Liputan6.com, Jakarta - Pemegang saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yakni Lo Kheng Hong melepas saham SIMP pada 14 April 2026. Tujuan penjualan saham SIMP ini untuk merealisasikan keuntungan.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (26/4/2026), Lo Kheng Hong melepas saham SIMP sebanyak dua kali pada 14 April 2026. Pertama, ia melepas 1.377.000 saham SIMP dengan harga Rp 925 per saham. Kedua, ia menjual 6.812.000 saham SIMP dengan harga Rp 920 per saham. Total penjualan saham 8.189.500 saham SIMP dengan nilai transaksi Rp 7,54 miliar.
Advertisement
“Tujuan transaksi untuk merealisasikan keuntungan dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip.
Setelah transaksi penjualan saham SIMP, Lo Kheng Hong memiliki 771.017.500 saham SIMP atau setara 4,97%. Sebelum transaksi tersebut, Lo Kheng Hong memiliki 779.207.000 saham SIMP.
Berdasarkan data RTI, harga saham SIMP turun 5,23% menjadi Rp 815 per saham. Harga saham SIMP dibuka stagnan di posisi Rp 860 per saham. Saham SIMP berada di level tertinggi Rp 865 dan level terendah Rp 810 per saham. Total frekuensi perdagangan 6.008 kali dengan volume perdagangan saham 471.977 saham. Nilai transaksi Rp 39,1 miliar. Harga saham SIMP melonjak 42,98% secara year to date (ytd).
Sedangkan IHSG turun 3,38% menjadi 7.129,49. Indeks saham LQ45 susut 3,51% menjadi 690,76. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Adapun jelang akhir pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.383,40 dan level terendah 7.115,97. Sebanyak 670 saham melemah sehingga bebani IHSG. 83 saham menguat dan 62 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan 2.685.048 saham dengan volume perdagangan saham 47,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 24,3 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.211.
Seluruh sektor saham melemah. Sektor saham energi turun 4,22%, sektor saham basic susut 2,76%, sektor saham industri merosot 3,47% dan sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 3,08%. Sementara itu, sektor saham siklikal susut 4,27%.
Lalu sektor saham kesehatan merosot 1,52%, sektor saham keuangan terpangkas 2,27%. Sektor saham properti turun 3,89%, sektor saham teknologi melemah 2,63%, sektor saham infrastruktur turun 4,08% dan sektor saham transportasi terpangkas 3,31%
Kinerja 2025
Sebelumnya, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun buku 2025. Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 21,06 triliun atau meningkat 32% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring kenaikan harga jual rata-rata dan volume penjualan produk sawit serta minyak dan lemak nabati.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, laba bruto naik 13% secara tahunan menjadi Rp 5,47 triliun. Laba usaha meningkat 21% menjadi Rp 4 triliun, sementara laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 33% menjadi Rp2,07 triliun. Core profit juga tumbuh 26% menjadi Rp 2,91 triliun.
Dari sisi operasional, produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti turun 2% menjadi 2,71 juta ton. Namun, total produksi CPO justru meningkat 4% menjadi 733 ribu ton, didukung kenaikan pasokan TBS dari pihak eksternal.
Rasio pengungkit neto (net gearing) perusahaan juga membaik menjadi 0,04x per akhir 2025, dibandingkan 0,11x pada akhir 2024, mencerminkan struktur permodalan yang semakin sehat.
Hadapi Berbagai Tantangan
Direktur Utama SIMP, Paulus Moleonoto, menyatakan, Grup SIMP mencatat kinerja yang positif di 2025 meskipun menghadapi berbagai tantangan agribisnis yang terus berlanjut termasuk volatilitas harga komoditas, kondisi cuaca yang tidak menentu dan ketidakpastian global.
"Grup SIMP tetap berfokus, diantaranya, pada peningkatan pengendalian biaya dan efisiensi, memprioritaskan investasi modal, optimalisasi kegiatan operasional dan produktivitas serta menerapkan praktik-praktik agrikultur secara berkelanjutan," jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
SIMP merupakan grup agribisnis terdiversifikasi dan terintegrasi, dengan lini usaha mulai dari riset dan budidaya kelapa sawit hingga pengolahan minyak sawit mentah (CPO) serta distribusi produk turunannya seperti minyak goreng, margarin, dan lemak nabati.
Selain sawit, perusahaan juga mengembangkan komoditas lain seperti karet, tebu, kakao, dan teh.