Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada Selasa 5 Mei 2026 pagi.
Dikutip dari Antara, Selasa (5/5/2026), kurs rupiah bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi 17.405 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 17.394 per dolar AS.
Advertisement
Kurs Rupiah Kemarin
Kemarin, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin melemah 57 poin atau 0,33 persen menjadi 17.394 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 17.337 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia.
“Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia dan kita lihat bahwa kilang-kilang minyak di Rusia banyak yang terkena drone dari Ukraina,” ucapnya.
Mengutip Xinhua, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan serangan Kiev terhadap infrastruktur minyak Rusia dapat memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Pengurangan pasokan minyak Rusia ke pasar global disebut akan memicu kenaikan harga yang lebih tajam.
Di Balik Pelemahan Rupiah, Ini Peluang Ekonomi yang Bisa Dimanfaatkan
Pergerakan nilai tukar rupiah kerap memicu kekhawatiran, terutama saat mengalami pelemahan terhadap mata uang asing. Namun di balik tekanan tersebut, tersimpan peluang bagi sejumlah sektor ekonomi.
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, John Eddy Junarsin, menilai fluktuasi nilai tukar merupakan fenomena kompleks yang tidak bisa dipandang secara hitam-putih.
Menurutnya, dinamika nilai tukar dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi geopolitik global hingga kebijakan domestik.
“Depresiasi dan apresiasi mata uang ditentukan oleh mekanisme pasar. Faktor eksternal dan kebijakan pemerintah sama-sama berperan,” ujarnya kepada Liputan6.com, dikutip Senin (4/5/2026).
Ia menambahkan, peran Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dalam menjaga stabilitas rupiah juga memiliki batas. Intervensi yang dilakukan bersifat terbatas dan tidak sepenuhnya mampu mengendalikan arah pergerakan mata uang.
Meski demikian, pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. Dalam kondisi tertentu, situasi ini justru memberi keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor.
Produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar global, sementara harga barang impor cenderung meningkat sehingga mendorong konsumsi produk lokal.
“Perusahaan domestik bisa lebih kompetitif, dan ada potensi peningkatan lapangan kerja di sektor produktif,” kata John.