270 Pebasket Muda Ikut DBL Camp 2026, Berebut Tiket Latihan di Amerika Serikat

DBL Camp 2026 diikuti 270 pebasket dari berbagai daerah. Mereka akan memperebutkan 24 tiket berlatih di Amerika Serikat.

oleh ThomasDiterbitkan 28 April 2026, 23:00 WIB
Pembukaan DBL Camp 2026 (Liputan6.com/Thomas)

Liputan6.com, Jakarta - DBL Camp 2026 resmi dimulai pada Selasa 28 April 2026. 270 pebasket pelajar bersaing untuk mendapatkan kesempatan latihan dan belajar bola basket di Amerika Serikat. Dari 270 peserta hanya akan terpilih 24 atlet untuk berangkat ke negeri Paman Sam.

DBL Camp 2026 merupakan edisi ke-17 dan keempat kalinya beruntun diadakan di Jakarta. Namun ada yang spesial di edisi kali ini. Untuk pertama kalinya diadakan di DBL Academy Jakarta East yang baru dibuka di Asya, Jakarta Garden City, Jakarta Timur.

Ke-270 pebasket muda ini terdiri dari 135 laki-laki dan 135 perempuan. Mereka tersaring dari first dan second team kompetisi DBLyang terselenggara di 31 kota dan 22 provinsi, Road to DBL Camp, dan pemenang DBL Play Road to DBL Camp.

“Pelaksanaan Kopi Good Day DBL Camp tahun ini istimewa karena peserta akan menjalani serangkaian latihan di tiga lapangan di DBL Academy East Jakarta yang semuanya berstandar FIBA level 1. Yang lebih penting lagi, pelaksanaan tahun ini jadi riset sport science,” kata founder DBL Indonesia Azrul Ananda.

Persaingan untuk bisa mendapatkan tiket ke Amerika Serikat di DBL Camp 2026 lebih sulit dan berat. Pasalnya kini ada sejumlah fasilitas anyar untuk para peserta. Fasilitas itu berfungsi sebagai measurement test dari Vald Performance. Alat-alat ukur tersebut adalah Nordbord, Force Frame, dan Force Decks.


Metode Latihan baru

Pembukaan DBL Camp 2026

Nordbord dipakai untuk mengukur kekuatan otot hamstring (kanan-kiri) serta mendeteksi bagian otot mana yang lebih kuat dan lemah. Sedangkan Force Frame, berfungsi untuk mengukur dan mengetahui kekuatan otot kaki secara isometrik, sekaligus mendeteksi adanya perbedaan kekuatan antara otot tubuh bagian kanan dan kiri.

Ada juga peralatan Force Decks yang berfungsi mengukur tinggi lompatan, tenaga saat mendarat (power landing) dan masa layang (air time). Kehadiran alat-alat ukur baru ini melengkapi metode pengukuran DBL Camp yang selama ini hanya fokus pada tinggi lompatan dan kecepatan.

“Data-data dari pengukuran itu akan menjadi acuan untuk melihat sejauh mana kekuatan fisik pemain, kebutuhan metode latihan berdasarkan data yang dihasilkan, potensi cedera, hingga efektivitas gerakan. Seperti sebuah laboratorium olahraga,” kata Azrul.

Lanjut Baca:

Selain itu di tahun 2026 ini mengusung Yo-Yo Test untuk menggantikan metode Beep Test yang sebelumnya digunakan. Yo-Yo Test diyakini lebih relevan untuk olahraga bola basket, karena skema tesnya sangat mirip dengan dinamika di lapangan basket.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya