 71 dan terendah Rp 68 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 1.013 kali dengan volume perdagangan saham 195.852 saham. Nilai transaksi Rp 1,4 miliar.

Harga saham PTRO menanjak 4,43% menjadi Rp 5.300 per saham. Saham PTRO dibuka naik 25 poin menjadi Rp 5.100 per saham. Harga saham PTRO berada di level tertinggi Rp 5.475 dan terendah Rp 4.930 per saham. Total frekuensi 17.800 kali dengan volume perdagangan saham 477.178 saham. Nilai transaksi harian Rp 250,6 miliar.

Top Gainers-Losers

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpampang di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Dari 10 sektor pembentuk IHSG, lima sektor saham berada di zona merah. Pelemahan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:

  • Saham ENZO melonjak 33,33%
  • Saham ABDA melonjak 24,92%
  • Saham KONI melonjak 24,69%
  • Saham BOBA melonjak 23,58%
  • Saham CTTH melonjak 22,07%

 

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

  • Saham YPAS merosot 14,85%
  • Saham FWCT merosot 11,67%
  • Saham INDS merosot 11,62%
  • Saham NETV merosot 10,38%
  • Saham EURO merosot 9,87%

 

Saham-saham teraktif berdasarkan nilai antara lain:

  • Saham BRPT senilai Rp 740,1 miliar
  • Saham BBCA senilai Rp 638,2 miliar
  • Saham BMRI senilai Rp 543 miliar
  • Saham BBRI senilai Rp 493,3 miliar
  • Saham KOTA senilai Rp 327,5 miliar

 

Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:

  • Saham KOTA tercatat 82.009  kali
  • Saham BRPT tercatat 55.111 kali
  • Saham BCIP tercatat 50.784 kali
  • Saham PIPA tercatat 42.973 kali
  • Saham PADI tercatat 33.608 kali

 

 

 

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

Pemandangan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (5/4/2022). Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 menjadi 5,1 persen pada April 2022, dari perkiraan sebelumnya 5,2 persen pada Oktober 2021. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (YoY) pada kuartal I 2026. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.

"Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 bila dibandingkan triwulan I 2025 atau secara year on year (YoY) tumbuh 5,61 persen," ujar Amalia, Selasa (5/5/2026).

Sebagai perbandingan, pada kuartal I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87 persen (YoY). Dengan demikian, terjadi peningkatan kinerja ekonomi pada awal 2026.

Meski mencatat pertumbuhan positif secara tahunan, BPS mencatat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara triwulanan (quarter to quarter/qtq).

Di sisi global, International Monetary Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,1 persen pada April 2026. Sementara itu, ekonomi negara berkembang diproyeksikan tumbuh sebesar 3,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Proyeksi IMF juga menunjukkan inflasi di negara berkembang pada 2026 masih relatif lebih tinggi dibandingkan inflasi global.

Amalia menambahkan, sejumlah negara mitra dagang Indonesia juga menunjukkan dinamika pertumbuhan ekonomi yang beragam pada kuartal I 2026.

"Tiongkok tumbuh menguat dibandingkan kuartal IV 2025, AS tumbuh menguat dibandingkan triwulan IV 2025, sementara Malaysia, Singapura, dan Vietnam tumbuh melambat dibandingkan triwulan IV 2025, tetapi menguat dibandingkan triwulan I 2025," jelasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya