Liputan6.com, Jakarta - Upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program nasional, seperti makan bergizi gratis hingga pembangunan infrastruktur perumahan, terus digencarkan. Namun di balik itu, persoalan mendasar di sektor pendidikan, khususnya terkait sarana dan prasarana, masih menjadi pekerjaan rumah di sejumlah daerah.
Salah satu potret nyata terlihat di Sekolah Dasar Negeri 1 Kepek, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sekolah ini, kondisi bangunan yang memprihatinkan justru menjadi ancaman bagi keselamatan siswa dan guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Advertisement
Dari total 12 ruang kelas yang dimiliki, lima di antaranya saat ini dalam kondisi rusak berat dan tidak lagi layak digunakan. Bahkan, satu ruang perpustakaan dilaporkan telah ambruk sejak satu tahun lalu.
Kepala SD Negeri 1 Kepek, Marsum, mengungkapkan bahwa kerusakan bangunan terjadi di sejumlah titik dan terus memburuk seiring waktu.
“Kerusakan sudah terjadi sejak lama. Perpustakaan itu sudah ambruk sekitar setahun lalu. Untungnya kejadian malam hari, jadi tidak ada korban,” ujar Marsum, Sabtu (18/4).
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi pada ruang kelas lainnya. Tiga ruang kelas bahkan sudah tidak digunakan selama lebih dari tiga tahun karena atap bocor dan struktur bangunan yang lapuk.
“Yang tiga ruangan itu sudah lebih dari tiga tahun tidak dipakai. Kondisinya bocor dan atapnya sudah tidak aman,” jelasnya.
Sementara itu, ruang kelas 6 mengalami kerusakan cukup parah pada Februari 2026 lalu, saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
“Kelas 6 itu bulan Februari kemarin gentingnya ambrol saat hujan. Kondisinya langsung tidak bisa dipakai,” kata Marsum.
Belajar di Mushala
Akibat keterbatasan ruang, pihak sekolah terpaksa melakukan berbagai penyesuaian darurat. Siswa kelas 6 dipindahkan ke ruang kelas 2, sedangkan siswa kelas 2 harus belajar di mushala sekolah dengan beralaskan karpet.
“Kami terpaksa memindahkan kelas. Kelas 6 sekarang di ruang kelas 2, sedangkan kelas 2 belajar di mushala. Anak-anak belajar pakai karpet,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ruang kelas 1 yang kini digabung dengan perpustakaan juga dalam kondisi memprihatinkan karena tidak lagi memiliki plafon.
“Kelas 1 digabung dengan perpustakaan, tapi plafonnya sudah tidak ada. Jadi kondisinya memang sangat terbatas,” imbuh Marsum.
Meski berada dalam keterbatasan, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Sebanyak 148 siswa bersama 14 guru dan tenaga kependidikan terus berupaya menjalankan proses pendidikan semaksimal mungkin.
Marsum mengakui, awalnya pihak sekolah hanya melakukan perbaikan ringan secara swadaya. Namun, karena faktor usia bangunan yang sudah tua dan kondisi cuaca yang kerap ekstrem, kerusakan justru semakin meluas.
“Awalnya kami perbaiki ringan saja. Tapi karena bangunan sudah tua dan cuaca juga, akhirnya banyak yang tidak bisa dipertahankan dan malah ambruk,” jelasnya.
Berharap Pertolongan Pemerintah
Ia berharap pemerintah dapat segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi sekolah tersebut, mengingat keselamatan siswa menjadi prioritas utama.
“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah untuk perbaikan. Yang utama itu keselamatan anak-anak saat belajar,” Pungkasnya.