Dari Kampung “Tak Bernama” ke Desa Wisata: Cara Warga Terong Kejar Kue Pariwisata Belitung

Dulu hanya jadi jalur perlintasan bus wisata, Desa Terong kini bangkit jadi primadona wisata edukasi di Belitung.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 24 April 2026, 19:45 WIB
Kepala Desa Terong Iswandi di Desa Wisata Terong, Belitung, Jumat (24/4/2026). Iswandi menjelaskan mengenai geliat pariwisata Belitung. (Liputan6.com/Tian)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah geliat pariwisata Belitung yang meroket sejak satu dekade terakhir, Desa Terong pernah berada di posisi yang nyaris tak kasat mata. Saat bus-bus wisata hilir mudik membawa pelancong, tak satu pun yang sudi menepi.

Kepala Desa Terong, Iswandi, mengenang getirnya masa itu. Ia menggambarkan bagaimana desanya hanya menjadi perlintasan menuju pantai-pantai populer tanpa pernah mendapat manfaat ekonomi. “Kami cuma dapat asapnya saja,” keluhnya saat ditemui di Desa Wisata Terong, Belitung, Jumat (24/4/2026).

Padahal, desa yang letaknya tak jauh dari ikon wisata Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi ini menyimpan kekayaan sejarah, budaya, hingga jejak ekonomi tambang timah yang mendalam.

Kekuatan Storytelling dan Warisan Nenek Sati

Iswandi menyadari bahwa identitas adalah modal utama. Nama "Terong" ternyata menyimpan narasi unik. Konon, nama itu berakar dari kata “terang” yang menggambarkan kondisi wilayah masa lalu yang lapang tanpa pepohonan besar.

Ada pula legenda Nenek Sakti, tokoh lokal yang diyakini melindungi warga dari ancaman perompak laut atau lanun.

Kini, folklore tersebut bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan strategi jitu daya tarik wisata.

“Dalam desa wisata, storytelling itu krusial. Hampir semua tamu pasti bertanya asal-usul nama Terong,” jelas Iswandi.

Transformasi Lahan Tambang Menjadi Destinasi

Desa Terong Belitung mengusung konsep wisata edukasi dan kuliner. Wisatawan terlibat dalam aktivitas desa, mulai dari mengenal pertanian lokal hingga mencicipi hasil olahan warga. (Liputan6.com/Tian)

Lonjakan pariwisata pasca-film Laskar Pelangi (2008) memang sempat meninggalkan Desa Terong di belakang. Hingga 2015, desa ini masih asing di telinga pelaku industri. Tantangan makin berat karena desa ini menyisakan lanskap berlubang—bekas tambang timah yang merusak lingkungan.

“Kami sadar tidak mungkin bersaing dengan keindahan pantai. Jadi, kami harus mencari cara lain,” ungkap Iswandi.

Titik balik muncul saat warga mulai berselancar di internet dan menemukan model Desa Wisata Pentingsari yang berbasis komunitas. Dari sana, perspektif mereka bergeser: desa wisata tidak melulu soal panorama alam, tapi soal pengalaman, budaya, dan edukasi.

 

Belajar Otodidak demi Berdikari

Meski bermodal sumber daya manusia terbatas—mayoritas lulusan sekolah menengah—warga nekat merintis konsep desa wisata sejak 2013. Mereka belajar secara otodidak, mulai dari mencari referensi di Google hingga melakukan studi banding mandiri.

Kini, Desa Terong telah bertransformasi menjadi pusat wisata edukasi dan kuliner. Wisatawan diajak terjun langsung dalam aktivitas pertanian lokal hingga mencicipi kuliner khas olahan warga. Kemitraan dengan sektor perbankan sejak 2018 pun turut mempercepat promosi dan pembinaan desa.

Bagi Iswandi dan warganya, perjalanan ini adalah pembuktian harga diri.

“Intinya, kami tidak mau lagi cuma jadi penonton di tanah sendiri,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya