Analis: Iran Jadi Batu Sandungan bagi Proyek Greater Israel

Keberadaan Iran dinilai membatasi kemampuan Israel untuk bertindak bebas, sekaligus menghambat upayanya mendominasi kawasan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 20 April 2026, 07:00 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Dok. AP)

Liputan6.com, Jakarta - Analis ekonomi politik Timur Tengah Samer Jaber menilai bahwa perkembangan konflik terbaru di Timur Tengah berkaitan erat dengan ambisi strategis Israel untuk memperluas pengaruhnya di kawasan. Dalam analisisnya, ia mengaitkan perang Iran, operasi militer di Lebanon, serta kebijakan regional Israel dengan proyek yang disebut sebagai "Greater Israel".

Setelah gencatan senjata sementara diumumkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon tidak akan dihentikan. Langkah ini dipandang sebagai upaya mempertahankan posisi politik di tengah konflik yang berlanjut.

Menurut Jaber seperti dikutip dari tulisannya yang dipublikasikan Al Jazeera, dorongan agar perang—termasuk keterlibatan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran—terus berlanjut tidak hanya datang dari kubu pemerintah, tetapi juga dari oposisi. Ia menilai elite politik dan keamanan Israel memandang kekalahan Iran sebagai langkah penting dalam mewujudkan proyek "Greater Israel".

3 Tujuan Utama

Jaber menjelaskan bahwa "Greater Israel" merupakan strategi politik yang mencakup tiga tujuan utama: ekspansi wilayah, dominasi militer, dan pembentukan pengaruh geopolitik. Dalam kerangka ini, Iran dipandang sebagai salah satu hambatan utama.

Ekspansi Wilayah

Menurut analisis Jaber, perluasan teritorial menjadi pilar penting. Sejak 1967, Israel telah memperluas kontrol atas wilayah Palestina yang didudukinya, yang kini telah diperlakukan sebagai wilayah yang dianeksasi.

Setelah itu, perhatian diarahkan ke wilayah lain seperti Lebanon selatan, Suriah, tepi timur Sungai Yordan, dan Semenanjung Sinai. Israel telah lama menguasai Dataran Tinggi Golan dan dalam beberapa tahun terakhir berupaya memperluas kontrol di sekitarnya untuk memperkuat posisi strategis dan akses sumber daya, termasuk air.

Di Lebanon selatan, wilayah yang dianggap strategis karena faktor geografis dan sumber daya juga menjadi fokus. Sementara itu, penguasaan wilayah timur Sungai Yordan dinilai akan memberikan keuntungan ekonomi sekaligus memperkuat kedalaman strategis serta kontrol jalur transit regional.

Secara keseluruhan, ekspansi ini dinilai dapat meningkatkan akses terhadap jalur air penting seperti Laut Merah dan mendekatkan pada sumber energi kawasan.

Dominasi Militer

Selain wilayah, proyek ini mencakup upaya mencapai dominasi militer regional, yaitu kemampuan melakukan operasi lintas batas secara luas.

Pola tersebut terlihat dalam operasi di Tepi Barat, Gaza, Lebanon sejak 2024, serta Suriah pasca runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad. Dalam pandangan Jaber, dominasi ini mencakup ruang gerak hingga negara-negara di luar tetangga langsung, termasuk Irak, Iran, Yaman, dan kawasan Teluk.

Ia juga menyoroti keputusan AS yang memasukkan Israel ke dalam wilayah tanggung jawab komando militernya di Timur Tengah, yaitu United States Central Command (CENTCOM), sehingga memungkinkan koordinasi militer yang lebih erat di kawasan dan memperluas jangkauan operasionalnya. 

Ke depan, dominasi ini dinilai dapat diperkuat melalui perjanjian normalisasi, kerja sama militer, penggunaan pangkalan di kawasan, serta penerapan zona demiliterisasi dan sistem peringatan dini—seperti yang telah diterapkan di Sinai.

Pengaruh Geopolitik

Jaber melihat adanya upaya membangun pengaruh geopolitik di kawasan. Dalam dua tahun terakhir, pendekatan ini disebut telah diuji di Lebanon, termasuk melalui tekanan militer dan keterlibatan dalam dinamika politik domestik.

Pengaruh tersebut, menurutnya, diperluas dengan memanfaatkan kekuatan AS, baik melalui dukungan militer, bantuan finansial, maupun peran lobi politik. Selain itu, tekanan dapat dilakukan melalui organisasi internasional dan jaringan keuangan global.

Iran sebagai Hambatan

Jaber menilai keterlibatan Israel dalam mendorong konflik dengan Iran tidak mengejutkan, namun ketahanan Iran menjadi faktor yang tidak sepenuhnya diperkirakan.

Setelah lebih dari satu bulan konflik, Iran justru memperkuat posisinya sebagai kekuatan regional, termasuk melalui pengaruhnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pasokan minyak dunia.

Menurut Jaber, kegagalan mengalahkan Iran menunjukkan keterbatasan kemampuan Israel, terutama ketergantungannya pada dukungan AS dalam pertahanan dan operasi militer besar.

Ia menilai situasi ini berpotensi mengubah dinamika kawasan, termasuk meningkatnya resistensi dari negara-negara lain. Di sisi lain, perubahan opini publik di AS yang semakin kritis terhadap Israel dapat memengaruhi kebijakan Washington ke depan, khususnya menjelang pemilu 2026 dan 2028.

Perkembangan tersebut dinilai dapat mempersempit ruang gerak Israel dalam mewujudkan ambisi regionalnya, sekaligus meningkatkan risiko langkah-langkah yang lebih agresif di masa mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya