Liputan6.com, Jakarta - Sinetron Asmara Gen Z Episode Rabu 22 April mengisahkan, Zara dan Ken berada di dalam mobil yang melaju perlahan. Suasana di antara mereka terasa sunyi dan agak tegang. Zara menghela napas panjang, lalu tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dalam hati ia berkata, kalau saja ia bisa bertemu dengan orang yang ia rindukan, mungkin semuanya akan terasa lebih mudah. Nama Axel terlintas begitu saja di benaknya, membuat perasaannya semakin campur aduk. Ken yang duduk di sampingnya sempat melirik ke arah Zara, menyadari perubahan ekspresi di wajahnya, namun ia memilih diam tanpa bertanya.
Advertisement
Di tempat lain, tepatnya di halaman belakang rumah Fattah, suasana juga tak kalah hening. Oliver berjalan mendekat dengan langkah pelan, lalu berhenti beberapa langkah dari seseorang yang ia tuju. Keheningan menyelimuti sejenak sampai akhirnya Aqeela perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu, seakan membawa kembali banyak kenangan lama yang belum sempat terselesaikan. Oliver membuka suara lebih dulu dengan sapaan lembut, “Qeel…” Aqeela mengedip pelan, lalu membalas dengan suara lirih, “…Ole.” Suasana terasa canggung namun penuh emosi yang tertahan.
Fattah yang berada di dekat situ sempat melirik Oliver, lalu dengan nada pelan berkata bahwa Aqeela masih dalam proses untuk membaik, masih butuh waktu untuk pulih sepenuhnya. Oliver hanya mengangguk kecil, mencoba memahami situasi yang sedang dihadapi Aqeela.
Setelah itu, Fattah dan Oliver berjalan sedikit menjauh dan mulai berbicara berdua. Dalam percakapan itu, Fattah mengungkapkan bahwa ia tidak sanggup jika harus meninggalkan Aqeela dalam kondisi seperti sekarang. Oliver menatap Fattah, sementara Fattah sendiri menatap ke arah Aqeela dari kejauhan, dengan senyum yang terlihat manis namun menyimpan kesedihan.
Oliver kemudian menebak isi hati Fattah dan bertanya apakah ia masih mencintai Aqeela. Pertanyaan itu membuat Fattah terkejut, seolah perasaannya yang selama ini ia sembunyikan tiba-tiba terbaca dengan jelas.
Sementara itu, di taman sebuah hotel, suasana terlihat lebih santai. Mohan, Raisa, Pak Dani, dan Bianca duduk bersama Catalina sambil menikmati teh sore. Percakapan ringan mengalir hingga akhirnya Pak Dani bertanya tentang pekerjaan baru Catalina dan menanyakan ia bekerja di brand apa. Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening.