Israel Pasang Garis Kuning di Lebanon, Mendekatinya Jadi Target

Keberadaan Garis Kuning ini diungkap Israel secara gamblang usai Trump mengumumkan gencatan senjata.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 19 April 2026, 12:40 WIB
Militer Israel berdalih bahwa intensitas serangan menargetkan infrastruktur yang diklaim sebagai milik Hizbullah, meski berdampak pada pemukiman penduduk. Tampak dalam foto, sebuah ekskavator membersihkan puing-puing di lokasi serangan Israel pada Minggu 5 April 2026 terhadap sebuah bangunan di lingkungan Jnah, Beirut, Lebanon, Senin 6 April 2026. (AP Photo/Hassan Ammar)

Liputan6.com, Tel Aviv - Tentara Israel pada Sabtu (18/4/2026) mengungkapkan keberadaan sebuah zona yang disebut "Garis Kuning" di wilayah Lebanon selatan.

Dalam pernyataannya, militer Israel mengatakan bahwa dalam 24 jam terakhir, pasukannya yang beroperasi di zona yang mereka sebut "Garis Kuning" di selatan Sungai Litani telah mengidentifikasi "sebuah sel teroris yang melanggar kesepahaman gencatan senjata dan mendekati pasukan dari utara Garis Kuning dengan cara yang menimbulkan ancaman langsung." 

Ini merupakan pertama kalinya Israel secara terbuka menyebut adanya "Garis Kuning" di Lebanon, yang digambarkan sebagai zona penyangga yang mereka tetapkan sendiri, menyerupai pengaturan yang diberlakukan di Gaza menyusul perang yang dimulai pada Oktober 2023.

Militer Israel menyatakan bahwa angkatan udara dan pasukan daratnya telah menyerang para tersangka tersebut, dengan dukungan tembakan artileri. Mereka mengklaim bahwa tindakan tersebut tidak dibatasi oleh gencatan senjata.

Dalam pernyataan tertulis yang dikirimkan kepada kantor berita Anadolu, militer mengatakan bahwa individu bersenjata teridentifikasi mendekati pasukan Israel di selatan Garis Kuning pada Jumat dan pasukan melepas tembakan untuk menghilangkan ancaman.

Belum ada tanggapan resmi dari otoritas Lebanon maupun kelompok Hizbullah terkait pernyataan Israel.

Di Gaza, Garis Kuning adalah garis demarkasi militer yang ditetapkan oleh Israel sebagai bagian dari fase pertama kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada Oktober 2025. Garis ini secara fisik ditandai dengan blok beton dan tiang kuning setinggi sekitar 3,5 meter yang dipasang setiap 200 meter.

 

Israel Menolak Keluar dari Lebanon

Pada Jumat (17/4), Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan bahwa dirinya siap mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan penarikan Israel dan menyelamatkan negara.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pada Jumat bahwa Israel berencana mempertahankan kendali atas semua wilayah di Lebanon selatan yang didudukinya dalam operasi militer terbaru.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengklaim pada Jumat bahwa pihaknya secara aktif mencegah Israel melakukan serangan tambahan terhadap Lebanon seiring mulai berlakunya gencatan senjata yang masih rapuh.

Trump mengumumkan pada Kamis adanya gencatan senjata selama 10 hari di Lebanon yang dimulai pada tengah malam waktu setempat di Tel Aviv dan Beirut.

Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon pada Jumat, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah mencapai 2.294 orang, dengan 7.544 lainnya terluka.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya