Dari Balik Jeruji Penjara Gunung Sindur Warga Binaan Hasilkan Karya untuk Ketahanan Pangan Nasional

Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur berusaha memberikan pembinaan kepada warga binaan maupun narapidana.

oleh Dicky Agung PrihantoDiterbitkan 29 April 2026, 13:15 WIB
Menteri Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto melihat langsung kandang baterai hasil karya warga binaan Lapas Narkotika Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Terkadang Lembaga Pemasyarakat (Lapas) dianggap menjadi sebuah kisah miring dalam perjalanan hidup, serta bagi mereka yang pernah mendekam akan cap negatif. Namun, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat berusaha merubah paradigma tersebut.

Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur berusaha memberikan pembinaan kepada warga binaan maupun narapidana. Ada pun pembinaan yang dilakukan berupa pembuatan kandang baterai, kerap digunakan untuk petani peternak ayam petelur.

Pada peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 tahun, kandang baterai hasil produksi warga binaan Lapas Gunung Sindur, sukses menyita perhatian banyak pihak saat dipamerkan di Gedung Auditorium Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan (Poltekip) Tangerang pada Senin (27/4/2026).

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto, saat melakukan kunjungan, menghentikan langkah kakinya dan melihat kandang baterai karya warga binaan Lapas Narkotika Gunung Sindur. Secara teliti, Menteri Agus memperhatikan kandang baterai ayam petelur.

Menteri Agus langsung memanggil para Pembina di Lapas Narkotika Gunung Sindur terkait kandang baterai.

"Kita mentransformasi lembaga pemasyarakatan menjadi sentral bisnis yang mandiri, berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas. Inilah wajah baru pemasyarakatan," ujar Agus.

Agus mengapresiasi atas berbagai capaian yang ditampilkan, sekaligus memperkuat komitmen dalam mendorong program pembinaan yang produktif.

Selain kandang baterai untuk ayam petelur, dalam pameran itu menampilkan sejumlah karya warga binaan dari sejumlah lapas dan rutan lainnya yang berbasis pada program penguatan ketahanan pangan.

 

Produksi Ayam Petelur

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur Bambang Widjanarko melihat langsung kandang baterai karya warga binaan. (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

Di sisi lain, Liputan6.com mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung produksi kandang baterai ayam petelur. Didampingi, Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Bambang Widjanarko, Liputan6.com melihat sejumlah warga binaan sedang merakit kandang baterai ayam petelur.

"Jadi kita membuat kandang baterai untuk ayam dan Alhamdulillah, karena ini sudah menjadi program ketahanan pangan khususnya dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, bahwa di setiap UPT juga mempunyai peternakan ayam petelur," kata Bambang, Rabu (29/4/2026).

Lapas Narkotika Gunung Sindur ingin warga binaan setelah selesai masa pembinaan, dapat memiliki keterampilan saat kembali ke lingkungan masyarakat. Akan hal itu, Lapas Gunung Sindur memberikan pembekalan ilmu pembuatan kandang baterai sebagai bekal warga binaan saat hidup bermasyarakat.

"Ini yang mengerjakan pembuatan kandang baterai warga binaan, kami hanya mengawasi dan memberikan pendampingan," kata Bambang.

Sambil sesekali memberikan arahan kepada warga binaan, Bambang menilai produksi kandang baterai ayam petelur sudah mendapatkan pesanan dari enam UPT. 

Ada pun pesanan tersebut berasal dari Lapas Kelas 1 Cipinang, Rutan Depok, Rutan Bandung, Subang, Bekasi, sekarang kita kirim ke Lapas Terbuka Kendal di Jawa Tengah.

"Sebentar lagi juga kita akan kirim ke Lapas Slawi di Jawa Tengah juga," ucap Bambang.

 

Penuhi Pesanan Lapas Lain

Warga binaan Lapas Narkotika Gunung Sindur saat proses pembuatan kandang baterai ayam petelur. (Istimewa)

Lapas Narkotika Gunung Sindur tidak menampik mendapatkan pesanan dari luar pulau jawa. Namun, Lapas Narkotika Gunung Sindur akan fokus terlebih dahulu untuk memenuhi pesanan antar Lapas.

"Kami juga sudah membuka penjualan di marketplace," terang Bambang.

Bambang mengungkapkan, hasil penjualan dari kandang baterai ayam petelur, turut diberikan kepada warga binaan. Nantinya hasil dari penjualan, dapat dimanfaatkan warga binaan untuk mengirimkan uang kepada keluarganya.

"Bisa juga untuk sebagai modal usaha warga binaan setelah selesai menjalani pembinaan dari sini," ungkap Bambang.

Warga binaan mampu menyelesaikan produksi kandang baterai dalam sehari mencapai 100 unit. Adapun warga binaan yang ikut memproduksi kandang baterai di bengkel khusus Lapas Narkotika Gunung Sindur mencapai 20 orang.

"Untuk satu set kandang baterai di jual sekitar Rp1,5 juta," tutur Bambang.

Lapas Narkotika Gunung Sindur tidak hanya sekedar menjadi warga binaan menjalani masa hukuman atas perbuatan masa lalu.

Dinginnya lantai Lapas Narkotika Gunung Sindur dapat menjadi refleksi warga binaan maupun narapidana merubah hidup menjadi lebih baik dan produktif setelah menjalani hukuman.

"Kami ingin setelah dari sini, warga binaan dapat menjalani hidup lebih positif dan memberikan karya kreatif untuk pertumbuhan ekonomi, serta ketahanan pangan nasional melalui kandang baterai ayam petelur," pungkas Bambang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya