Liputan6.com, Jakarta - Dalam setahun Hijriah, terdapat beberapa waktu yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Di antara waktu-waktu tersebut, ada empat bulan yang disebut dengan Asyhurul Hurum atau bulan-bulan haram. Pertanyaan yang sering muncul, bulan haram dalam Islam ada berapa?
Pertanyaan ini relevan karena keistimewaan dan kemuliaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi SAW.
Advertisement
Ebook Keutamaan Asyhurul Hurum yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menjelaskan bahwa pemahaman tentang keutamaan bulan-bulan haram perlu dilakukan secara utuh dan tidak parsial, agar tidak menimbulkan persepsi bahwa suatu bulan tertentu jauh lebih utama dibanding bulan lainnya, termasuk bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.
Lantas, berapa bulan haram dalam Islam, bulan apa saja, mengapa disebut demikian, serta amalan apa yang dianjurkan? Berikut penjelasan lengkapnya, merujuk Ebook Keutamaan Asyhurul Hurum, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, Jurnal Asyhur Al-HUrum Menurut Perspektif Al-Qur’an (Studi Komparatif antara Mutawalli Al-Sya’rawi dan Sayyid Quthb) dan Relevansinya Saat Ini, Sayyida, serta sumber relevan lainnya.
Jumlah Bulan Haram dalam Islam
Secara bahasa, Asyhurul Hurum berasal dari kata asyhur (jamak dari syahr, berarti bulan) dan hurum (jamak dari haram, berarti yang dimuliakan atau yang dilarang). Istilah ini merujuk pada bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, di mana umat Islam dilarang melakukan peperangan dan perbuatan maksiat di dalamnya.
Terdapat empat bulan haram dalam Islam. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa." (QS. At-Taubah [9]: 36)
Ayat ini menyebutkan secara umum bahwa ada empat bulan haram, tetapi tidak menyebutkan nama-namanya secara spesifik. Penjelasan lebih rinci mengenai nama-nama bulan tersebut terdapat dalam hadis Nabi SAW.
Nama-Nama 4 Bulan Haram
Berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empat di antaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari empat bulan itu secara berurutan yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga sebagai syahru Mudhar) terletak di antara dua Jumadil (Jumadil Ula dan Jumadil Tsani) dan Sya'ban." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, keempat bulan haram tersebut adalah:
- Dzulqa'dah (bulan ke-11 Hijriah)
- Dzulhijjah (bulan ke-12 Hijriah)
- Muharram (bulan ke-1 Hijriah)
- Rajab (bulan ke-7 Hijriah)
Tiga bulan pertama (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram) letaknya berurutan, sementara Rajab berdiri sendiri di antara Jumadil Akhir dan Sya'ban.
Penjelasan Ulama tentang Bulan Haram
Para ulama tafsir terkemuka memberikan penjelasan mengenai keempat bulan ini. Imam al-Qurthubi dalam kitab Tafsir al-Qurthubi (8/134) menjelaskan bahwa larangan menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan haram berarti tidak melakukan segala maksiat yang dapat merusak nilai-nilai kemuliaan dan keagungan yang terdapat dalam bulan tersebut.
Al-Qurthubi juga menegaskan bahwa keempat bulan yang dimaksud adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menegaskan bahwa Allah mengistimewakan empat bulan ini dengan menjadikannya suci. Dosa-dosa yang dilakukan dalam bulan haram dilipatgandakan beratnya, sementara amal saleh mendapatkan ganjaran yang lebih besar.
Hal ini juga sejalan dengan pendapat Mutawalli al-Sya'rawi dan Sayyid Quthb yang menyatakan bahwa pelanggaran terhadap kehormatan bulan haram akan berdampak pada dirusaknya jaminan keamanan yang diberikan pada waktu tersebut, terutama terkait dengan pelaksanaan ibadah haji.
Kenapa Disebut Bulan Haram?
1. Larangan Berperang
Dinamakan "haram" karena pada bulan-bulan tersebut dilarang melakukan peperangan dan perbuatan keji. Jika pada masa Jahiliah bentuk penghormatannya dengan larangan perang, maka pada masa Islam keistimewaannya dilengkapi dengan berbagai ganjaran pahala berlipat bagi amal saleh yang dilakukan.
Larangan perang pada bulan haram sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan terus dijaga oleh bangsa Arab pra-Islam. Mereka menghentikan peperangan selama bulan-bulan tersebut untuk menciptakan ketenangan, terutama karena pada bulan-bulan itu berlangsung persiapan dan pelaksanaan ibadah haji.
Dalam kondisi perang yang berkepanjangan, bangsa Arab Badui membutuhkan jeda untuk menyelesaikan hal-hal yang tidak bisa tersentuh dalam kondisi masyarakat yang tidak stabil. Karena itulah mereka menetapkan empat bulan sebagai masa gencatan senjata.
2. Pelipatgandaan Dosa dan Pahala
Allah SWT melarang manusia menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan haram. Larangan ini mengandung makna bahwa setiap perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut dosanya akan lebih besar di sisi Allah, sementara amal saleh yang dilakukan akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, menjelaskan bahwa pengagungan terhadap bulan-bulan haram adalah cerminan dari kemuliaan hati dan kesadaran spiritual seseorang, bukan sekadar bentuk simbolik.
3. Penghapusan Larangan Perang
Meskipun pada awalnya perang diharamkan secara mutlak pada bulan-bulan haram, larangan ini kemudian dihapus berdasarkan firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 36. Kaum muslimin diperbolehkan memerangi musuh yang memerangi mereka, namun tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian ketika musuh cenderung berdamai.
Keutamaan dan Amalan Masing-Masing Bulan Haram
1. Bulan Dzulqa'dah
Dzulqa'dah adalah bulan kesebelas dalam penanggalan Islam. Secara bahasa, Dzulqa'dah berarti "pemilik/penguasa gencatan senjata", karena pada saat itu bangsa Arab meniadakan peperangan. Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Dzulqa'dah termasuk dalam bulan-bulan haji bersama Syawal dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Allah SWT berfirman:
"(Musim) haji adalah beberapa bulan tertentu, barangsiapa yang memantapkan niatnya dalam bulan itu akan (untuk) mengerjakan haji..." (QS. Al-Baqarah [2]: 197)
Keutamaan Dzulqa'dah:
- Termasuk dalam bulan-bulan haji (asyhur al-hajj)
- Rasulullah SAW melaksanakan umrah pada bulan ini, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah RA
- Masa empat puluh malam perjanjian Allah dengan Nabi Musa terjadi pada malam-malam bulan Dzulqa'dah
Amalan yang Dianjurkan:
- Melaksanakan ibadah haji dan umrah – Sebagai salah satu bulan haji, amalan utama yang disyariatkan pada bulan ini adalah melaksanakan rangkaian manasik haji
- Memperbanyak puasa sunnah – Dianjurkan berpuasa di bulan-bulan haram, termasuk Dzulqa'dah. Rasulullah SAW bersabda: "Berpuasalah sebagian dari bulan hurum (Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram)." (HR. Abu Dawud)
- Meninggalkan kemaksiatan – Karena dosa pada bulan haram dilipatgandakan.
2. Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Dzulhijjah adalah bulan ke-12 Hijriah yang memiliki keutamaan luar biasa. Bulan ini menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji, termasuk wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Keutamaan Dzulhijjah:
- Sepuluh hari pertama adalah waktu paling mulia dalam setahun – Allah SWT bersumpah demi "malam yang sepuluh" dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2, yang menurut para mufasir merujuk pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah
- Tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah – Rasulullah SAW bersabda: *"Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah)."* Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Bukhari)
- Hari Arafah (9 Dzulhijjah) – Hari di mana puasanya dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang
- Hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) – Hari yang ditetapkan untuk bertaqarrub dengan takbir, tahmid, tahlil, dan penyembelihan hewan kurban
- Turunnya ayat kesempurnaan Islam – Pada bulan ini Allah menurunkan QS. Al-Ma'idah ayat 3 yang menyatakan bahwa agama Islam telah sempurna
Amalan yang Dianjurkan:
- Melaksanakan ibadah haji dan umrah – Puncak manasik haji dilakukan pada bulan ini
- Berpuasa pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) – Rasulullah SAW bersabda: "Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah akan menghapuskan (dosa) setahun yang telah lalu dan setahun sesudahnya." (HR. Muslim)
- Memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil – Dimulai setelah shalat Subuh pada hari Arafah hingga akhir hari Tasyriq. Kalimat yang dikumandangkan: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd." (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah)
- Melaksanakan shalat Idul Adha – Diperintahkan untuk dihadiri oleh seluruh komponen umat Islam, termasuk wanita dan anak-anak
- Berkurban (udhiyyah) – Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada satu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari nahar (hari penyembelihan) yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban)." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
3. Keutamaan Bulan Muharram
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini disebut sebagai Syahrullah (Bulan Allah) karena kemuliaannya.
Keutamaan Muharram:
- Puasa paling utama setelah Ramadhan – Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan yang disebut dengan Muharram." (HR. Muslim)
- Hari Asyura (10 Muharram) – Hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan umatnya dari kejaran Firaun. Puasa pada hari ini dapat menghapus dosa setahun yang lalu.
- Nabi Adam AS bertaubat kepada Allah – Pada hari Asyura, taubat Nabi Adam AS diterima oleh Allah SWT
Amalan yang Dianjurkan:
- Puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) – Rasulullah SAW menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram untuk membedakan dengan tradisi umat Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10. Puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun yang telah lalu.
- Memperbanyak puasa sunnah secara umum – Puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriah), dan puasa Daud sangat dianjurkan karena pahalanya dilipatgandakan
- Bersedekah dan memperbanyak amal kebaikan.
4. Bulan Rajab
Rajab adalah bulan ketujuh dalam kalender Hijriah. Bulan ini berdiri sendiri di antara Jumadil Akhir dan Sya'ban. Disebut juga sebagai Rajab Mudhar karena dinisbatkan kepada kabilah Mudhar yang sangat komitmen menjaga kehormatan bulan ini.
Keutamaan Rajab:
- Termasuk dalam empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT
- Pada masa Jahiliah, bangsa Arab sangat memuliakan Rajab dengan menghentikan pertempuran dan melaksanakan ritual penyembelihan serta memberi makan orang-orang
- Rajab sering disebut sebagai bulan "menanam", di mana amal-amal yang dilakukan menjadi dasar bagi bulan Sya'ban dan Ramadhan
- Peringatan Penting: Para ulama, termasuk Dr. Muhammad Yusran Hadi dari Persis, menegaskan bahwa tidak ada hadis shahih yang menjelaskan keutamaan khusus atau amalan khusus di bulan Rajab. Semua hadis yang mengkhususkan amalan tertentu pada bulan Rajab dinilai dha'if (lemah) atau bahkan maudhu' (palsu).
Amalan yang Dianjurkan:
Karena tidak ada amalan khusus yang disyariatkan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh secara umum, sebagaimana pada bulan-bulan lainnya, seperti,
- Puasa sunnah (Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, puasa Daud)
- Shalat-shalat sunnah (Rawatib, Dhuha, Tahajud, Witir)
- Memperbanyak doa, zikir, dan istigfar
- Membaca Al-Qur'an
- Bersedekah dan berbuat baik kepada sesama
- Memperbanyak doa dan amal kebaikan secara umum, bukan menambah ritual ibadah yang tidak memiliki dasar.
People also Ask:
4 bulan haram dalam Islam bulan apa saja?
Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Disebut "haram" bukan karena sesuatu yang dilarang, tetapi karena bulan-bulan ini dimuliakan.
Bulan apa saja yang haram dalam Islam?
Bulan-bulan Haram, juga dikenal sebagai Al-Ashhur Al-Hurum, adalah empat bulan dalam kalender lunar Islam: Dzul-Qa'dah 9 Mei 2024, Dzul-Hijjah 8 Juni 2024, Muharram 7 Juli 2024, dan Rajab 13 Januari 2024. Bulan-bulan ini dianggap suci dan dihormati bahkan sebelum kedatangan Islam.
Bulan apa saja yang diharamkan dalam Islam?
Admin. JAKARTA, MUI. OR.ID – Umat Islam saat ini tengah berada di masa istimewa dalam kalender Hijriyah, yaitu bulan-bulan haram. Dalam ajaran Islam, keempat bulan tersebut Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab diberi kedudukan suci yang tidak setara dengan waktu-waktu lain dalam setahun.
4 bulan haram dalam Al Quran surat apa?
“Bulan Dzulqadah termasuk satu di antara empat bulan haram yang diharamkan (disucikan) oleh Allah. Ini disebutkan dalam Alquran, tepatnya di Surah At-Taubah ayat 36,” ujar Habib Nabiel saat dihubungi tim MUIDigital, Kamis (1/4/2025).