Rekor Belanja Militer Global, Asia Makin Agresif Perkuat Pertahanan

Belanja militer global mencapai rekor baru, dengan Asia mencatat lonjakan signifikan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 28 April 2026, 21:00 WIB
Kendaraan militer membawa rudal HQ-9B dalam parade HUT ke-70 RRC di Beijing, China, Selasa (1/10/2019). HQ-9 mampu mencegat drone, pesawat, dan rudal dari jarak 160 mil. (AP Photo/Ng Han Guan)

Liputan6.com, Jakarta - Belanja militer global melonjak hingga mencapai USD 2,89 triliun pada 2025, mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik, ketidakpastian, serta gejolak geopolitik di berbagai kawasan.

Laporan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), dikutip dari CNBC, Selasa (28/4/2026), menyebutkan bahwa pengeluaran pertahanan dunia telah meningkat selama 11 tahun berturut-turut.

Menurut SIPRI, kenaikan ini dipicu oleh “tahun yang diwarnai perang, ketidakpastian, dan gejolak geopolitik dengan dorongan besar untuk persenjataan.”

Secara global, belanja militer kini setara dengan 2,5% dari produk domestik bruto (PDB), menjadi level tertinggi sejak 2009.

Eropa menjadi pendorong utama kenaikan global dengan lonjakan belanja sebesar 14% menjadi USD 864 miliar. Selain Eropa, kawasan Asia dan Oseania juga menjadi kontributor penting dalam kenaikan belanja militer global.

Asia Muncul sebagai Motor Baru

Kendaraan militer membawa rudal balistik DF-17 dalam parade HUT ke-70 RRC di Beijing, China, Selasa (1/10/2019). DF-17 merupakan rudal balistik berkecepatan hipersonik yang bisa mencapai daratan Amerika Serikat. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Pengeluaran belanja militer di kawasan Asia dan Oseania naik 8,1% menjadi USD 681 miliar pada 2025, mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak 2009.

Peneliti senior SIPRI, Diego Lopes da Silva, menyebut peningkatan ini didorong oleh ketegangan regional serta ketidakpastian terhadap dukungan Amerika Serikat.

“Sekutu AS di Asia dan Oseania seperti Australia, Jepang, dan Filipina meningkatkan belanja militer mereka, tidak hanya karena ketegangan kawasan, tetapi juga karena ketidakpastian dukungan AS,” ujarnya.

Taiwan mencatat lonjakan belanja militer sebesar 14% menjadi USD 18,2 miliar atau sekitar 2,1% dari PDB, di tengah meningkatnya aktivitas militer China di sekitar wilayah tersebut.

Sementara itu, Jepang meningkatkan anggaran pertahanan sebesar 9,7% menjadi USD 62,2 miliar, tertinggi sejak 1958. Perdana Menteri Sanae Takaichi bahkan berkomitmen menaikkan belanja pertahanan hingga 2% dari PDB.

AS Turun

Kapal induk kelas Nimitz milik Angkatan Laut AS, USS Abraham Lincoln, melintasi Samudra Atlantik selama latihan transit selat [US Navy/Mass Communication Specialist 3rd Class Clint Davis/US DoD]

Meski belanja militer global meningkat, laju pertumbuhannya melambat menjadi 2,9% pada 2025, jauh di bawah kenaikan 9,7% pada 2024. Hal ini dipengaruhi penurunan belanja militer Amerika Serikat sebesar 7,5%.

Namun, Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan anggaran pertahanan terbesar di dunia, mencapai USD 954 miliar. China berada di posisi kedua dengan estimasi USD 336 miliar.

Direktur program SIPRI, Nan Tian, menilai penurunan belanja militer AS kemungkinan hanya bersifat sementara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya