Geopolitik Memanas, Ibas: Perkuat Peran Negara dan Kedaulatan Energi

Ibas menuturkan, konflik global, mulai dari kawasan Timur Tengah hingga Eropa Timur, berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 16 April 2026, 09:38 WIB
Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Peran Negara dalam Tata Kelola Sektor Migas Nasional” di Kompleks DPR RI Jakarta pada 13 April 2026 (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menegaskan pentingnya memperkuat peran negara dalam menghadapi dinamika global, sekaligus memastikan kedaulatan energi nasional tetap terjaga di tengah tekanan geopolitik dunia. Menurut dia, isu migas hari ini tidak dapat dilepaskan dari situasi global yang penuh ketidakpastian.

“Hari ini kita ingin berbicara tentang migas, seperti apa yang saya sampaikan tadi, yang sesungguhnya kita sedang berbicara tentang ketahanan bangsa kita,” ujar Ibas, Kamis (16/4/2026).

Ibas menuturkan, konflik global, mulai dari kawasan Timur Tengah hingga Eropa Timur, berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia. Jalur strategis seperti Selat Hormuz menjadi krusial, di mana sekitar 25 persen distribusi energi global melewati kawasan tersebut.

"Kondisi ini turut memicu tekanan harga energi dan inflasi yang dirasakan hampir di seluruh negara, termasuk Indonesia," jelas dia.

Wakil Ketua Umum Fraksi Partai Demokrat ini pun mengingatkan, ketidakstabilan energi global tidak hanya berdampak pada sektor energi semata, tetapi juga merambat ke sektor pangan, logistik, hingga beban fiskal negara. Ia menegaskan, Energi bukan hanya soal BBM, tetapi juga menyangkut LPG, distribusi pangan, hingga biaya hidup masyarakat.

"Oleh karena itu, ia mendorong agar kebijakan energi tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga memperhatikan perlindungan sosial masyarakat melalui bantalan ekonomi yang tepat sasaran," wanti dia.

Ibas pun menegaskan, mengacu pada Pasal 33 UUD 1945, negara tidak boleh hanya menjadi regulator, melainkan harus hadir sebagai pelindung, pengarah, dan pengelola sumber daya alam. Ia mengingatkan, tanpa peran negara yang kuat, ketimpangan dapat terjadi.

"Mengutip pandangan ekonom dunia, ia menyampaikan, Pasar tanpa regulasi akan melahirkan ketimpangan, serta pentingnya kedaulatan negara dalam menentukan posisi dalam perdagangan global," beber Ibas.

 

Beri Catatan

Ibas pun memberi catatan sejumlah fokus utama sebagai langkah strategis ke depan. Berikut sejumlah poinnya:

1.Produksi migas nasional saat ini masih belum optimal dan perlu didorong melalui investasi serta eksplorasi yang lebih agresif.

2.Nilai ekonomi yang secara utuh harga BBM itu sendiri dan bagaimana subsidi harus tepat sasaran agar kebijakan subsidi tidak menimbulkan distorsi maupun kelangkaan di masyarakat.

3.Perkuat BUMN energi dengan harapan perusahaan energi nasional dapat menjadi pemain utama yang kuat dan kompetitif di tingkat global

4. Membangun cadangan energi nasional dengan menekankan pentingnya ketahanan cadangan energi di tengah meningkatnya kebutuhan domestik.

5.Bersama mengawal percepatan transisi energi, termasuk pengembangan energi baru terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, dan energi air.

Sebagai informasi, paparan disampaikan Ibas dalam acara bersama Fraksi Partai Demokrat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Peran Negara dalam Tata Kelola Sektor Migas Nasional” di Kompleks DPR RI Jakarta, pada 13 April 2026.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya