Liputan6.com, Jakarta - Cadangan kas Berkshire Hathaway Inc, perusahaan milik miliarder Warren Buffett melonjak ke level tertinggi sepanjang masa. Cadangan kas Berkshire Hathaway menjadi menjadi USD 397 miliar atau Rp 6.881 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.330) hingga kuartal pertama 2026. Jumlah kas ini naik dari akhir 2025 sebesar USD 373 miliar atau Rp 6.465 triliun.
Lonjakan kas itu terjadi seiring perseroan melepas aset ekuitas USD 8,1 miliar atau Rp 140,40 triliun.
Advertisement
Selain itu, perseroan mencatat laba operasional naik hampir 18% menjadi USD 11,35 miliar hingga kuartal I 2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham Berskhire Hathaway pada kuartal pertama naik menjadi USD 10,1 miliar.
Kinerja keuangan kuartal pertama 2026 ini dirilis saat setelah Greg Abel menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Berkshire Hathaway, menggantikan Warren Buffett.
Mengutip Yahoo Finance, Minggu (3/5/2026), pada kuartal pertama ini, Abel juga melanjutkan pembelian kembali atau buyback saham. Nilainya mencapai USD 234,2 juta atau Rp 4,05 triliun.
Hasil itu menunjukkan bagaimana Abel mulai memberikan pengaruhnya pada Berkshire di mana ada beberapa tanda, investor masih belum yakin dengan CEO baru itu. Dulu identik dengan kinerja yang konsisten melebihi harapan, saham Berkshire Hathaway telah turun di pasar sejak Warren Buffett mengumumkan pengunduran diri dan menyerahkan kendali kepada Abel. Saham Berkshire Hathaway turun 5,9% pada 2026, saat penutupan Jumat pekan ini. Koreksi saham ini juga yang mendorong perseroan untuk melakukan buyback saham. Abel sebelumnya pernah menuturkan, ia dan Buffett telah menentukan nilai instrinstik saham perusahaan lebih tinggi daripada nilai pasarnya.
Pada Sabtu, 2 Mei 2026 merupakan rapat tahunan perdana Abel sebagai CEO. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa dekade Buffett tidak akan memimpin acara itu setelah pria berusia 95 tahun tersebut mengumumkan mengundurkan diri sebagai CEO pada tahun lalu. Namun, ia masih hadir dan bahkan menyampaikan sejumlah komentar untuk membantu memulai rapat.
Kinerja Keuangan Dipantau Investor
Laba Berskhire biasanya dipantau dengan cermat karena bisnis konglomerat ini mulai dari asuransi, kereta api, energi dan manufaktur memberikan gambaran tentang kesehatan ekonomi AS.
Laba dari asuransi perusahaan naik menjadi USD 1,7 miliar, tumbuh sekitar 29% dari tahun lalu ketika unit tersebut terpukul oleh kerugian yang terkait dengan kebakaran hutan Los Angeles.
Namun, Geico mencatat penurunan laba underwriting sebelum pajak sebesar 35% karena unit itu menghadapi lebih banyak kerugian dan menghabiskan lebih banyak biaya untuk mendapatkan klien baru.
“Sebagian besar kelompok pesaing Geico pada kuartal ini mencatat hasil underwriting yang jauh lebih baik,” ujar Analis CFRA Research, Cathy Seifert.
Di sisi lain, laba bersih di unit kereta api yakni BNSF naik 13% menjadi USD 1,4 miliar. Hal ini mengurangi tekanan pada manajemen BNSF yang dipimpin CEO Katie Farmer untuk meningkatkan marjin operasi dan menutup kesenjangan dengan pesaingnya yang paling efisien.
Kinerja Bisnis Lainnya
Abel telah memberikan mandat yang jelas kepada manajemen divisi untuk meningkatkan bisnis di bidang tersebut. Pada pertemuan itu, ia senang dengan hasil kuartal pertama, meski masih ada ruang untuk perbaikan.
“Kami telah mendengar bahwa ada beberapa efisiensi biaya yang diterapkan di BNSF, dan itu terlihat dalam hasil kuartal pertama,” kata Seifert.
Abel memutuskan untuk menjual kepemilikan saham yang sebelumnya dikelola oleh Todd Combs, mantan pemilih saham Berkshire, seperti yang dilaporkan Wall Street Journal bulan lalu, mengutip sumber anonim yang mengetahui investasi Berkshire. JPMorgan Chase & Co. mengumumkan pada Desember mereka telah mempekerjakan Combs untuk peran penasihat investasi yang luas.
Berkshire memutuskan untuk tidak melakukan penurunan nilai aset baru pada Kraft Heinz Co, salah satu kepemilikan saham terbesarnya untuk saat ini, meskipun nilai buku kepemilikannya di raksasa makanan kemasan tersebut melebihi nilai wajarnya sebesar USD 1,4 miliar. Tahun lalu, perusahaan tersebut mengalami kerugian sebesar USD 3,8 miliar.