Liputan6.com, Jakarta - Apple mengungkap alasan kenapa perusahaan berbasis di Cupertino itu fokus pada entrepreneurship, games, AI dan machine learning, serta DevOps untuk Apple Developer Institute di Indonesia.
Gordon Shukwit, Senior Director, Apple Developer Academy, pemilihan fokus area di masing-masing institut tidak dipilih secara sembarangan. Akan tetapi, muncul dari kebutuhan dari industri dan perkembangan peserta akademi selama beberapa tahun terakhir.
Advertisement
Gordon mengatakan, Apple melihat pola semakin jelas saat bekerja dengan para mitra industri di Tanah Air dan global. Perusahaan mendapati, dunia kerja kini mencari kemampuan lebih spesifik, dan beberapa bidang muncul lebih kuat dibanding lainnya.
"Jadi, seperti yang saya sebutkan, kita mulai melihat tren dari kelima lembaga tersebut mulai terjadi," ujar Gordon saat ditemui disela-sela pembukaan Apple Developer Institute di Authograph Tower Thamrin Nine Jakarta pada Selasa, 21 April 2026.
Saat ditanya area mana yang paling banyak dicari mitra industri, Gordon menjawab," DevOps mungkin adalah salah satu istilah yang paling sering kami dengar, jujur saja, serta AI."
Hal ini menunjukkan bagaimana pembuat iPhone ini membaca kebutuhan pasar kerja dengan sangat teliti dan mendalam. Kecerdasan buatan (AI) sendiri memang saat ini menjadi topik besar secara global, tetapi Apple melihatnya bukan sekadar tren sesaat.
Sementara itu, Games juga masuk karena dorongan minat peserta yang tinggi. "Namun, game juga merupakan salah satu bidang yang mendapat dorongan besar dari minat para mahasiswa," papar Gordon.
Ia menambahkan, game bukan sekadar membuat elemen kecil dari sebuah produk digital. Ada cara berpikir lebih utuh di dalamnya, dan Apple merasa punya keahlian untuk membantu peserta berkembang di area tersebut.
Di sisi lain, entrepreneurship hadir sebagai komponen penting karena dunia teknologi hari ini tidak hanya butuh orang bisa membangun produk, tetapi juga latenta paham bagaimana membawa inovasi menjadi sesuatu yang bernilai di pasar.
Bagi perusahaan berbasis di Cupertino tersebut, seluruh fokus area di institut lahir dari satu pertanyaan sederhana. Skill apa yang benar-benar dibutuhkan peserta agar bisa terus relevan dan mendorong inovasi?
"Jadi, upaya untuk mengarahkan siswa ke lembaga-lembaga tersebut sebenarnya muncul dari pekerjaan telah kami lakukan, bekerja sama dengan mitra di pasar kerja, dan bagaimana kami mempersiapkan siswa untuk memastikan mereka memiliki keterampilan untuk terus mendorong sisi inovasi," pungkas Gordon.
Apple Sudah Punya Developer Academy, Tapi Mengapa Kini Buka Institute Juga?
Apple baru saja membuka lima Apple Developer Institute dengan lokasi masing-masing institut di Jakarta, Tangerang, Batam, Surabaya, dan Bali, dengan harapan semakin banyak lagi talenta digital asal Indonesia unjuk kemampuan di tingkat global.
Sebelumnya, perusahaan berbasis di Cupertino tersebut sudah lebih dulu membuka Apple Developer Academy sejak 2018. Kini, Apple mengungkap alasan kenapa mereka memutuskan untuk membuka institut di Tanah Air.
Gordon Shukwit, Senior Director, Apple Developer Academy mengatakan, akademi terus berkembang dari tahun ke tahun. Dari proses tersebut, Apple melihat munculnya bidang-bidang spesialis makin relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
"Akademi ini terus berkembang dan telah berkembang selama bertahun-tahun sejak kami mengerjakannya," kata Gordon saat ditemui di sela-sela pembukaan Apple Developer Institute di Authograph Tower Jakarta pada Selasa, 21 April 2026.
Menurutnya, perkembangan itu terlihat dari makin banyak siswa mulai menaruh minat besar ke area gaming, Internet of Things (IoT), sistem back-end, sampai kecerdasan buatan (AI).
Melihat perkembangan tersebut, Apple sudah memasukkan AI dan machine learning ke dalam program akademi sejak sekitar tiga tahun lalu.
Apple Developer Institute Kelanjutan dari Akademi
Di titik inilah produsen iPhone tersebut melihat Indonesia siap untuk langkah selanjutnya. "Jadi, gagasan bahwa kami melihat spesialisasi muncul di lingkungan akademis yang digunakan mahasiswa sebagai bagian dari pasar kerja, sangat masuk akal untuk diterapkan di Indonesia dan mengembangkan spesialisasi tersebut," katanya.
Pernyataan itu seakan menegaskan, Apple Developer Institute dirancang sebagai kelanjutan alami dari Academy. Bisa dibilang, Apple Developer Academy menjadi pintu masuk bagi talenta baru, dan institut hadir untuk membawa mereka ke bidang lebih spesifik dan lebih dekat dengan kebutuhan industri.
Perusahaan juga menilai, talenta digital di Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi negara pertama ekspansi model ini. Alasannya, perusahaan sudah memiliki jaringan mitra yang dianggap matang di sejumlah bidang tertentu.
"Kami sudah memiliki mitra-mitra hebat di berbagai bidang yang memiliki keahlian khusus, dan kami mampu membangun kembali serta mengembangkan bidang-bidang tersebut," ujar Gordon.
Dengan kata lain, Indonesia tidak dipilih secara kebetulan. Apple melihat ekosistem, minat peserta, dan kebutuhan industri di Tanah Air bergerak ke arah yang sama. Itu membuat peluncuran lima institute sekaligus terasa masuk akal dari sisi strategi.