Program MBG Ubah Paradigma Siswa Soal Pentingnya Edukasi Gizi

Berdasarkan studi kolaboratif bersama LabSosio Universitas Indonesia (UI), ditemukan bahwa aktivitas makan bersama di sekolah menciptakan rasa kebersamaan dan kebanggaan tersendiri bagi para siswa.

oleh Tim NewsDiterbitkan 16 April 2026, 18:23 WIB
Antusiasme Relawan SPPG di Hari Pertama Operasional Kembali MBG

 

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan dampak positif signifikan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama satu tahun tiga bulan.

Program ini terbukti berhasil meningkatkan kesehatan fisik siswa sekaligus mendongkrak tingkat kehadiran di sekolah.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengungkapkan bahwa anak-anak kini jauh lebih bersemangat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Jarang sekali anak yang sakit. Lebih semangat masuk sekolah,” ujar Gogot dalam konferensi pers "1 Tahun Perjalanan Makan Bergizi Gratis" di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Berdasarkan studi kolaboratif bersama LabSosio Universitas Indonesia (UI), ditemukan bahwa aktivitas makan bersama di sekolah menciptakan rasa kebersamaan dan kebanggaan tersendiri bagi para siswa.

Studi tersebut juga menyebut MBG sebagai layanan yang paling dinantikan di sekolah, terutama bagi siswa dari keluarga ekonomi rendah.

“Ada kebanggaan atau rasa kebersamaan ketika makan bersama di sekolah. Itu menjadi suatu dorongan mereka untuk lebih semangat untuk bersekolah,” tambahnya.

 

Peran Aktif Guru

Dapur Kebayunan mitra mandiri Badan Gizi Nasional (BGN) mampu memproduksi 16.203 paket Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap hari. (merdeka.com/Arie Basuki)

Selain aspek kehadiran, hasil quick assessment tahun 2025 menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap edukasi gizi. Perubahan ini tidak lepas dari peran aktif guru yang secara khusus memberikan pengetahuan mengenai asupan nutrisi seimbang kepada siswa setiap hari.

“Anak-anak sekarang sangat paham. Pada saat mereka makan setiap hari, melihat menu-menu yang memang idealnya seperti itu, mereka mulai bergeser paradigmanya,” jelas Gogot.

Uniknya, implementasi program ini juga masuk ke dalam ruang kelas secara kreatif. Gogot menceritakan bahwa sejumlah guru matematika memanfaatkan menu di dalam ompreng MBG sebagai media pembelajaran. Siswa kini memiliki kebiasaan menghitung kandungan gizi dari porsi makanan yang mereka terima.

“Guru matematika kerap memberikan pelajaran berdasarkan menu MBG. Para siswa punya kebiasaan menghitung kandungan gizi dari setiap menu yang ada di ompreng MBG,” pungkasnya.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya