Liputan6.com, Jakarta - Mentan Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman percaya diri stok cadangan beras pemerintah (CBP) pun menembus 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Bahkan dia pun mempersilakan para pengamat yang tidak percaya untuk mengecek sendiri ke gudang-gudang beras di seluruh Indonesia.
"Teman-teman wartawan, teman-teman pengamat, teman-teman guru besar, silakan cek. Boleh cek seluruh gudang-gudang seluruh Indonesia tanpa kecuali," kata Amran dalam keterangan pers diterima, Minggu (26/4/2026).
Advertisement
Dia pun meminta kepada Dirut Bulog untuk memberi ruang untuk memeriksa langsung hasil kerja pemerintah sebagai bentuk transparansi.
"Kami minta pada Dirut Bulog agar diberi ruang untuk seluruh teman-teman kita yang ingin melihat langsung. Bahkan aku lihat anak-anak SMA, mahasiswa, aktivis, masuk ke gudang. Silakan masuk, silakan cek karena ini adalah tanggung jawab kita bersama. Ini adalah hasil kerja keras kita bersama," ucap Amran.
Dia menyatakan, kunci keberhasilan pemerintah di balik pencapaian swasembada dan peningkatan kesejahteraan petani. Menurut dia, swasembada beras tahun 2025 bukan hasil manipulasi data Badan Pusat Statistik (BPS).
Bukan Hanya BPS
Sebab, kata Amran, bukan hanya BPS yang menyatakan adanya peningkatan pesat produksi beras Indonesia, Namun juga Data Food and Agriculture Organization (FAO) serta United States Department of Agriculture (USDA) juga menyatakan demikian.
"(Data) FAO (produksi beras Indonesia) 35,6 (juta ton). United States Department of Agriculture ini 34,6 (juta ton). Artinya, Amerika mengatakan (produksi beras Indonesia) 34,6 (juta ton). FAO 35 (juta ton)," beber dia.
Amran menambahkan, menurut perhitungan FAO, produksi beras Indonesia pada musim tanam 2025/2026 mencapai 35,6 juta ton. Sementara data USDA menyebut produksi beras Indonesia sebesar 34,6 juta ton pada 2025. Serupa dengan data BPS.
Dia mengungkap, peningkatan produksi beras merupakan hasil dari berbagai kebijakan pemerintah. Mulai dari pembangunan irigasi, pompanisasi, perbaikan benih, hingga cetak sawah baru.
"Dari pompanisasi misalnya, luas tanam padi dapat ditingkatkan. Sawah-sawah tadah hujan yang biasanya hanya panen sekali dalam setahun, jadi bisa panen dua kali dalam setahun. Tidak lagi bergantung pada musim hujan," beber Amran.
"Dari pompanisasi lahan pertanian seluas 1 juta hektare saja, bisa diperoleh peningkatan produksi hingga 5 juta ton Gabah Kering Panen (GKP). Rata-rata hasil panen padi di Indonesia mencapai 5 juta ton GKP per hektare. Kita tanam hanya satu kali menjadi 2 kali karena pomponisasi. Naik lah 1 juta (hektare). Kalau 1 juta (hektare), itu (panen naik) 5 juta ton (GKP)," imbuh Amran.
Peningkatan Produksi
Amran menyebut, peningkatan produksi juga diperoleh dari penanaman padi di lahan rawa yang sebelumnya tidak produktif. Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) modern hingga perbaikan benih turut berperan penting.
"Ada alat mesin pertahanan dan seterusnya. Kemudian ekstensifikasi adalah cetak sawah 200 ribu hektare," terang dia.
Kemudian untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pemerintah berupaya menyediakan sarana-sarana produksi yang baik. Misalnya jaminan ketersediaan pupuk subsidi.
"Irigasi diperbaiki. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk hasil panen petani dinaikkan. Dampaknya, biaya produksi yang ditanggung petani turun. Petani jadi lebih semangat menanam. Hasil panen lebih melimpah dan harga jual lebih baik," kata dia.
"Sarana produksi baik. (Harga) Pupuknya dikurangi 20 persen. Irigasinya kita perbaiki. Pompanisasi. Kemudian HPP-nya kita naikkan. Petani bersorak dan menikmati ini. Seluruh Indonesia, 115 juta keluarga petani. Kesejahteraannya lebih baik. Tentu daya belinya naik," papar Amran.
Hasilnya, menurut data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai rekor tertinggi sebesar 125,45 pada Februari 2026.
"Ini kata BPS, bisa dicek. Kalau data saya bisa subjektif. Tapi ini data BPS," Amran menandasi.