Liputan6.com, Jakarta - Sebuah studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris mengungkapkan dampak mengkhawatirkan dari penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap kemampuan kognitif manusia.
Mengutip Engadget, Jumat (17/4/2026), penelitian bertajuk "AI assistance reduces persistence and hurts independent performance" ini menyoroti bagaimana teknologi tersebut secara perlahan mengikis kemandirian dan daya tahan mental penggunanya.
Advertisement
Dalam laporan tersebut, para peneliti menegaskan bahwa meskipun AI mampu mendongkrak performa secara instan, terdapat "biaya kognitif" yang sangat mahal di baliknya.
Hanya dalam waktu sepuluh menit penggunaan, subjek penelitian cenderung menjadi dependen, yang berujung pada penurunan performa dan gejala burnout (kelelahan mental) segera setelah akses terhadap AI dicabut.
Penelitian ini memfokuskan pada pekerjaan kognitif intensif seperti menulis, pemograman (coding), dan pencarian ide (brainstorming). Eksperimen awal melibatkan 350 partisipan asal AS yang diminta menyelesaikan serangkaian soal matematika berbasis pecahan.
Metodologi penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok.
- Kelompok Terbantu: Diberikan akses ke chatbot khusus berbasis GPT-5.
- Kelompok Mandiri: Menyelesaikan soal tanpa bantuan teknologi.
Memasuki pertengahan ujian, akses AI pada kelompok pertama diputus secara tiba-tiba. Hasilnya mengejutkan: terjadi penurunan drastis pada jumlah jawaban benar.
Tak hanya itu, banyak peserta dari kelompok AI yang langsung menyerah sebelum menyelesaikan tugas mereka. Fenomena serupa kembali terulang dalam eksperimen lanjutan yang melibatkan 670 orang dengan materi pemahaman bacaan.
"Saat AI diambil, orang-orang tidak sekadar memberikan jawaban yang salah. Mereka bahkan tidak mau mencoba tanpa bantuan AI. Daya tahan (persistence) mereka merosot tajam," ujar Rachit Dubey, asisten profesor di University of California sekaligus salah satu penulis studi tersebut.
Ancaman Terhadap Inovasi dan Pendidikan
Dubey memperingatkan adopsi AI yang terlalu cepat di sektor pendidikan berisiko menciptakan generasi yang tidak menyadari potensi asli mereka. Hal ini dikhawatirkan akan mendilusi inovasi dan kreativitas manusia di masa depan.
Studi ini mengibaratkan dampak AI seperti fenomena "katak rebus". Penggunaan AI yang terus-menerus mengikis motivasi dan ketekunan yang sebenarnya merupakan motor penggerak pembelajaran jangka panjang.
Efek ini terakumulasi secara perlahan, sehingga ketika dampaknya mulai terlihat secara nyata, kerusakan tersebut akan sulit untuk diperbaiki.
Dampak di Dunia Kerja
Meski hasilnya cenderung suram, peneliti menemukan satu catatan positif. Peserta yang menggunakan AI hanya sebagai alat pemberi petunjuk atau klarifikasi memiliki kemampuan adaptasi yang jauh lebih baik saat AI dicabut, dibandingkan mereka yang menggunakan bot untuk langsung memberikan jawaban.
Di sisi lain, fenomena ini menambah daftar panjang kekhawatiran terkait kesehatan mental pekerja. Istilah "AI brain fry" atau kelelahan otak akibat AI mulai muncul di kalangan pekerja full-time.
Ironisnya, riset menunjukkan bahwa karyawan yang menggunakan AI justru berakhir bekerja lebih keras dan lebih lama dibandingkan mereka yang bekerja secara konvensional.
Dampak di Sektor Pendidikan
Dampak paling nyata terlihat di dunia pendidikan. Berbagai studi sebelumnya telah menemukan bahwa ketergantungan pada chatbot di sekolah berkontribusi pada buruknya perkembangan sosial dan intelektual siswa.
Anak-anak yang mengandalkan AI cenderung mendapatkan hasil ujian yang lebih buruk dibandingkan mereka yang belajar secara mandiri.
Hingga saat ini, naskah penelitian tersebut masih dalam tahap menunggu tinjauan (peer-reviewed), namun temuan ini menjadi peringatan serius bagi para pengembang teknologi dan pengambil kebijakan di seluruh dunia.