Pembayaran Kripto Ancam Bank Besar Eropa, HSBC hingga Deutsche Bank Kena Imbas

HSBC dan Deutsche Bank disebut paling terdampak jika perusahaan beralih ke pembayaran kripto. Simak analisis lengkap dampaknya.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 17 April 2026, 12:00 WIB
Aset kripto Bitcoin, Altcoin, hingga Meme Coin. (Ilustrasi By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah bank besar Eropa seperti HSBC dan Deutsche Bank menghadapi potensi disrupsi dari meningkatnya penggunaan sistem pembayaran berbasis kripto.

Mengutip Todayq News, Jumat (17/4/2026), Analisis dari RBC Capital Markets  menyebutkan bank-bank dengan bisnis kuat di bidang pengelolaan kas korporasi dan pembayaran lintas negara dinilai paling rentan terhadap perubahan ini.

Adopsi teknologi blockchain dan aset digital oleh perusahaan multinasional berpotensi menggeser peran bank dalam sistem pembayaran global.

Layanan treasury korporasi—yang mencakup pembayaran internasional, transaksi valuta asing, hingga pengelolaan likuiditas—selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi bank-bank besar dunia.

Namun, kemunculan sistem pembayaran berbasis blockchain dan stablecoin mulai membuka peluang bagi perusahaan untuk melakukan transaksi tanpa melalui jalur perbankan tradisional.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Potensi Penurunan Pendapatan hingga 7 Persen

Bank HSBC ikut berpartisipasi di acara Indonesia Banking Expo (IBEX) 2015 di JCC, Jakarta, Kamis (10/9/2015). Sejumlah bank menawarkan beragam fasilitas untuk menarik pengunjung menabung di tempatnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dalam analisis tersebut, disebutkan bahwa bank seperti HSBC dan Deutsche Bank sangat bergantung pada pendapatan berbasis biaya dari layanan pembayaran korporasi.

Ketergantungan ini membuat keduanya lebih rentan dibandingkan bank lain yang lebih mengandalkan bisnis perbankan ritel atau manajemen kekayaan.

Jika adopsi pembayaran kripto oleh perusahaan semakin cepat, analis memperkirakan bank dapat kehilangan sekitar 7 persen pendapatan di segmen tersebut.

Perubahan ini didorong oleh sejumlah keunggulan teknologi kripto, seperti proses transaksi lintas negara yang lebih cepat, biaya yang lebih rendah, serta kemampuan melakukan transaksi di luar jam operasional perbankan.

Dengan kata lain, perusahaan kini memiliki alternatif yang lebih efisien dibandingkan sistem pembayaran konvensional yang selama ini dikelola bank.

 

Ancaman Sekaligus Peluang Baru bagi Bank

Meski membawa risiko, perkembangan pembayaran berbasis aset digital juga membuka peluang baru bagi industri perbankan.

Analis menilai bank yang mampu beradaptasi masih bisa mempertahankan relevansi dengan menawarkan layanan baru, seperti penyimpanan aset kripto (crypto custody), infrastruktur settlement berbasis stablecoin, hingga pengelolaan aset yang ditokenisasi.

Sejumlah bank global bahkan telah mulai menjajaki peluang ini, baik melalui pengembangan platform blockchain sendiri maupun bekerja sama dengan perusahaan fintech.

Meski demikian, laju adopsi kripto oleh korporasi masih belum pasti. Faktor seperti regulasi, kepatuhan, serta risiko operasional masih menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan dalam mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam sistem keuangan mereka.

Analisis ini menegaskan adanya perubahan besar dalam lanskap keuangan global, di mana model bisnis perbankan tradisional kini semakin bersinggungan dengan infrastruktur aset digital yang terus berkembang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya