Liputan6.com, Jakarta - Guna menyuarakan pentingnya imunisasi dalam setiap tahap usia, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menggandeng peran pemengaruh. Sosok yang ditunjuk untuk ikut serta menyebarkan edukasi soal imunisasi adalah figur publik Maudy Koesnaedi.
“Kita ajak influencer seperti Mbak Mod (Maudy), bagaimana peran influencer dalam meluruskan informasi anti-vaksin,” kata Dante dalam peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID) di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Advertisement
Terkait hal ini, pemeran Zaenab dalam serial televisi Si Doel Anak Sekolahan menyampaikan orang tua memiliki peran penting dalam terlaksananya imunisasi lengkap anak.
“Apapun yang sudah dilakukan oleh Kemenkes dan profesor soal pentingnya imunisasi, edukasi, dan sebagainya, tapi keputusan terakhir tetap di ibu-ibu dan keluarga,” kata perempuan yang akrab disapa Mpok Mod.
“Saya mewakili ibu-ibu, saya merasa senang dan bersyukur bahwa dulu ketika anak saya masih bayi sudah menjalankan semua vaksin secara lengkap. Tidak hanya anak-anak, kita juga sebagai manusia dewasa dalam situasi tertentu perlu untuk melakukan imunisasi ulang termasuk untuk cegah penyakit tidak menular,” tambahnya.
Menurutnya, imunisasi bukan hanya cara menjaga anak sendiri, tapi juga anak-anak lain di sekitar.
“Keputusannya tetap di orang tua, jadi Bapak dan Ibu punya andil yang cukup penting untuk mengambil keputusan dan memastikan bahwa anak-anak kita dalam kondisi yang sehat,” ujarnya.
Pekan Imunisasi Dunia 2026
Pekan Imunisasi Dunia diperingati pada 24 hingga 30 April 2026. Dante mengatakan, peringatan kali ini mengusung tema Imunisasi Sepanjang Usia.
“Pekan Imunisasi Dunia 2026 temanya Imunisasi Sepanjang Usia. Jadi imunisasi ini adalah investasi yang murah tapi bisa mencegah penyakit berat yang bisa timbul di masa depan,” kata Dante.
Jika anak-anak mendapatkan imunisasi, sambungnya, maka mereka akan terlindungi dari penyakit-penyakit yang sebetulnya tidak perlu terjadi karena daya tahan tubuhnya baik.
Sebagian masyarakat menganggap bahwa imunisasi identik dengan anak-anak, padahal vaksinasi perlu dilakukan sepanjang usia. Pasalnya, imunisasi di era modern tidak hanya digunakan untuk mencegah penyakit menular tapi juga penyakit tidak menular.
“Seperti imunisasi HPV misalnya, ini untuk mencegah terjadinya kanker rahim di masa yang akan datang,” kata Dante.
Sayangnya, sambung Dante, di 2026 ini masih terjadi infodemik atau penyebaran informasi keliru terkait vaksin. Dia berharap, informasi keliru ini dapat dilawan dengan berita-berita aktual dengan sumber yang benar.
“Infodemik, disrupsi informasi yang begitu masif membuat beberapa informasi tentang imunisasi itu menjadi salah. Diharapkan kedatangan teman-teman jurnalis ini bisa meluruskan informasi, sehingga menyadarkan masyarakat untuk datang ke sentra-sentra vaksin,” harapnya.
Jutaan Anak Belum Diimunisasi Lengkap
Data Kemenkes menunjukkan, terdapat 1,45 juta anak tanpa imunisasi lengkap pada 2018 hingga 2022. Dan dari 17 juta anak usia 1–3 tahun, yang belum tuntas imunisasinya mencapai lebih dari 2,8 juta pada 2021–2023.
Guna menekan angka ini, peran informasi memang penting, menurut Dante. Sementara, isu akses sudah tidak lagi menjadi alasan untuk tidak divaksinasi.
“Ketersediaan vaksin, tenaga kesehatan, dan fasilitas penyuntikan sudah ada di tempat yang paling dekat dengan masyarakat. Misalnya, dulu imunisasi di rumah sakit, kemudian diturunkan ke puskesmas, sekarang bisa dilakukan imunisasi di posyandu. Itu kan posyandu di tingkat RW, jadi bisa dekat dengan masyarakat.”
“Jadi sebenarnya tidak ada alasan akses lagi untuk tidak imunisasi. Tapi memang masih ada satu juta lebih anak-anak yang tidak diimunisasi karena tadi di beberapa kantong (daerah) masih menganggap imunisasi ini tabu, imunisasi ini bahaya, bisa menyebabkan kecacatan pada anak,” ujarnya.
Maka dari itu, Dante menghimpun bantuan dari ahli, pemengaruh, media, dan organisasi internasional seperti United Nations Development Programme (UNDP) untuk meluruskan hoaks-hoaks tersebut.
“Semua imunisasi yang diberikan di tempat kita sudah melalui serangkaian uji klinik yang melihat efektivitas, efikasi, dan efek samping, sudah lulus kajiannya,” pungkasnya.