Bangunan SD Kepek Gunungkidul Rusak Berat, Pemda Sebut Tidak Masuk Prioritas

Bangunan SD Negeri 1 Kepek, Saptosari, Gunungkidul, rusak berat hingga siswa terpaksa belajar di musala.

oleh HendroDiterbitkan 21 April 2026, 10:22 WIB
Plafon SD Kepek Gunungkidul rusak berat sampai siswa terpaksa belajar di musala. (Liputan6.com/ Hendro Ary Wibowo)

Liputan6.com, Gunungkidul - Di tengah komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kondisi kontras justru terjadi di SD Negeri 1 Kepek, Saptosari, Gunungkidul. Sejumlah siswa terpaksa belajar di musala dan ruang darurat akibat keterbatasan ruang kelas yang rusak.

Melalui unggahan resmi akun Instagram disdik-gk, Dinas Pendidikan Gunungkidul menegaskan komitmennya dalam pembangunan sektor pendidikan.

“Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan melalui Program BOCAH PINTER, yang berfokus pada peningkatan sarana prasarana serta tenaga pendidik dan kependidikan,” tulis akun tersebut.

Dalam unggahan itu juga disebutkan bahwa pemerintah telah melakukan pengecekan langsung ke sejumlah sekolah, termasuk SD Negeri 1 Kepek.

“Salah satu langkah nyata dilakukan melalui pengecekan langsung kondisi sekolah, termasuk di SDN Kepek 1 Saptosari,” lanjutnya.

Namun, hasil pendataan menunjukkan bahwa sekolah tersebut belum menjadi prioritas perbaikan.

“Berdasarkan data Dapodik, tingkat kerusakan sekolah tersebut sebesar 21,43 persen sehingga belum masuk dalam prioritas program revitalisasi tahun 2026,” tulisnya.

Pernyataan ini menjadi sorotan jika dibandingkan dengan kondisi riil di lapangan. Kerusakan bangunan di SD Negeri 1 Kepek sudah dirasakan sejak sekitar satu tahun terakhir dan terus memburuk.

Dari total 12 ruang kelas, lima di antaranya kini dalam kondisi rusak berat. Ruang perpustakaan bahkan telah ambruk sejak setahun lalu, sementara tiga ruang kelas lainnya sudah tidak digunakan selama lebih dari tiga tahun karena atap bocor dan bangunan yang lapuk.

Selain itu, ruang kelas 6 mengalami kerusakan pada Februari 2026 setelah genting ambrol saat hujan deras. Beruntung, seluruh kejadian ambruk tidak menimbulkan korban jiwa karena terjadi di luar jam belajar.

 

Terpaksa Belajar di Musala

Kondisi ini memaksa pihak sekolah melakukan penyesuaian darurat. Siswa kelas 6 dipindahkan ke ruang lain, sementara siswa kelas 2 harus belajar di musala dengan beralaskan karpet. Bahkan, ruang kelas 1 yang digabung dengan perpustakaan kini tidak lagi memiliki plafon.

Sebanyak 148 siswa bersama 14 guru dan tenaga kependidikan tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar di tengah keterbatasan tersebut.

Situasi ini memunculkan anomali antara data administratif dan kondisi faktual. Di satu sisi, tingkat kerusakan dinilai belum memenuhi syarat prioritas. Namun di sisi lain, aktivitas belajar sudah berlangsung dalam kondisi yang jauh dari layak dan berpotensi membahayakan.

Meski demikian, pemerintah daerah memastikan penanganan tetap akan dilakukan.

“Pemkab Gunungkidul memastikan penanganan tetap dilakukan melalui skema anggaran perubahan tahun 2026, sebagai bentuk respons cepat terhadap kebutuhan riil di lapangan,” tulis akun tersebut.

Dinas Pendidikan juga mencatat, dari total 463 sekolah dasar di Gunungkidul, sebanyak 358 sekolah masuk dalam daftar longlist kerusakan, dengan 105 sekolah menjadi prioritas penanganan berdasarkan tingkat urgensi.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya