Bus Shalawat Gratis untuk Jemaah Haji, Diminta Tak Beri Tip ke Sopir

Kepala Bidang Layanan Transportasi PPIH Arab Saudi 2026 Syarif Rahman mengimbau jemaah haji Indonesia tidak memberikan tip kepada sopir bus shalawat.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 28 April 2026, 16:05 WIB
Potret bus yang akan jadi armada bus shalawat saat musim haji 2026. (dok. Media Center Haji 2026)

Liputan6.com, Makkah - Kepala Bidang Layanan Transportasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026, Syarif Rahman, meminta para jemaah haji tak memberikan tip pada sopir bus shalawat selama berada di Makkah.

"Tidak perlu memberi tip berapa pun pada sopir bus. Mereka sudah dibayar oleh perusahaan," kata dia di Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Minggu, 26 April 2026.

Syarif menegaskan, layanan bus shalawat yang gratis disediakan untuk seluruh jemaah tanpa terkecuali, termasuk yang tinggal di hotel dengan jarak kurang dari dua kilometer dari Masjidil Haram.

Kebijakan ini menjadi bentuk tambahan layanan dari pemerintah Indonesia di luar ketentuan Kerajaan Arab Saudi.

Operasional transportasi ini melibatkan enam perusahaan penyedia alias syarikah, dengan total 21 rute yang mencakup lima wilayah utama, yakni Misfalah, Jarwal, Raudhah, Syisyah, dan Aziziyah. Setiap jemaah dibekali kartu rute yang wajib dibawa saat naik bus agar tidak salah tujuan.

"Jemaah cukup mencocokkan nomor dan warna rute di kartu," ucap Syarif.

Bus shalawat mengantar jemaah melalui tiga terminal utama, yaitu Ajyad untuk wilayah Misfalah, Jabal Ka'bah untuk Jarwal dan Aziziyah, serta Syib Amir bagi jemaah di Syisyah dan Raudhah.

Sistem ini dirancang untuk memudahkan arus pergerakan jemaah menuju dan dari Masjidil Haram.

 

Bus Khusus Lansia dan Penyandang Disabilitas

Potret bus yang akan jadi armada bus shalawat saat musim haji 2026. (dok. Media Center Haji 2026)

Pada puncak operasional, jumlah armada mencapai sekitar 452 unit bus kota dengan usia maksimal lima tahun. Sebanyak 52 unit di antaranya dikhususkan untuk melayani lansia dan penyandang disabilitas dengan fasilitas akses kursi roda.

"Bus disabilitas bisa diturunkan agar jemaah pengguna kursi roda tidak perlu diangkat, cukup didorong masuk ke dalam," jelas Syarif.

Distribusi armada diatur secara dinamis dengan menempatkan sebagian bus di terminal dan sebagian lainnya di titik-titik dekat hotel. Menjelang waktu salat, armada akan diperbanyak di halte untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.

Waktu tunggu jemaah di halte rata-rata berkisar 15 hingga 20 menit pada kondisi padat. Koordinasi antarpetugas dilakukan secara real-time untuk menjaga keseimbangan armada di setiap rute.

Selain itu, jemaah diminta menjaga barang bawaan selama perjalanan. Meski sebagian besar barang yang tertinggal dapat ditemukan kembali, petugas tetap mengimbau kewaspadaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya