Liputan6.com, Jakarta - Emiten produsen kosmetik PT Martina Berto Tbk (MBTO) mencatat pertumbuhan penjualan dan meraih laba hingga kuartal pertama 2026.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Senin (4/5/2026), PT Martina Berto Tbk meraup penjualan bersih Rp 113,06 miliar hingga kuartal pertama 2026. Penjualan perseroan naik 23,9% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 91,24 miliar.
Advertisement
Beban pokok penjualan naik 19,19% menjadi Rp 68,06 miliar hingga Maret 2026 dari Maret 2025 sebesar Rp 57,10 miliar. Meski demikian, perseroan mencatat laba bruto naik 31,81% menjadi Rp 44,99 miliar dari kuartal I 2025 sebesar Rp 34,13 miliar.
Beban penjualan dan pemasaran turun menjadi Rp 16 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 17,39 miliar. Beban umum dan administrasi susut dari Rp 17,39 miliar hingga kuartal pertama 2025 menjadi Rp 16 miliar. Pendapatan operasi lainnya naik menjadi Rp 2,56 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,20 miliar.
Perseroan meraup laba usaha tumbuh 14,43% menjadi Rp 14,92 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 967,42 juta. Pendapatan keuangan naik menjadi Rp 31,79 juta hingga kuartal pertama 2026 dari kuartal pertama 2025 sebesar Rp 28,70 juta. Beban keuangan turun menjadi menjadi Rp 3,99 miliar hingga 31 Maret 2026 dari periode sama tahun sebelumnya USD 4,44 milar.
Perseroan mencetak laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 8,62 miliar hingga kuartal pertama 2026. Pada periode sama tahun sebelumnya, perseroan mencatat rugi Rp 5,91 miliar. Perseroan mencatat laba per saham dasar Rp 8,06 hingga kuartal pertama 2026 dari kuartal pertama 2025 sebesar Rp 5,53.
Total ekuitas naik menjadi Rp 348,20 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 339,58 miliar. Total liabilitas naik menjadi Rp 312,34 miliar hingga Maret 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 300,73 miliar. Aset naik menjadi Rp 660,55 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 640,31 miliar. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 8,95 miliar hingga Maret 2026.
Kinerja IHSG Pekan Lalu
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur dalam empat hari perdagangan pada 27-30 April 2026. Koreksi IHSG sepekan tersebut didorong ketidakpastian global.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat (1/5/2026), IHSG sepekan turun 2,42% menjadi 6.956,80 dari pekan lalu di 7.129,49. Kapitalisasi pasar BEI anjlok 2,78% menjadi Rp 12.382 triliun dari pekan lalu Rp 12.736 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 2,42% dan masih didominasi tekanan jual. Pihaknya memperkirakan aliran dana keluar masih berlangsung di tengah ketidakpastian global karena ada konflik Timur Tengah. “Di sisi lain masih terjadi pelemahan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com.
Selain itu, koreksi IHSG terjadi, menurut Herditya didorong propek ekonomi Indonesia dan perbankan yang di-downgrade oleh lembaga pemeringkat Fitch.
Sektor Saham
Selain IHSG dan kapitalisasi pasar, rata-rata nilai transaksi harian juga merosot 6,81% menjadi Rp 18,27 triliun dari pekan lalu Rp 19,61 triliun. Rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini juga merosot 15,02% menjadi 2,34 juta kali transaksi dari 2,75 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Kemudian rata-rata volume transaksi harian BEI juga terpangkas 17,32% menjadi 37,11 mliar saham dari 44,88 miliar saham pada pekan lalu. Investor asing melepas saham Rp 7,06 triliun selama sepekan. Pada pekan lalu, investor asing melepas saham Rp 2,95 triliun.
Pada pekan ini, mayoritas sektor saham tertekan. Sektor saham basic materials turun 3,97% dan catat penurunan terbesar. Sektor saham energi susut 2,26%, sektor saham industri melemah 1,6%, dan sektor saham consumer nonsiklikal turun 1,8%. Selanjutnya sektor saham consumer siklikal melemah 1,4%, sektor saham perawatan kesehatan terpangkas 1,51%, sektor saham keuangan turun 0,20%. Lalu sektor saham properti dan real estate susut 1,25%, sektor saham teknologi melemah 0,40%, sektor saham infrastruktur tergelincir 2% dan sektor saham transportasi dan logistic susut 0,64%.