Dari Semangat Kartini ke Pasar Dunia, Cokelatin Binaan BRI Tunjukkan Kekuatan UMKM Perempuan

Kisah Cokelatin binaan BRI sukses tembus pasar global. Berawal dari hobi, kini jadi UMKM inspiratif berkat pendampingan Rumah BUMN.

oleh Wuri AnggariniDiterbitkan 01 Mei 2026, 09:56 WIB
Foto dok. BRI

Liputan6.com, Jakarta - Semangat perjuangan Kartini terus menemukan relevansinya di era modern, terutama melalui kiprah perempuan di sektor usaha. Hal ini tergambar dalam gelaran Bazaar Srikandi Pertiwi yang diinisiasi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebagai ruang apresiasi bagi pelaku UMKM perempuan.

Melalui program Rumah BUMN, BRI menghadirkan bazar bertajuk “Srikandi Pertiwi” yang menampilkan beragam produk unggulan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga bagian dari komitmen BRI dalam mendorong pemberdayaan ekonomi lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Di antara deretan pelaku usaha, kisah Cokelatin menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. UMKM cokelat artisan ini menunjukkan bahwa inovasi, kreativitas, dan pendampingan yang tepat mampu membawa usaha kecil menembus pasar global.

Perjalanan Cokelatin dari Hobi hingga Ekspor

Foto dok. BRI

Cokelatin didirikan pada 2016 oleh Irene Farriha. Nama usaha ini sendiri merupakan kombinasi dari nama Irene dan suaminya, Nugi, yang mencerminkan kedekatan personal dalam membangun bisnis tersebut.

Awal perjalanan usaha ini terbilang sederhana. Saat masih bekerja di bidang event organizer, Irene kerap berinteraksi dengan pelaku UMKM. Dari situ, ia mulai mencoba meracik minuman cokelat sendiri dan membawanya ke kantor. Respons positif dari rekan kerja menjadi titik awal keseriusannya menekuni bisnis cokelat.

Untuk menjaga kualitas produk, Irene memilih bahan baku premium, termasuk biji kakao Grade 1 yang difermentasi secara ketat. Salah satu keunikan Cokelatin terletak pada penggunaan varietas kakao langka Javakrioyo dari Jawa Timur.

"Itu adalah salah satu varietas kakao langka yang jumlahnya cuma ada 5% di dunia," jelas Irene. 

Konsistensi dalam menjaga kualitas baku dan Quality Control (QC) yang ketat membuat Cokelatin sukses menembus standar perhotelan bintang lima, membuktikan daya saing produk lokal yang sejajar dengan produk internasional lainnya.

Dalam menjalankan bisnis cokelat artisan ini, tantangan terbesar yang dihadapi Irene justru datang dari sisi edukasi pasar. Banyak konsumen perempuan menolak cokelat karena khawatir akan kenaikan berat badan. Irene secara konsisten mematahkan mitos tersebut melalui edukasi produk.

Perjalanan Cokelatin untuk "naik kelas" dimulai saat Irene bergabung dengan Rumah BUMN Jakarta di bawah naungan BRI sejak 2018. Sebelumnya, ia hanya mengandalkan pemasaran melalui jaringan agen dan reseller dari kalangan ibu rumah tangga.

Tahun 2020 menjadi ujian terberat sekaligus titik balik. "Dulu dari awal berdiri saya tuh termasuk UMKM yang kurang melek teknologi. Kita tidak go online pada saat itu, makanya kita kehajar di COVID 2020," aku Irene jujur.

Di tengah krisis tersebut, ia memutuskan untuk bangkit kembali dengan membenahi sistem bisnisnya secara total dengan bimbingan Rumah BUMN. Mulai dari membangun website resmi, mengoptimalkan Instagram, hingga merambah platform e-commerce.

"Dukungannya nyata, kami tidak hanya diajarkan upgrade ilmu, tapi juga benar-benar dibimbing dan didengarkan apa yang kami butuhkan," tambahnya.

Peran BRI Dorong UMKM Naik Kelas

Dukungan BRI lebih dari sekadar teori digital. Cokelatin dilibatkan secara aktif dalam berbagai program BRI, seperti pelatihan BRI UMKM EXPO(RT) Brilianpreneur setiap tahunnya. Pendampingan ini juga mencakup pameran rutin di BRI Pusat yang membantu memperkuat branding di pasar lokal.

Puncaknya terjadi pada tahun 2022, saat BRI memfasilitasi Cokelatin untuk tampil di pameran internasional Specialty Coffee Expo di Boston, Amerika Serikat. "Momen itu jadi batu loncatan luar biasa. Di sana kami berhasil mendapatkan pembeli dan mulai mengirim barang ekspor," jelas Irene bangga

Keberhasilan di kancah internasional ini tidak hanya mendongkrak omzet, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen lokal. Bagi Irene, pengalaman ekspor ini bukan sekadar soal angka penjualan, melainkan bukti bahwa produk lokal memiliki tempat di panggung dunia berkat pembinaan yang tepat.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa kehadiran Rumah BUMN bertujuan menjadi wadah kolaboratif bagi pelaku usaha agar mampu meningkatkan kapasitas sekaligus daya saing bisnis.

Ia menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk membantu UMKM memperluas jaringan serta menangkap peluang di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.

Hingga saat ini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia.

“Banyak pelaku usaha yang semula hanya menjual produk di pasar lokal, kini telah memasarkan produknya secara daring bahkan menembus pasar ekspor. Ini menunjukkan bahwa pendampingan yang berkelanjutan dan akses ekosistem digital mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya