Liputan6.com, Teheran - Pemerintah Iran memperingatkan akan melancarkan “serangan panjang dan menyakitkan” terhadap posisi Amerika Serikat jika Washington kembali melakukan aksi militer, di tengah kebuntuan konflik yang turut memicu krisis energi global.
Peringatan tersebut muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan mempertimbangkan opsi serangan baru guna menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan terkait program nuklir dan pembukaan Selat Hormuz.
Advertisement
Jalur laut strategis tersebut hingga kini masih tertutup, sekitar dua bulan setelah konflik AS-Israel dengan Iran, yang berdampak pada terhambatnya sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Kondisi ini telah mendorong lonjakan harga energi global serta meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia.
Meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, Iran tetap memblokir selat tersebut sebagai respons atas blokade angkatan laut AS terhadap ekspor minyaknya. Situasi ini membuat upaya diplomatik antara kedua pihak mengalami jalan buntu, dikutip dari laman Japan Today, Jumat (1/5/2026).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menilai ekspektasi tercapainya kesepakatan dalam waktu singkat tidak realistis, terlepas dari siapa yang menjadi mediator.
Di sisi lain, laporan menyebut United States Central Command (CENTCOM) telah menyiapkan sejumlah opsi militer, termasuk serangan udara terbatas hingga kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk membuka kembali jalur pelayaran.
Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa setiap serangan baru, meski berskala kecil, akan memicu respons keras terhadap kepentingan AS di kawasan. Komandan Angkatan Udara Iran bahkan mengancam akan menargetkan kapal perang AS jika konflik meningkat.
Kendali Selat Hormuz
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataannya menegaskan Teheran akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan menolak kehadiran pihak asing di kawasan tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di jalur energi global ini dapat memicu penurunan pertumbuhan ekonomi dunia, peningkatan inflasi, serta lonjakan angka kemiskinan.
Di tengah eskalasi tersebut, beberapa negara seperti Uni Emirat Arab mulai mengambil langkah antisipatif dengan melarang warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak, serta meminta warga yang berada di kawasan tersebut untuk segera kembali.
Upaya internasional untuk meredakan ketegangan terus berlangsung, termasuk rencana pembentukan koalisi maritim guna menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, sejumlah negara menyatakan partisipasi mereka bergantung pada berakhirnya konflik.
Hingga kini, baik Washington maupun Teheran belum menunjukkan tanda-tanda kompromi, memperpanjang ketidakpastian di kawasan Teluk yang berdampak luas terhadap stabilitas global.