1 dari 20 Anak Kena Campak Berisiko Alami Pneumonia, Pakar Ingatkan Imunisasi

Imunisasi campak mencegah keparahan bila anak tertular penyakit ini.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 23 April 2026, 12:00 WIB
Ketua Satgas Imunisasi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi SpA(K), soal imunisasi, Jakarta (15/10/2025). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Campak bukanlah penyakit ringan yang hanya menyebabkan ruam merah pada kulit. Pada sebagian kasus anak yang terkena campak bisa mengalami komplikasi seperti radang paru atau pneumonia.

"1 dari 20 anak terkena campak berisiko mengalami radang paru, penyebab kesakitan yang paling banyak dan juga penyebab kematian terbanyak pada anak balita," kata Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Profesor Hartono Gunardi.

Selain itu, campak juga memiliki komplikasi lain seperti radang otak. Kondisi ini membuat anak jadi tidak sadar.

"Radang otak ini juga memiliki gejala sisa seperti kelumpuhan dan gangguan kognitif," tutur Hartono dalam temu media bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta pada Kamis, 23 April 2026.

Mengingat dampak dari campak yang bisa membahayakan kesehatan bahkan mengancam nyawa, pemerintah pun memasukkan campak sebagai imunisasi dasar.

Vaksin campak diberikan pertama kali pada saat anak berusia 9 bulan, lalu usia 18 bulan. Kemudian diberikan lagi ketika anak masuk sekolah dasar. Imunisasi campak bisa mencegah komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia), infeksi otak, diare, hingga kematian pada anak.

Indonesia Peringkat 2 Kasus Campak Terbanyak

Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam pengendalian campak. Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari 10 negara dengan kasus campak terbanyak di dunia.

Situasi ini belum membaik pada tahun berikutnya. Pada 2025, Indonesia bahkan masuk dalam enam besar negara dengan jumlah kasus tertinggi. Pada 2026 meningkat menjadi peringkat kedua di dunia.Kemenkes mencatat terdapat 58 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi.

Puncak kasus pada 2026 terjadi pada minggu pertama dengan temuan sekitar 2.932 kasus suspek campak.

Tantangan menghadapi campak tak cuma terjadi di Indonesia. Data kesehatan dunia mencatat, penyakit ini masih banyak ditemukan di berbagai negara, bahkan sejumlah negara yang sebelumnya telah berhasil bebas campak kini kembali ada kasus.

Salah satu faktornya, kata Hartono, karena campak dikenal sebagai penyakit yang sangat menular. "Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lainnya," katanya. 

 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya