Liputan6.com, Washington D.C - Pemerintah Amerika Serikat menilai proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama dua bulan belum memenuhi tuntutan utama Washington. Presiden Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan usulan tersebut, terutama karena tidak memasukkan isu program nuklir Iran sebagai prioritas awal pembahasan.
Seorang pejabat AS yang mengetahui pertemuan internal Gedung Putih mengatakan proposal Iran mengusulkan agar pembahasan mengenai program nuklir ditunda hingga perang berakhir dan sengketa terkait jalur perdagangan di Teluk diselesaikan. Pendekatan ini dinilai bertentangan dengan posisi AS yang menginginkan isu nuklir menjadi bagian utama dalam negosiasi sejak awal.
Advertisement
Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan pemerintah tidak akan membahas detail negosiasi di ruang publik, dikutip dari laman Nikkei Asia, Selasa (28/4/2026).
“Kami telah menjelaskan garis merah kami,” ujarnya, seraya menekankan bahwa Washington tetap berupaya mengakhiri konflik yang dimulai sejak Februari.
Upaya diplomasi juga menunjukkan tanda-tanda stagnasi. Utusan khusus AS, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner, membatalkan rencana kunjungan ke Islamabad akhir pekan lalu. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan serangkaian perjalanan diplomatik ke Pakistan, Oman, dan Rusia untuk menggalang dukungan.
Di Moskow, Araqchi bertemu Presiden Vladimir Putin, yang disebut memberikan dukungan terhadap posisi Iran. Araqchi juga menyatakan bahwa Washington mulai mendorong negosiasi karena belum mencapai tujuan militernya.
Menurut sumber pejabat Iran, proposal yang diajukan mencakup beberapa tahap. Tahap awal menuntut penghentian perang oleh AS dan Israel serta jaminan tidak adanya serangan lanjutan. Selanjutnya, pembahasan akan difokuskan pada pencabutan blokade maritim AS dan pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah pengawasan Iran. Isu program nuklir baru akan dibahas pada tahap akhir, termasuk tuntutan Iran atas hak memperkaya uranium.
Kenaikan Harga Minyak
Ketegangan yang belum mereda turut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak kembali naik dalam perdagangan awal Asia, seiring terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz—jalur penting bagi pasokan energi dunia.
Data pelacakan kapal menunjukkan penurunan drastis lalu lintas tanker. Jika sebelum konflik sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi selat setiap hari, kini jumlahnya menyusut menjadi hanya beberapa kapal, bahkan tanpa muatan minyak untuk pasar global. Setidaknya enam kapal tanker yang membawa minyak Iran dilaporkan dipaksa kembali oleh blokade AS dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah Iran mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional. Dalam pernyataan resminya, Teheran menyebut penyitaan kapal tanker sebagai bentuk “pembajakan di laut lepas”.
Sementara itu, tekanan domestik terhadap Presiden Trump meningkat seiring menurunnya tingkat popularitasnya. Konflik yang berkepanjangan dan dampaknya terhadap ekonomi, termasuk inflasi energi, menjadi sorotan publik di dalam negeri.
Dengan posisi kedua pihak yang masih berjauhan, prospek tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat dinilai masih belum pasti.