10 Transfer Terburuk Juventus yang Mengejutkan Dunia

Juventus dikenal sebagai klub dengan strategi transfer cerdas, namun beberapa keputusan justru berakhir buruk. Berikut 10 transfer terburuk dalam sejarah Bianco

oleh Aga Deta AndityaDiterbitkan 30 April 2026, 15:41 WIB
Paul Pogba memilih meninggalkan Old Trafford setelah kontraknya habis. Ia memutuskan untuk kembali ke Juventus setelah berpisah dengan MU. Pemain berusia 29 tahun tersebut sebelumnya pernah membela Juventus selama empat tahun antara 2012 sampai 2016. Pogba kembali ke Allianz Stadium dengan status bebas transfer. Gelandang asal Prancis tersebut dikontrak jangka panjang dengan durasi selama empat tahun. (AFP/Ethan Miller)

Liputan6.com, Jakarta - Juventus lama dikenal sebagai klub dengan strategi transfer yang sangat cermat di Eropa. Mereka sering menjadi contoh dalam membeli dan menjual pemain secara efisien.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa bahkan klub sekelas Juventus tidak luput dari kesalahan besar di bursa transfer. Beberapa nama justru gagal memenuhi ekspektasi tinggi di Turin.

Dalam beberapa tahun terakhir, kesalahan tersebut bahkan mulai lebih sering terjadi. Hal ini menjadi sorotan karena Juventus biasanya identik dengan keputusan yang tepat.

Dari era kejayaan hingga masa transisi, banyak transfer mahal yang berujung kekecewaan. Beberapa di antaranya bahkan meninggalkan kerugian besar bagi klub.

Berikut daftar 10 transfer terburuk dalam sejarah panjang Juventus di sepak bola modern dan klasik.


1. Diego – €25 juta dari Werder Bremen, 2009

Ekspresi playmaker Juventus, Diego Ribas da Cunha di laga lanjutan Serie A melawan Palermo yang berlangsung di Olympic Stadium, Turin, 18 Februari 2010. AFP PHOTO / GIORGIO PEROTTINO

Diego datang ke Juventus dengan reputasi sebagai salah satu gelandang serang terbaik Eropa. Performanya di Werder Bremen membuatnya menjadi incaran banyak klub besar.

Namun, Juventus saat itu sedang berada dalam masa transisi yang sulit. Kondisi tim yang tidak stabil membuat Diego kesulitan menunjukkan kualitas terbaiknya.

Ia tidak pernah benar-benar menjadi pusat permainan seperti yang diharapkan klub. Satu musim di Turin terasa seperti langkah yang salah bagi kariernya.

Pada akhirnya ia dijual ke Wolfsburg dengan harga lebih rendah. Kariernya di Juventus menjadi awal penurunan reputasi.


2. Patrick Vieira – €15 juta dari Arsenal, 2005

Direktur Olahraga Real Madrid, Emilio Butragueno, menyebut Patrick Vieira sebagai pemain yang cocok untuk menambal lini tengah Real Madrid yang kurang maksimal setelah ditinggal Makalele. Dan pada 2004, kepindahannya hampir terjadi. Namun, sang pemain lebih memilih untuk bertahan satu musim lagi di Arsenal sebelum akhirnya bergabung dengan Juventus.

Kedatangan Vieira dianggap sebagai transfer besar pada masanya. Juventus berharap pengalaman dan kualitasnya bisa mendominasi lini tengah.

Namun, penurunan fisik membuatnya tidak lagi sekuat saat di Arsenal. Ia terlihat kesulitan beradaptasi dengan tempo Serie A.

Laga melawan Arsenal di Liga Champions menjadi bukti jelas penurunan performanya. Ia kalah bersaing dengan generasi muda seperti Cesc Fabregas.

Hanya satu musim ia bertahan sebelum pindah ke Inter Milan. Kepergiannya terjadi di tengah krisis besar Juventus saat itu.


3. Juan Esnaider – €4,5 juta dari Espanyol, 1999

4. Juan Eduardo Esnaider – Kesulitan menembus skuad utama Real Madrid membuat pria asal Argentina ini hengkang ke Real Zaragoza. Selama dua musim, mantan pemain Juventus ini mencetak 29 gol dalam 61 pertandingan. (EPA/Rafael Diaz)

Esnaider didatangkan sebagai solusi darurat akibat cedera pemain utama. Juventus berharap ia bisa menjadi pelapis yang efektif.

Namun kenyataannya sangat jauh dari harapan klub. Ia kesulitan mencetak gol dan tidak mampu beradaptasi dengan Serie A.

Lanjut Baca:

Selama membela Juventus, ia tidak mencetak satu gol pun. Performa buruknya membuatnya cepat tersingkir dari tim utama. Ia akhirnya kembali ke Spanyol tanpa meninggalkan kesan berarti. Transfer ini dianggap gagal total oleh klub.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya