Obat Diabetes Kerap Jadi Kambing Hitam Perusak Ginjal, Pakar Luruskan Mitosnya

Benarkah obat diabetes bisa rusak ginjal? Simak penjelasan pakar.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 17 April 2026, 17:00 WIB
Ketua Umum PB Perkeni Prof Em Yunir luruskan mitos obat diabetes sebabkan masalah ginjal, Jakarta (17/4/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Obat diabetes kerap jadi kambing hitam dalam terjadinya komplikasi ginjal. Padahal, menurut Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Profesor Em Yunir, biang keroknya bukan obat.

“Ingat bukan obatnya yang menyebabkan komplikasi tetapi diabetes yang tidak terkontrol,” kata Em Yunir dalam temu media di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Em Yunir tak memungkiri, pertanyaan soal obat diabetes dan kaitannya dengan kerusakan ginjal kerap muncul. Faktanya, diabetes adalah penyakit jangka panjang (kronis) yang umumnya berlangsung seumur hidup.

Obat memang dapat membantu terapi diabetes tapi tujuan pengobatan bukan untuk menyembuhkan secara instan, melainkan mengontrol kadar gula darah agar tetap stabil.

Sedangkan, kunci utama pengelolaan diabetes adalah mengatur pola makan sesuai kebutuhan kalori (misalnya 1.500 kalori per hari, bukan berlebihan hingga 2.500 kalori), menjaga berat badan ideal serta konsisten menjalani gaya hidup sehat.

“Jika pasien terus mengikuti anjuran medis, kondisi diabetes bisa dikendalikan dengan baik, bahkan berpotensi kembali normal (remisi). Namun jika kembali tidak disiplin, risiko diabetes akan muncul lagi,” tambahnya.

Yunir juga menjawab mitos lain terkait diabetes hanya dialami orang dengan obesitas. Menurutnya, anggapan ini tak sepenuhnya benar. Pasalnya, orang dengan berat badan normal atau kurus juga bisa mengidap diabetes.

“Berat badan berlebih memang menjadi salah satu faktor utama pemicu diabetes. Lemak tubuh yang berlebihan dapat memicu kondisi inflamasi, yang berperan dalam munculnya resistensi insulin. Dalam beberapa kasus, dengan mengatasi obesitas, kondisi diabetes juga bisa membaik secara signifikan,” katanya.

Diabetes Tak Hanya Serang Usia di Atas 50 Tahun

Sementara, anggapan yang dinilai benar-benar keliru menurut Yunir adalah diabetes hanya terjadi pada usia di atas 50 tahun.

“Ini tidak benar. Di zaman dulu, sebagian besar pasien diabetes memang berusia 50 tahun ke atas. Namun sekarang, tren telah berubah drastis.”

Ia mengatakan, kini sudah banyak usia muda 20 tahunan yang mengalami diabetes. Bahkan anak usia 10–12 tahun sudah mulai ditemukan kasus diabetes tipe 2.

“Risiko memang meningkat seiring bertambahnya usia. Tapi diabetes kini bisa terjadi pada siapa saja. Perubahan gaya hidup, pola makan, dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama peningkatan penyakit itu,” ujar dia dalam temu media bersama Kalbe.

Diabetes di Indonesia

Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Jumlah penyandang diabetes pada 2024, mencapai 20,4 juta orang dan menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan diabetes membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Selain itu, tren peningkatan kasus terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memperkuat urgensi intervensi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Bahkan berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah pada usia lebih dari 15 tahun mencapai 11,7 persen. Yang artinya ada 30 juta penderita diabetes di Indonesia tetapi yang baru terdiagnosis antara 10-15 juta pasien DM.

Peningkatan ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut. Perlahan tapi pasti, diabetes mulai menyerang orang berusia produktif hingga anak-anak. Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini. Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan tidak seimbang dapat memperburuk risiko. Oleh karena itu, edukasi masyarakat menjadi langkah penting dalam pengendalian diabetes.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya