Rupiah Menguat Tipis, Optimisme Geopolitik Jadi Pendorong Utama

Rupiah menguat tipis ke Rp 17.139 per dolar AS dipicu sentimen global membaik, namun tekanan eksternal masih membatasi penguatan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 April 2026, 17:20 WIB
Teller tengah menghitung mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan Kamis. Rupiah naik 4 poin atau 0,03 persen ke level Rp 17.139 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.143 per dolar AS.

Penguatan ini didorong oleh membaiknya sentimen global, khususnya terkait meredanya ketegangan geopolitik menjelang negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS.

“Dari sisi global, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS seiring meningkatnya optimisme terhadap meredanya ketegangan geopolitik serta ekspektasi kebijakan yang lebih akomodatif dari Federal Reserve,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (16/4/2026).

Meski demikian, Amru menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas. Tekanan eksternal dinilai belum sepenuhnya mereda sehingga membatasi apresiasi mata uang domestik.

 

Ketegangan Selat Hormuz Masih Jadi Risiko

Bank Indonesia (BI) juga menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini sejalan dengan pergerakan mata uang Asia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di tengah potensi meredanya konflik, situasi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar global. Jalur strategis tersebut mencakup sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.

Laporan menyebutkan Angkatan Laut AS mulai memblokade lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran sejak 13 April.

Pemerintah AS menyatakan kapal non-Iran tetap dapat melintas selama tidak membayar pungutan kepada Teheran. Namun, Iran disebut masih mempertimbangkan kebijakan tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menilai langkah blokade ini berpotensi mengganggu upaya gencatan senjata antara kedua negara.

Amru menambahkan, ketidakpastian terkait inflasi global, harga energi, serta sikap hati-hati investor masih menjadi faktor yang membatasi penguatan rupiah.

 

Faktor Domestik dan Tekanan Pasar

Petugas menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (9/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat jeda siang ini kian terpuruk di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid. Hal ini didukung oleh cadangan devisa yang memadai serta kebijakan Bank Indonesia yang responsif.

Namun, arus modal asing yang masih berhati-hati serta tingginya kebutuhan likuiditas dolar AS di pasar domestik turut menahan penguatan rupiah.

Menurut Amru, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Hal ini terjadi meskipun indeks dolar AS berada di level terendah dalam enam pekan terakhir, yang menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat.

“Selain itu, dominasi sentimen global dan preferensi investor terhadap aset safe haven membuat penguatan rupiah cenderung terbatas dan rentan terhadap perubahan arah pasar,” ungkap Amru.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru tercatat melemah tipis ke Rp17.142 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya