Cara BUMDes Kalipelus Sulap Pemancingan Jadi Mesin Ekonomi Berkelanjutan

Cara BUMDes Kalipelus di Kabupaten Banjarnegara mengolah lahan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.

oleh Khulafa Pinta WinastyaDiterbitkan 21 April 2026, 19:45 WIB
Cara Budidaya Ikan Ala BUMDes Kalipelus. (Foto: Dok. Pribadi)

Liputan6.com, Jakarta - Deretan saung bambu yang berjajar rapi di rest area Desa Kalipelus, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, menghadirkan suasana yang hangat dan hidup. Pengunjung datang silih berganti, membawa ember berisi ikan nila hasil pancingan mereka. Tak jauh dari kolam, dapur sederhana mengepul, mengolah hasil tangkapan menjadi hidangan segar dalam hitungan menit. Konsep sederhana ini justru menjadi magnet yang kuat, menghadirkan pengalaman unik bagi setiap orang yang singgah.

Di balik aktivitas santai tersebut, tersimpan sebuah inovasi ekonomi desa yang patut diperhitungkan. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Lancar berhasil mengembangkan kawasan pemancingan menjadi lebih dari sekadar tempat rekreasi. Dengan pendekatan konsep 'dari kolam ke meja', kawasan ini menjelma menjadi pusat kegiatan ekonomi yang melibatkan berbagai sektor usaha sekaligus.

Sejak dirintis pada 2017, BUMDes Maju Lancar terus berkembang dan kini mengelola beragam unit usaha. Transformasi ini menunjukkan bagaimana desa mampu mengelola potensi lokal secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Selasa (21/4/2026).

Kelola Pemancingan Menjadi Rest Area

BUMDes Kalipelus. (Foto. Dok Pribadi)

Pemancingan di Desa Kalipelus tidak lagi sekadar tempat menyalurkan hobi. Dengan penataan area yang nyaman, lengkap dengan parkir luas dan saung-saung bambu, kawasan ini menjadi rest area strategis bagi warga maupun pelintas antardesa. Pengunjung tidak hanya datang untuk memancing, tetapi juga menikmati suasana dan kuliner khas yang langsung diolah dari hasil tangkapan.

Konsep “dari kolam ke meja” menjadi nilai jual utama. Ikan nila yang baru dipancing bisa langsung dimasak dan disajikan dalam kondisi segar. Pengalaman ini menciptakan daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di tempat lain. Tak heran jika kawasan ini terus ramai dan menjadi salah satu penggerak ekonomi desa.

"Gak cuma kolam budidaya sederhana, pengunjung bisa mancing sendiri terus ikannya diolah itu kan menambah nilai ekonomi biar terus berputar," kata Kepala Desa Kalipelus, Hartiningsih.

Tak hanya itu, ikan nila juga merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai jual tinggi dan stabil. Budidaya ikan nila menjadi salah satu tulang punggung usaha. Harga pasar yang menyentuh kisaran Rp30 ribu per kilogram membuat sektor ini cukup menjanjikan. Dengan membangun beberapa kolam, roda ekonomi bisa terus berjalan jika dibarengi dengan langkah budidaya yang tepat. 

Diversifikasi Usaha Dengan Manfaatkan Lahan

BUMDes Kalipelus. (Foto. Dok Pribadi)

Kesuksesan BUMDes Maju Lancar tidak lepas dari strategi diversifikasi usaha. Selain budidaya ikan nila pengelola juga mengembangkan sektor lain seperti peternakan sapi dan kambing. Bahkan, pengunjung juga dapat menikmati wisata petik cabai yang memberikan pengalaman tambahan.

"Kami punya 10 unit usaha. Ada peternakan sapi dan kambing, budidaya ikan nila, sampai pemancingan yang sekarang jadi rest area," ungkap Kepala Desa.

Tak berhenti di sektor konvensional, BUMDes juga merambah layanan internet dan e-commerce. Langkah ini menjadi bukti bahwa desa mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan, BUMDes memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Kami juga masuk ke layanan internet dan e-commerce. Jadi bukan cuma ternak sapi atau ikan, tapi juga sektor digital,” kata Direktur BUMDes Maju Lancar, Budi Suroso.

Menurut Budi, diversifikasi itu menjadi strategi agar BUMDes tidak bergantung pada satu sumber pendapatan. Ketahanan pangan tetap jadi prioritas, namun layanan jasa dan digital dibangun untuk menjawab kebutuhan warga yang terus berkembang.

Keberhasilan  Desa Kalipelus terletak pada kemampuannya membangun ekosistem usaha yang saling terhubung. Dari kolam ikan, kandang ternak, hingga layanan digital, semua bergerak dalam satu sistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi desa. Hal ini menciptakan perputaran ekonomi yang stabil dan tidak bergantung pada musim panen semata.

Kolam ikan menarik pengunjung, dapur mengolah hasil panen, rest area menjadi pusat aktivitas, dan layanan digital memperluas jangkauan usaha. Di Kalipelus, geliat ekonomi lahir dari kolam ikan, saung bambu, hingga inovasi yang terus berkembang. Konsep ekonomi berkelanjutan ini yang bisa dicontoh untuk diadaptasi oleh banyak orang untuk menciptakan sumber pendapatan baru.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya