Apakah Kripto Aman dari Quantum Computer? Ini Analisis Coinbase

Coinbase menyebut kripto masih aman dari komputer kuantum saat ini, namun ancaman di masa depan tak terhindarkan. Industri diminta segera bersiap.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 April 2026, 16:00 WIB
Ilustrasi berbagai macam aset kripto. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Aset kripto saat ini masih aman dari ancaman komputer kuantum. Namun, langkah pengamanan untuk masa depan harus segera dimulai.

Kesimpulan tersebut disampaikan oleh tim peneliti kriptografi terkemuka yang tergabung dalam dewan penasihat independen bentukan Coinbase terkait komputasi kuantum dan blockchain.

Dikutip dari U.Tpday, Rabu (22/4/2026), dalam laporan posisi pertama yang dirilis, dewan ini menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada komputer kuantum yang cukup kuat untuk membobol sistem kriptografi modern yang digunakan dalam blockchain.

Dewan tersebut beranggotakan para peneliti dari berbagai institusi ternama seperti Stanford, UT Austin, Ethereum Foundation, Eigen Labs, Bar-Ilan University, hingga UC Santa Barbara.

Meski demikian, mereka menegaskan bahwa kehadiran komputer kuantum yang mampu memecahkan sistem keamanan blockchain pada akhirnya hampir tidak bisa dihindari.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Kerentanan Utama Ada di Wallet

Ilustrasi berbagai macam aset kripto. (Foto By AI)

Secara umum, infrastruktur inti blockchain dinilai masih aman. Aktivitas seperti penambangan Bitcoin, fungsi hash, serta catatan transaksi historis belum terancam secara signifikan oleh perkembangan teknologi kuantum.

Namun, titik lemah justru berada pada wallet atau dompet kripto.

Dewan memperkirakan sekitar 6,9 juta BTC saat ini berada dalam kategori yang sangat rentan jika teknologi kuantum berkembang pesat.

Selain itu, jaringan yang menggunakan mekanisme proof-of-stake juga menghadapi risiko tambahan, terutama pada sistem tanda tangan digital yang digunakan validator untuk mengamankan jaringan.

Komunitas kriptografi sebenarnya telah mengembangkan solusi tahan kuantum selama lebih dari dua dekade. Bahkan, National Institute of Standards and Technology (NIST) telah menetapkan beberapa standar keamanan baru.

Namun, penerapan teknologi baru ini tidak mudah. Salah satu kendalanya adalah ukuran data tanda tangan yang jauh lebih besar, sehingga berpotensi memperlambat transaksi.

Di sisi lain, proses migrasi sistem juga sangat kompleks karena melibatkan jutaan pengguna dalam ekosistem yang terdesentralisasi.

 

Pertanyaan Besar: Bagaimana Nasib Wallet Lama?

Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Tantangan terbesar muncul dari wallet yang tidak pernah diperbarui.

Banyak aset kripto tersimpan dalam akun yang kuncinya hilang, tidak aktif, atau bahkan ditinggalkan pemiliknya. Kondisi ini membuat sebagian besar aset berisiko tetap terbuka ketika komputer kuantum akhirnya tersedia.

Dalam laporannya, Coinbase menyatakan bahwa pembentukan dewan penasihat ini bertujuan memastikan strategi keamanan perusahaan didasarkan pada “sains, bukan sekadar headline.”

Saat ini, Coinbase juga tengah menyesuaikan infrastrukturnya agar dapat dengan cepat mengadopsi standar kriptografi baru yang lebih aman terhadap ancaman komputer kuantum.

Artinya, meski ancaman belum terasa saat ini, perlombaan untuk mengamankan masa depan aset kripto sudah dimulai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya