Liputan6.com, Jakarta - Pemkab atau Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten menargetkan luas tambah tanam (LTT) 157 ribu hektare pada 2026, sehingga dapat menyumbangkan untuk ketersediaan pangan nasional.
Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar, pihaknya bekerja keras dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencapai target LTT seluas 157 ribu hektare, sehingga dapat memberikan ketersediaan pangan nasional.
Advertisement
Saat ini, pihaknya berkolaborasi dengan petugas penyuluh lapang (PPL) dari Kementerian Pertanian, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan lainnya.
"Sebab, saat ini Kabupaten Lebak masuk daerah lumbung pangan di Banten, sehingga target LTT seluas 157 ribu hektare bisa terealisasi," ujar Rahmat, melansir Antara, Kamis (16/4/2026).
Karena itu, pihaknya mengapresiasi angka LTT sampai 14 April 2026 seluas 44 ribu hektare atau 22 persen dari 157 ribu hektare tersebut.
"Jika tercapai LTT itu bisa menghasilkan gabah panen sekitar 700 ribu lebih ton dan jika dikalkulasikan pangan mencapai 440 ribu ton setara beras," terang Rahmat.
Produksi Beras Dipastikan Surplus
Menurut Rahmat, dari produksi beras 440 ribu ton dipastikan surplus, karena penduduk Kabupaten Lebak 1,5 juta jiwa dan membutuhkan konsumsi beras 180 ribu ton per tahun
Dengan demikian, kata dia, produksi beras Kabupaten Lebak surplus 260 ribu ton, sehingga bisa menyumbangkan ketersediaan pangan nasional.
"Kami berharap LTT dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) tiga kali musim tanam dengan luas sawah baku 51 ribu hektare itu," ucap Rahmat.
Ia mengatakan,untuk menghadapi Godzilla El Nino atau kemarau ekstrem, sehingga lokasi rawan kekeringan agar dilakukan pemasangan pompanisasi dan perbaikan irigasi serta embung untuk memenuhi ketersediaan pasokan air.
Selain itu, kata Rahmat, juga petani dapat menggunakan benih varietas tahan kekeringan di antaranya Inpari 32, Inpari 42, atau Inpago 8, karena varietas tersebut memiliki daya adaptasi yang lebih baik di lahan dengan ketersediaan air terbatas, sehingga dengan pengaturan waktu tanam dan teknik budidaya yang tepat, produksi padi di sawah tadah hujan tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau.
"Kita sudah melakukan langkah antisipatif menghadapi kekeringan mulai dari pemetaan lokasi rawan kekeringan hingga penguatan sistem peringatan dini (early warning system) juga optimalisasi pengelolaan air melalui irigasi, pompanisasi dan irigasi untuk percepatan tanam di berbagai sentra produksi," tutup Rahmat.