Harapan Ojol di Balik Janji Potongan 8 Persen: Jangan Ada Drama Lagi

Peringatan Hari Buruh Internasional membawa angin segar bagi para pengemudi ojol.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 01 Mei 2026, 17:21 WIB
Peringatan Hari Buruh Internasional membawa angin segar bagi para pengemudi ojol. (Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro)

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang dipusatkan di sekitar kawasan Monas, Jakarta, membawa angin segar bagi para pengemudi ojek online (ojol). Dalam momen tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyinggung soal aturan potongan aplikator yang akan ditekan menjadi lebih kecil, hingga mentok di angka 8 persen dari sebelumnya yang dirasa memberatkan.

Artinya, keuntungan tarif nantinya akan masuk ke kantong pengemudi atau driver. Wacana ini pun langsung mendapat sorotan dari para driver.

Zakaria, seorang mitra pengemudi ojol yang tengah beristirahat di kawasan Sarinah Jakarta, angkat bicara. Ia merespons positif wacana potongan 8 persen tersebut, namun dengan satu catatan penting: penerapan aturan itu harus transparan.

Baginya, persentase potongan yang kecil tidak akan berarti jika aplikator kembali membuat skema layanan baru yang ujung-ujungnya memangkas pendapatan pengemudi.

"Ya kalau respons saya sih, ya mudah-mudahan saja benar ya, nggak ada lagi drama-drama. Kan sekarang banyak-banyak drama nih. Kayak model-model (layanan) hemat," ujar Zakaria di lokasi kepada Liputan6.com, Jumat (1/5/2026).

Pria yang kerap beredar di kawasan Jakarta Pusat dan sekitarnya itu mengaku ada sedikit kekhawatiran, jika penurunan potongan ke 8 persen justru memunculkan sistem baru dari pihak aplikator.

"Entar nongol apa lagi nih ke depannya kalau ada potongan 8 persen ini. Ke depannya sih saya cuma kepengin benar-benar real saja nih 8 persen, jangan ada drama-drama lagi," harap dia.

 

 

Tolak Wacana Ojol Jadi Pegawai Formal

Di bawah rindang pohon di Selatan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Farid mengisahkan keresahannya. Bukan soal jalanan macet atau orderan penumpang yang dikeluhkannya, tapi potongan biaya aplikasi yang dinilainya memotong cukup besar argo perjalanan yang setiap hari dilakoninya.

Pengemudi yang sudah mengaspal sejak tahun 2015 tersebut kemudian membandingkan kebijakan saat ini dengan masa lalu. Ia ingat ketika itu, potongan aplikator dipatok tinggi mencapai 20 persen, namun sistemnya jelas dan tidak membingungkan.

"Kalau sebelumnya kan kita (potongannya) 20 persen. Tapi 20 persen itu nggak ada drama, Pak. Udah benar-benar 20 persen, ya udah 20 persen," tegasnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan pembagian tarif saat terjadi kenaikan harga bensin. Menurutnya, keuntungan terbesar saat ini masih masuk ke kantong aplikator.

"Kalau sekarang kan dramanya ya gitu. Kayak kemarin naik harga, yang dinaikin ke customer itu bisa Rp 2 ribu, tapi ke kitanya (driver) cuma Rp 500 perak. Jadi kebanyakan larinya ke aplikasi," keluh Zakaria.

Selain membahas soal tarif dan potongan aplikasi, Zakaria juga menanggapi wacana yang tengah berkembang, terkait peralihan status mitra ojol menjadi pekerja atau karyawan formal di perusahaan aplikator.

Sebagai pengemudi ojol yang menggantungkan hidup selama 11 tahun dengan "jaket hijau", dia secara tegas menolak. Bagi Zakaria, fleksibilitas dan kebebasan adalah alasan utama ia memilih pekerjaan sebagai ojol.

"Kalau saya sih nggak setuju Pak, kalau seandainya mitra jadi pekerja. Kan kita sebagai mitra maunya bebas ya. Kalau memang kita mau jadi pekerja, kenapa kita nggak kerja (di perusahaan) dari sekarang gitu? Kita jadi ojol ini karena kita ya nggak mau terikat," dia menandasi.

   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya